Senin, 22 Oktober 2012

PEMBERIAN OBAT


BAB  I I

PEMBAHASAN


A. UNDANG-UNDANG DAN STANDAR OBAT


     1. STANDAR OBAT                                                                       

Perangkat Standar obat yang dipakai di Amerika serikat adalah United states Pharmacopeia pada tahun 1820.
US Pharmacopeia ( UPS ) dan National Formulary ( NF ) adalah sumber yang berwenan g dalam standar obat dimasa kini, di revis setiap 5 tahun oleh sekelompok ahli dalam keperawatan, farmasi, farmakologi, kimia dan mikrobiologi.
Obat-obat yang termasuk dalam dalam buku ini telah memenuhi satndar yang tinggi dalam penggunaan terapeutik, keamanan klien, kualitas, kemurnian, kekuatan , keamanan, kemasan dan bentuk dosisnya. Obat-obat yang memenuhi standar ini memiliki USP setelah nama resminya,International Pharmacopeia, pertama kali diterbitkan pada tahun 1951 oleh WHO, berisi tentang dasar dari standar untuk kekuatan dan komposisi dalam penggunaanannya di seluruh dunia diterbitkan dalam bahasa Inggris, Spanyol, dan perancis. Direvisi setiap 5 tahun.
Dokter, Perawat dan ahli Farmasi menggunakan standar obat untuk memastikan klien menerima obat yang alami dalam dosis yang aman dan efektif. Standar yang diterima masyarakat harus memenuhi criteria berikut :
1. Kemurnian. Pabrik harus memenuhi standar kemurnian untuk tipe dan konsentrasi zat    lain yang diperbolehkan dalam produksi obat.
2. Potensi. Konsentrasi obat aktif dalam preparat obat memengaruhi kekuatan atau potensi obat.
3. Bioavailability. Kemampuan obat untuk lepas dari bentuk dosisnya dan melarut, diabsorbsi , dan diangkut tubuh ketempat kerjanya disebut bioavailability.
4. Kemanjuran. Pemeriksaan laboratorium yang terinci dapat membantu menentukan efektivitas obat.
5. Keamanan. Semua obat harus terus dievaluasi untuk menentukan efek samping obat tersebut


2. UNDANG –UNDANG DAN KONTROL.

       Di Amerika Serikat, perundang undangan yang mengatur tentang obat dimulai dengan dikeluarkanya pare food and drag act (Undang-undang makanan dan obat murni). Pada tahun 1906. Undang-undang tersebut menfokuskan perhatian dan kemurnian makanan, tetapi harusmenetapkan standar resmi obat.
       Hukum yang mengatur tentang obat di Negara bagian harus sesuai dengan undang-undang federal. Negara bagian dapat menentukan control tambahan, termasuk pengontrolan zat yang tidak diatur oleh pemerintah federal. Sebagai contoh, pemerintah local dapat mengatur penjualan dan penggunaan alcohol dan tembakau.
       Peraturan federal Negara bagian, dan daerah mempengaruhi praktik keperawatan, termasuk penatalaksanaan pengobatan. Praktik keperawatan Negara bagian menetapkan undang-undang dan mengatur batasan lingkup dan fungsi serta tanggung jawab seorang perawat professional. UU ini merupakan pernyataan kebjakan gabungan yang dibuat oleh asosiasi perawat, dokter, dan rumah sakit Negara bagian. UU praktik keperawatan melindungi masyarakat dari perawat yang tidak terampil berpendidikan rendah, dan tidak memiliki lisensi.
       Sebelum menerima tanggung jawab dalam member obat intravena, perawt harus berhati-hati terhadpa kebijakan administrative yang berlaku di insitusi tempat perawat tersebut bekerja. Karena suntkan intravena dapat menimbulkan efek samping yang serius.
       Perawat bertanggung-jawab mengikuti ketentuan hokum saat memberikan zat terkontrol (controlled sibtance) (obat mempengaruhi pikiran atau perilaku) yang hanya dapat dikeluarkan jika diresepkan. Pelanggaran terhadap controlled substances act dihukum dengan dikenakan denda, dipenjarakan, dan izinnya sebagai perawat dicabut. Rumah sakit dan intitusi perawatan lain memiliki kebijakan tentang penyimpangan dan pendistribusian zat terkontrol yang benar, termasuk narkotik.

Undang- undang obat di Amerika Serikat

1.) Tahun 1906 . Pure Food and Drug Act.
      Merancang standart resmi obat-obatan , menspesipikasikan pelabelan obat.

2.) Tahun 1912 Sherley Amandement
Melarang pabrik membuat klaim yang curang tentang kemanjuran dan efek terapeutik      obat.

3.) Tahun 1914 Harrison Narcotic Act.
Secare resmi mengklasifikasikan obat-obatan yang diyakini membentuk kebiasaan    seperti narkotik, mengatur pemasokan , pembuatan, penjualan dan penggunaan zat narkotik.

4.) Tahun 1938 Federal Food, Drug, and Cosmetic Act
Menambahkan Homeopphatic Pharmacopeia Of the United States sebagai standar obat ketiga, mewajibkan preparat obat diakui aman oleh Food and Drug Administration sebelum dipasarkan, menguraikan criteria lebih lanjut pelabelan obat.

5.) Tahun1945 Amandement to the Food and Drug Act
Memberi sertifikasi uintuk produk biologis yang digunakan sebagai obat ( missal : insulin, antibiotic ) berdasarkan kelompok tertentu , mengizinkan .

6.) Tahun 1952 Durham – Humprey
      Membedakan obat resep ( legenda ) dari obat tanpa resep.

7.) Tahun 1962 Amandement Kefauver – Harris
Memberi FDA kuasa untuk menyelia produksi obat untuk menjamin keamanan dan  kemamnjuran dan menetapkan nama obat yang resmi, memberi control yang lebih besar terhadap obat-obatam yang diselidiki.

8.) Tahun 1970. Comprehensive Drug Abuse Prevention and Control Act.
Menetapkan control yang ketat terhadap pembuatan dan distribusi obat yang dikontrol ( kepemilikan zat yang dikontrol secara tidak sah tanpa resep ). Menetapkan program pemerintah untuk meningkatkan pencegahan dan penanganan ketergantungan obat

Di indonesia undang-undang kesehatan no. 23 tahun 1992

Bab I ketentuan umum., pasal 1

Pada baris ke 12 tentang Zat Adiktif adalah bahan yang penggunaannya dapat menimbulkan ketergantungan fisik.
Pada Baris ke 13 tentang Pekerjaan Ke Farmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan pengadaan, penyimpanan dan distribusi obat. Pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat, dan obat tradisional.
·         Perawat harus mengetahui peraturan yang memengaruhi penatalaksanaan pengobatan di  area praktik mereka.
·         Sebelum menerima tanggung jawab dalam memberi obat intravena, perawat harus berhati-hati terhadap kebijakan administrative yang berlaku di institusi tempat perawat tersebut bekerja. Karena suntikan intravena dapat menimbulkan efek samping yang serius, perawat yang melaksanakan fungsi ini harus berkualitas, telah mengikuti dan memiliki pendidikan dan pengalaman terkait.
·         Perawat bertanggung jawab mengikuti ketentuan hokum saat memberikan zat terkontrol (obat yang memengaruhi pikiran atau perilaku), yang hanya dapat dikeluarkan jika diresepkan. Pelanggaran terhadap Controlled Substances Act dihukum dengan dikenakan denda, dipenjarakan dan ijinnya sebagai perawat dicabut. Rumah sakit dan institusi perawatan kesehatan lain memiliki kebijakan tentang penyimpanan dan pendistribusian zat terkontrol yang benar, termasuk narkotik
3. PENGGUNAAN OBAT NON TERAPEUTIK.

Meskipun ada control hukum , beberapa orang menggunakan obat bukan untuk tujuan yang benar. Penggunaan obat secara tidak bijaksana menimbulkan masalah kesehatan yang serius bagipengguna, keluarga dan komunitasnya. Pada masa lalu penggunaan yang keliru ( misuse ) atau penyalah gunaan obat ( drug abuse ) berhubungan dengan penggunaan untuk memperolehn efek terapeutik, misalnya untuk meredakan rasa nyeri atau menurunkan rasa cemas, Saat ini ada faktor lain seperti tekanan teman sebaya, rasa ingin tahu, dan pencarian kesenangan merupakan motivator penggunaan obat yang tidak terapeutik. Obat-obat tersebut seperti heroin, kokain, dan alcohol.
Perawat memiliki kewajiban etis dan hukum untuk memahami masalah individu yang menyalahkangunakan obat. Ketika merawat klien yang di duga menyalahgunakan obat atau mengalami ketergantungan obat, perawat harus menyadari nilai dan sikap mereka sendiri terhadap penggunaan secara sengaja zat yang berpotensi berbahaya.
Perawat tidak dapat membangun hubungan yang terapeutik dengan klien, jika nilai-nilai pribadinya menghambatnya menerima atau memahami kebutuhan klien.
Perawat harus memiliki pengetahuan tentang perubahan fisik, psikologi, dan social akibat penyalahgunaan obat, sehingga perawat dapat mengidentifikasi klien yang memili9ki masalah dengan obat.
Pedoman Pemberian dan Kontrol Narkotik yang Aman
·         Simpan semua narkotik di dalam lemari atau kotak yang aman dan terkunci
·         Perawat bertanggung jawab membawa perangkat kunci.
·         Pergantian jadwal dinas harus benar-benar dilakukan untuk perhitungan jumlah
·         bat narkotik yang tersisa , dan disertai tanda tangan oleh perawat yang bertanggung jawab pada saat itu.
·         Apabila perhitungan jumlah narkotik tidak sesuai segera laporkan
·         Gunakan catatan inventaris khusus setiap kali narkotik dikeluarkan
·         Catatan digunakan untuk mendokumentasi nama klien, tanggal, waktu pemberian dan dosisi obat serta tanda tangan perawat yang mengeluarkan obat.
·         Format menjelaskan perhitungan akurat narkotik yang digunakan dan sisanya.
·         Adanya saksi sewaktu salah satu perawat memberikan narkotik kepada klien, dan bila ada sisa dosis, maka saksi tersebut yang mencatatnya.
Istilah yang dikaitkan dengan Penggunaan Obat Nonterapeutik
·         Penyalahgunaan
Pola maladaptive penggunaan zat diindikasikan oleh setidaknya salah satu hal berikut dalam periode 12 bulan :
- Kembali menggunakan zat yang mengakibatkan kegagalan dalam memenuhi kewajiban   peran utama di tempat bekerja, disekolah atau dirumah.
- Kembali menggunakan zat dalam situasi yang membahayakan secara fisik
- Terlibat kembali dalam masalah hokum
- Tetap menggunakan zat walaupun terus memiliki masalah interpersonal atau social yang diakibatkan atau diperburuk oleh efek zat
·         Ketergantungan
Sedikitnya tiga dari pernyataan berikut terjadi dalam periode 12 bulan :
- Zat seringkali dikonsumsi dalam jumlah lebih besar selama periode waktu yang lebih panjang daripada yang diinginkan individu tersebut.
- Keinginan kuat satu kali atau lebih berupaya mengurangi atau mengontrol penggunaan zat, tetapi tidak berhasil
- Meluangkan banyak waktu untuk mendapatkan, menggunakan zat, atau menjadi pulih dari efek zat.
- Gejala intoksikasi atau putus zat sering muncul ketika klien diharapkan dapat memenuhi kewajiban peran utamaditempat kerja, disekolah atau dirumah.
- Aktivitas social, pekerjaan atau rekreasi yang penting tidak dilakukan atau berkurang akibat penggunaan zat.
- Terus menggunakan zat walaupun ia sadar dirinya memiliki masalah social, psikologis atau fisik yang tetap atau berulang, yang diakibatkan atau diperburuk oleh penggunaan zat
- Toleransi terhadap zat nyata, semakin meningkatkan jumlah zat untuk mencapai intoksikasi atau efek yang diinginkan, atau pada penggunaan berlanjut dalam jumlah sama, efek zat tidak timbul.




B. NOMENKLATUR DAN BENTUK OBAT


Suatu obat, atau medikasi, adalah zat yang digunakan dalam diagnosis, terapi, penyembuhan, penurunan atau di gunakan untuk pencegahan penyakit.
Anggota tim kesehatan menggunakan istilah obat dan medikasi untuk maksud yang sama, sedangkan orang awam biasanya mengartikan medikasi sebagai obat.

a.Nama – Nama Obat

Setiap obat mempunyai beberapa nama. Nama kimia menjelaskan struktur kimia dari obat. Sebuah obat dapat memiliki empat nama berbeda. Nama kimia member gambaran komposisi obat. Salah satu contoh nama kimia ialah asam asetilsalisilat yang biasa disebut sebagai aspirin. Nama generic diberikan oleh pabrik yang pertama kali mempoduksi obat tersebut sebelum mendapat izin dr FDA dan hal ini dilindungi hokum. Aspirin dan verapamilhidro klorida adalah contoh nama generic. Undang-undang federal pada tahun 1962 mewajibkan setiap obat diberi sebuah nama resmi. Nama resmi obat adalah nama obat dalam publikasi resmi, missal dalam United States Pharmaciea (USP). Sebuah nama obat generic seringkali menjadi nama resmi, missal pada kasus aspirin. Nama dagang, nama merk atau nama pabrik adalah nama yang digunakan pabrik dalam memasarkan obat. Sebuah obat generic dapat memiliki nama dagang yang berbeda.
Nama generic merupakan nama obat " resmi " atau nama obat yang tidak hanya di miliki oleh pihak tertentu. Nama ini tidak dimiliki oleh suatu perusahaan farmasi ( obat ) tertentu dan diterima secara universal. Kini kebanyakan obat di resepkan dalam nama generic.
Nama dagang, nama merk, atau nama pabrik adalah nama yang digunakan pabrikdalam memasarkan obat, sebuah obat generikedapat memiliki nama dagang yang berbeda. Nama dagang memiliki symbol ® di sebelah kanan atas nama obat,yang mengindikasikan bahwa obat terdaftar .
Karena ada begitu banyak nama nama dagang untuk satu nama nama generic, maka nama generic diberikan terlebih dulu dalam huruf kecil, kemudian baru di ikuti dengan nama dagang yang paling umum dipakai didalam tanda kurung.
Dengan nama generic, nama akan menjadi lebih panjang dan sulit untuk disebutkan , nama dagang biasanya di mulai dengan huruf besar


b.Klasifikasi

Pemberi perawatan mengkatagorikan obat yang karakteristiknya sama berdasarkan klasifikasi obat tersebut. Klasifikasi obat mengindikasikan efek pada system tubuh, gejala yang di hilangkan atau efek yang di inginkan.
Setiap golongan berisi obat yang di programkan untuk jenis masalah kesehatan yang sama. Komposisi fisik dan kimia obat dalam satu golongan tidak selalu sama, sebuahn obat dapat memiliki lebih dari satu golongan, contoh Asam mefenamat merupakan obat analgesic, antipiratik dan anti inflamasi
Perawat harus mengetahui karakteristik umum obat dalam setiap golongan. Setiap golongan obat memiliki implikasi keperawatan untuk pemberian dan pemantauan yang tepat.




c.Bentuk Obat
     Obat tersedia dalam berbagai bentuk atau preparat, bentuk obat menentukan rute  pemberian obat.
·         Kaplet
Bentuk dosis padat, untuk pemberian per oral, bentuk seperti kapsul dan bersalut sehingga mudah di telan.
·         Kapsul
Bentuk dosis padat, untuik pemberian per oral, obat dalam bentuk bubuk, cairan, atau minyak dan di bungkus oleh selongsong gelatin, kapsul diwarnai untuk membantu identitas produk.
·         Eliksir
Cairan jernih berisi air dan atau alcohol, dirancang untuk penggunaan obat per oral, biasanya ditambah pemanis.
·         Tablet enteric bersalut
Tablet untuk pemberial per oral, yang dilapisi bahan yang tidak larut dalam lambung, lapisan larut di dalam usus, tempat obat diabsorpsi.
·         Ekstrak
Bentuk obat pekat yang dibuat dengan memindahkan bagian aktif obat dari komponen lain obat tersebut ( misalnya , eksdtrak cairan adalah obat yang di buat menjadi larutan dari sumber sayur-sayuran.)
·         Gliserit
Larutan obat yang dikombinasi dengan gliserin untuk penggunan luar, berisi sekurang-kurangnya 50 % gliserin.
·         Obat gosok ( liniment )
Preparat biasanya mengandung alcohol , minyak, atau pelembut sabun yang diolesi pada kulit
·         lotion
Obat dalam cairan, suspensi yang dioles pada kulit untuk melindunginya.
·         Salep
Semisolid (agak padat ), preparat yang dioles pada kulit, biasanya mengandung satu atau lebih obat.
·         Pasta
Preparat semisolid, lebih kental dan lebih kaku daripada salap, diabsorpsi melalui kulit lebih lambat daripada salap
·         Pil
Bentuk dosis padat berisi satu atau lebih obat, di bentuk ke dalam bentuk tetesan, lonjong atau bujur, pil yang sesungguhnya jarang digunakan karena telah digantikan dengan tablet.
·         Larutan
Preparat cairan yang dapat digunakan per oral, parenteral, ataua secara eksternal, dapat juga dimasukan kedalam organ atau ronnga tubuh ( missal irigasi kandung kemih ) berisi air dan mengandung satu atau lebih senyawa terlarut, harus steril dalam penggunaan parentral.
·         Supositoria
Bentuk dosis padat yang dicampur dengan gelatin dan dibentuk dalam bentuk peluru untuk dimasukan kedalam rongga tubuh ( rectum atau vagina ), meleleh saat mencapai suhu tubuh , melepas obat saat di absorpsi.
·         Suspensi
Partikel obat yang dibelah sampai halus dan larut dalam media cair, saat dibiarkan partikel berkumpul dibagian bawah wadah, umumnya merupakan obat oral dan tidak diberikan per intra vena.
·         Sirup
Obat yang larut dalam larutan gula pekat, mengandung perasa yang membuat obat terasa lebih enak.
·         Tablet
Bentuk dosis bubuk yang dikompresi kedalam cakram atau silinder yang keras, selain obat utama mengandung zat pengikat ( perekat untuk membuat bubuk menyatu ), zat pemisah ( untuk meningkatkan pelarutan tablet ), lubrikan ( supaya mudah dibuat pabrik ) dan zat pengisi ( supaya ukuran tablet cocok )
·         Cakram atau lempeng transdermal
Obat berada dalam cakram(disk) atau patch membrane semipermeabel yang membuat obat dapat diabsorpsi perlahan-lahan melalui kulit dalam periode waktu yang lama
·         Tingtura Alkohol atau larutan obat Tablet isap ( troche, lozenge )
Bentuk dosis datar, bundar, mengandung obat , cita rasa , gula, dan bahan perekat cair, larut dalam mulut untuk melepas obat


C. SIFAT KERJA OBAT

Obat bekerja menghasilkan efek terapeutik yang bermanfaat. Sebuah obat tidak menciptakan suatu fungsi didalam jaringan tubuh atau organ, tetapi mengubah fungsi fisiologis. Obat dapat melindungi sel dari pengaruh agens kimia lain,meningkatkan fungsi sel, atau mempercepat atau memperlambat proses kerjasel. Obat dapat menggantikan zat tubuh yang hilang ( contoh; insulin, hormon tiroid, atau esterogen)

a.Mekanisme Kerja
Obat menghasilakan kerja dengan mengubah cairan tubuh atau membran sel atau dengan berinteraksi dengan tempat reseptor. Obat – obatan, misalnya gas anestesi umum, berinteraksi dengan membrane membran sel. Setelah sifat sel berubah, obat mengeluarkan pengaruhnya. Mekanisme kerja obat yang paling umum ialah terikat pada tempat reseptor sel. Reseptor melokalisasi efek obat. Tempat reseptor berinteraksi dengan obat karena memiliki bentuk kimia yang sama. Obat dan reseptor saling berikatan seperti gembok dan kuncinya.Ketika obat dan reseptor saling berikatan, efek terapeutik dirasakan. Setiap jaringan atau sel dalam tubuh memiliki kelompok reseptor yang unik. Misalnya, reseptor pada sel jantung berespon terhadap preparat digitalis.

b.Farmakokinetik
Farmakokinetik adalah  ilmu tentang cara obat masuk kedalam tubuh, mencapai tempat kerjanya, dimetabolisme, dan keluar dari tubuh, mencapai tempat kerjanya, dimetabolisme, dan keluar darii tubuh. Dokter dan perawat menggunakan pengetahuan farmakokinetiknya ketika memberikan obat, memilih rute pembarian obat, menilai risiko perubahan kerja obat, dan mengobservasi respons klien.

c.Absorpsi
Absorpsi adalah cara moolekul obat masuk ke dalam darah. Kebanyakan ibat, kecuali obat yang digunakan secar topical untuk  memperoleh efek local harus masuk kedalam sirkulasi sistematik untuk menghasilakn efek yang terapeutik. Fakto – factor yang mempengaruhi absorpsi obat antara lain rute pemberian obat, daya larut obat, dan kondisi di tempat absorpsi.
Setiap rute pemberian obat memiliki pengaruh yang berbeda pada absorpsi obat, bergantung pada struktur fisik jaringan. Kulit relatif tidak dapat ditembus zat kimia, sehingg absorpsi menjadi lambat. Membran mukosa dan saluran nafas mempercepat absorpsi akibat vaskularitas yang tinggi pada mukosa dan permukaan kapiler-alveolar. Karena obat yang diberika per oral harus melewati system pencernaan untuk diabsorpsi, kecepatan absorpsi secara keseluruhan melambat. Injeksi intravena menghasilkan absorpsi yang paling cepat karena dengan rute ini obat dengan cepat masuk ke dalam sirkulasi sistematik.
 Kondisi di tempat absorpsi mempengaruhi kemudahan obat masuk ke dalam sirkulasi sistematik. Apabila kulit tergores, obat topical lebih mudah diabsorpsi. Obat topical yang biasanya diprogramkan untuk memperoleh efek local dapat menimbulkan reaksi yang serius ketika diabsorpsi melalui lapisan kulit. Adanya edema pada membrane mukosa memperlambat absorpsi obat karena obat membutuhkan waktu lama untuk berdifusi ke dalam pembuluh darah. Absorpsi obat parental yang diberikan bergantung pada suplai darah dalam jaringan. Sebelum memberikan sebuah obat melalui injeksi, perawat harus mengkaji adanya factor local, misalnya edema, memar atau jaringan parut bekas luka, yang dapat menurunkan  yang paling cepat absorpsi obat. Karena otot mempunyai suplai darah yang lebih banyak daripada jaringan subkutan (SC), obat yang diberikan per intramuscular (melalui otot) diabsorpsi lebih cepat daripada obat yang disuntikan per subkutan. Pada beberapa kasus , absorpsi subkutan yang lambah lebih dipilih karena menghasilkan efek yang dapat bertahan lama. Apabila perfusi jaringan klien buruk, misalnya pada kasus syok sirkulasi, rute pemberian obat yang terbaik ialah melalui intravena. Pemberian obat intravena menghasilkan absorpsi yang paling cepat dan dapat diandalkan,
Rute pemberian obat diprogramkan dan perawatan kesehatan. Perawat dapat meminta obat diberikan dalam cara atau bentuk yang berbeda, berdasarkan pengkajian fisik klien. Contoh bila klien tidak dapat menelan tablet maka perawat akan meminta obat dalam bentuk eliksir atau sirup. Pengetahuan tentang factor yang dapat mengubah atau menurunkan absorpsi obat membantu perawat melakukan pemberian obat dengan benar. Makanan didalam saluran cerna dapat mempengaruhi Ph, motilitas, dan pengankutan obat ke dalam saluran cerna. Kecepatan dan luas absorpsi juga dapat dipengaruhi oleh makanan. Perawat harus mengetahui implikasi keperawatan untuk setiap obat yang diberikan. Contohnya, obat seperti aspirin, zat besi, dan fenitoin natrium ( Dilantin) mengiritasi saluran cerna dan harus diberikan bersama makanan atau segera setelah makan. Oleh karena itu, obat – obatan tersebut harus diberikan satu sampai dua jam sebelum makan atau dua sampai tiga jam setelah makan. Sebelum memberikan obat, perawat harus memeriksa buku obat keperawatan, informasi obat, atau berkonsultasi dengan apoteker rumah sakit mengenai interaksi obat dan nutrien.

d.Distribusi
Setelah diabsorpsi, obat didistribusikan di dalam tubuh ke jaringan dan organ tubuh dan akhirnya ke tempat kerja obat tersebut. Laju dan luas distribusi bergantung pada sifat fisik dan kimia obat dan struktur fisiologis individu yang menggunakannya.

 D. Berat dan Komposisi Obat

                     Ada hubungan langsung antara jumlah obat yang diberikan dan jumlah jaringan  tubuh tempat obat didistribusikann. Kebanyakan obat diberikan berdasarkan berat dan komposisi tubuh dewasa. Perubahan komposisi tubuhbdapat memengaruhi distribusi obat secara bermakna. Contuh tentang berat dan komposisi tubuh dewasa. Perubahan komposisi tubuhbdapat memengaruhi distribusi obat secara bermakna. Contoh tentang hal ini dapat ditemukan pada klien lansia. Karena penuan, jumlah cairan tubuh berkurang, sehingga obat yang dapat  larut dalam air tidak didistribusikan dengan baik dan konsentrasinya meningkat di dalam darah klien lansia. Peningkatan presentase lemak tubuh secara umum ditemukan pada klien lansia, membuat kerja obat menjadi lebih lama karena distribusi obat di dalam tubuh lebih lambat. Semakin kecil berat badan klien, semakin besar konsentrasi obat di dalam jaringan tubuhnya, dan efek obat yang dihasilkan makin kuat. Lansia mengalami penurunan massa jaringan tubuh dan tinggi badan dan sering kali memerlukan dosis obat yang lebih rendah daripada klien yang lebih muda.
a. Sistem Penghitungan dan Volume Obat
1. Sistem metrik
Sistem desimal berdasar kelipatan 10. Unit dasar dari pengukuran adalah gram (g, gm, G, Gm) untuk berat; liter (l,L) untuk volume; dan meter (m, M) untuk pengukuran linera atau panjang. Unit metrik yang paling sering dipakai dalam penulisan obat adalah:
1 g = 1000 mg
1 L = 1000 mL
1 mg= 1000 µ (mkg)
Untuk dapat mengkonversi suatu jumlah, satu dari nilai-nilai harus diketahui, seperti gram atau miligram, liter atau mililiter, dan miligram atau mikrogram. Gram, liter, dan meter adalah unit yang lebih besar; miligram, mililiter, dan milimeter adalah unit yang lebih kecil.
2. Sitem farmasi
Menggunakan angka romawi dan tidak memakai angka arab untuk menyatakan jumlah, dan angka romawi diletakkan setelah simbol singkatan untuk unit pengukuran. Angka romawi dituliska dengan huruf kecil, contohnya grx berarti 10 grains. dalam sistem farmasi, unit berat adalah grain (gr) dan unit volume cairan adalah ounce (fluidounce), dram (fluidram) dan minim(min).
3. Sistem rumah tanggah
Pengukuran tidak setepat sistem metrik atau farmasi, pengukuran bersifat kira-kira. Satu sendok the (t) dianggap ekuivalen dengan 5 mL menurut USP resmi. Ingat bahwa mililiter (mL) adalah sama dengan cc (centimeter cubik). 3 sendok the setara dengan 1 sendok makan.
b. Penghitungan Larutan
Suatu massa zat padat yang larut dalam suatu volume cairan lain yang diketahui (g/mL, g/L, mg/mL). Larutan 10% = 10 g zat padat yang dilarutkan dalam 100 mL larutan. Larutan 1 : 1000 = larutan yang mengandung 1 g zat padat dlm 1000 mL cairan / 1 ml cairan dalam 1000 mL cairan lain.
c. Penghitungan Dosis Anak
Pemberian dosis obat pada anak memerlukan suatu pertimbangan yang seksama terhadap perbedaan antara anak dan orang dewasa sehubungan dengan farmakokinetika dan farmakologi obat. Seorang anak selalu mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan dan dalam proses ini selalu akan terjadi perubahan-perubahan dari waktu ke waktu. Selama masih dalam proses tumbuh dan kembang, fungsi organ dan keadaan seorang anak juga berkembang.Perbedaan komposisi tubuh dan kesempurnaan pertumbuhan hati dan fungsi ginjal merupakan sumber perbedaan yang potensial dalam farmakokinetika yang berhubungan dengan umur. Masalah pemakaian obat pada anak meliputi penentuan jenis obat, dosis, frekuensi, lama dan cara pemberian. Adapun berbagai pertimbangan pemakaian obat pada anak, yaitu:
1. Factor farmakokinetik : ADME
2. Pertimbangan dosis terapetik dan toksik, apakah obat termasuk lingkup terapi lebar atau   
3. Perhitungan dosis
4. Segi praktis pemakaian obat : cara pemberian, kebiasaan, ketaatan.
5. Pertimbangan Farmakokinetika
Penentuan dosis pada anak harus selalu individual. Dosis mengacu pada buku standar pediatri atau pedoman terapi, selain itu dapat juga melihat acuan pada kemasan yang ada pada obat tersebut. Jika tidak ditemukan informasi dosisnya, dapat dilakukan perhitungan dosis berdasarkan umur, berat badan, dan luas permukaan tubuh.Penentuan dosis pada anak harus selalu individual. Dosis mengacu pada buku standar pediatri atau pedoman terapi, selain itu dapat juga melihat acuan pada kemasan yang ada pada obat tersebut. Jika tidak ditemukan informasi dosisnya, dapat dilakukan perhitungan dosis berdasarkan umur, berat badan, dan luas permukaan tubuh.
a.       Berdasarkan umur (formula young) Dosis anak = dosis dewasa x (umur(tahun)/umur+12 tahun) Karena proses tumbuh kembang anak itu tidak sama pada anak-anak dalam kelompok umur yang sama, maka ketepatan dosis atas dasar umur juga diragukan.

b. Berdasarkan berat badan (formula Clark) Dosis anak = dosis dewasa x (berat badan(kg)/  70 kg)
c. Berdasarkan luas permukaan tubuh Dosis anak = dosis dewasa x (luas permukaan tubuh(m2)/1,73) Pada saat ini dianggap yang paling tepat karena ketimpangan antara dosis anak dan dosis dewasa lebih kecil.
d. Perhitungan dosis menurut formula Pincus Catzell
persentase dari dosis dewasa, yaitu :
Ø bayi baru lahir 12%
Ø 1-12 bulan 15-25 %
Ø 1-5 tahun 25-40 %
Ø 5-12 tahun 50-75%
cara ini sangat praktis, tetapi kelemahannya sama seperti pada yang berdasarkan umur.
Untuk pemilihan obat pada anak perlu diperhatikan dalam
a. Hindari pemberian anak obat-obatan yang diperuntukkan bagi orang dewasa meskipun dengan dosis kecil
b. Hindari pemberian obat dari resep dokter yang diberikan pada orang lain dan buka atas nama anak
c. Memberikan obat khusus yang ditujukan hanya untuk anak dengan kondisi yan g khusus pula
d. Untuk pemberian antibiotik pada anak harus tepat dosis dan durasinya. Orang tua diberi penjelasan pen tingnya melanjutkan pengobatan sesuai dengan waktu yang ditentukan dalam resep meskipun anak tampak sembuh. Dalam pembarian obat pada anak , sedian obat yang banyak disedian untuk anak dibuat dalam bentuk elitsir atau suspensi. Jika obat yang tersedia untuk anak dalam bentuk tablet sebaikya dihaluskan atau digerus terbi dahulu karena tablet yang dikunyah akan membuat anak tersedak, obat tertelan dan membuat tenggorokannya tersumbat. Jika obat diberikan melalui injeksi sebaiknya dilakukan di paha depan atau lengan atas jangan di pantat karena pada anak otot gluteusnya masih kecil dan di pantat terdapat syaraf yang menginervasi ekstermitas bawah yang dapat terjhadi kelumpuhan jka terjadi salah suntik. Sedangkan unuk waktu pemberian obat pada anak disesuaikan dengan dosis yang dintruksikan dokter. Orang tua anak juga harus diberitahu apakah harus membangunkan anak atau tidak untuk dosis setiap 6 jam pagi, siang dan malam. Untuk pemberian antibiotik pada anak harus tepat dosis dan durasinya. Orang tua diberi penjelasan pentingnya melanjutkan pengobatan sesuai dengan waktu yang ditentukan dalam resep meskipun anak tampak sembuh.
Setelah selesai pemberian obat perawat harus mengevaluasi terapi obat yang telah diberikan yang meliputi:
 a. Memantau kondisi umum dan tanda-tanda vital anak setelah selesai pemberian obat
 b. Perawat harus memantau secara ketat trhadap efek samping obat-obatan pada anak             karena fungsi ginjal dan hati yang belum matang
c.Lebih memperhatikan obat-obat yang proses m etabolismen ya denagn oksidasi dan hidrolisa karena waktu paruh penek sehingga cepat dimetabolisme dibandingkan dengan orang dewasa seperti barbital, fenitoin dan teofilin
d. Untuk anak-anak dengan pen yakit kronis, farmasetika, farmakokinetik dan farmakodinamik harus dipantau dan memperhatikan tumb uh kembang anak.

d. Macam-Macam Dosis
a.       Dosis Terapi : dosis yang diberikan dalam keadaan biasa dan dapat menyembuhkan si sakit
b.       Dosis Maksimum : dosis yang terbesar yangdapat diberikan kepada orang dewasa untuk pemakaian sekali dan sehari tanpa membahayakan.
c.       Dosis Toxic : obat yang tergolong racun ada kemungkinan terjadi keracunan.
d.      Dosis Lethal : Dosis toksik yang sampai mengakibatkan kematian (Joenoes, 2004).
e.       Inithial Dose atau Loading dose: Dosis obat untuk memulai terapi sehingga dapat mencapai konsentrasi terapeutik dalam tubuh yang Menghasilkan efek klinis.
f.       Loading dose : dosis tinggi ketika obat diberikan pada awal terapi pengobatan sebelum dilanjutkan ke terapi dosis yang lebih rendah
g.      Maintenance Dose : Dosis untuk memelihara dan mempertahankan efek klinik atau konsentrasi terapeutik obat yang sesuai dengan dosis regimen.
E. Dinamika Sirkulasi

                  Obat lebih mudah keluar interstial ke dalam ruang intravascular daripadadi antara kompartemen tubuh. Pembuluh darah dapat ditembus oleh kebanyakan zat yang dapat larut, kecuali oleh partikel obat yang besar atau berikatan dengan protein serum. Konsentrasi sebuah obat pada sebuah tempat tertentu bergantung pada jumlah pembuluh darah dalam jaringan, tingkat vasolidasi atau vasokontruksi local, dan kecepatan aliran darah ke sebuah jaringan. Latihan fisik, udara yang hangat, dan badan yang menggigil mengubah sirkulasi local. Contoh, jika klien melakukan kompres hangat pada tempat suntikn intramuscular, akan terjadi vasoliditas yang meningkatkan distribusi obat.

·         Ikatan protein

Derajat kekuatan ikatan obat dengan protein serum, misalnya albumin, memengaruhi distribusi obat. Kebanyakan obat terikat pada protein dalam tingkatan tertentu. Ketika molekul obat terikat pada albumin, obat tidak dapat menghasilkan aktivitas farmakologis. Obat yang tidak berikatan atau “bebas” adalah bentuk aktif obat. Lansia mengalami penurunan kadar albumin dalam aliran darah, kemungkinan disebabkan oleh penurunan fungsi hati. Hal yang sama terjadi pada klien yang menderita penyakit hati atau malnutrisi. Akibatnya, lansia dapat beresiko mengalami peningkatan aktivitas obat, toksisitas obat, atau keduanya.

·         Metabolisme
                  Setelah  mencapai tempat kerjanya, obat dimetabolisasi menjadi bentuk tidak aktif, sehingga lebih mudah diekskresi. Sebagian besar Biotransformasi berlangsung dibawah pengaruh enzim yang mendetoksifikasi, mengurai (memecah), dan melepas zat kimia aktif secara biologis. Kebanyakan biotransformasi berlangsung didalan hati, walaupun paru – paru, ginjal, darah, dan usus juga memetabolisasi obat.
Hati sangat penting karena strukturnya yang khusus mengoksidasi dan mengubah banyak zat toksi. Hati mengurai banyak zat kimia berbahaya sebelum didistribusi ke jaringan. Penurunan fungsi hati yang terjadi seiring penuaan atau disertai penyakit hati memengaruhi kecepatan eliminasi obat dari tubuh. Perlambatan metabolisme yang dihasilkan membuat obat terakumulasi didalam tubuh. Akibatnya klien lebih berisiko mengalami toksisitas obat. Apabila organ yang berpartisipasi dalam metabolisme obat mengalami perubahan, klien berisiko mengalami toksisitas obat


·         Ekskresi

Setelah dimetabolisme, obat keluar dari tubuh melalui ginjal, hati, usus, paru, dan kelenjar eksokrin. Struktur kimia sebuah obat menentukan organ yang mengekskresinya. Senyawa gas dan  senyawa volatile (zat yang mudah menguap), misalnya eter, dinitrogen monoksida, dan alcohol keluar melalui paru.
Kelenjar eksokrin mengekskresi obat larut lemak. Ketika obat keluar melalui kelenjar keringat, kulit dapat mengalami iritasi.
Saluran cerna adalah jalur lain ekskresi obat. Banyak obat masuk ke dalam sirkulasi hati untuk dipecah oleh hati dan diekskresi ke dalam empedu. Setelah zat kimia masuk ke dalam usus melalui saluran empedu, zat tersebut diabsorbsi kembali oleh usus. Faktor-faktor yang meningkatkan peristaltik, misalnya laksatif dan enem, mempercepat ekskresi obat melalui feses. Sedangkan factor-faktor yang memperlambat peristaltic, misalnya tidak melakukan aktivitas atau diet yang tidak tepat, memperpanjang efek obat.
Ginjal adalah organ utama ekskresi obat. Obat lain menjalani biotransformasi di hati sebelum diekskresi oleh ginjal.

·         Efek Terapeutik

Efek terapeutik merupakan respons fisiologis obat yang diharapkan atau yang diperkirakan timbul. Pengobatan tunggal dapat menghasilkan banyak efek yang terapeutik.

·         Efek samping

Efek samping ini mungkin tidak berbahaya atau bahkan menimbulkan cedera. Apabila efek samping cukup serius hingga menghilangkan efek terapeutik obat, dokter dapat menghentikan pemberian obat.

·         Efek Toksik
Umumnya, efek toksik terjadi setelah klien meminum obat berdosis tinggi dalam jangka waktu lama, setelah lama menggunakan obat yang ditujukan untuk aplikasi eksternal, atau setelah suatu obat berakumulasi di dalam darah akibat kerusakan metabolisme atau ekskresi. Satu dosis obat dapat menimbulkan efek toksik pada beberapa klien. Jumlah obat yang berlebihan di dalam tubuh dapat menimbulkan efek yang mematikan, bergantung pada kerja obat.

·         Reaksi Idiosinkratik
Obat dapat menyebabkan timbulnya efek yang tidak diperkirakan, misalnya reaksi idiosinkratik, yang meliputi klien bereaksi kelebihan, tidak bereaksi, atau bereaksi tidak normal terhadap obat.



·         Reaksi Alergi

Reaksi alergi adalah respons lain yang tidak dapat diperkirakan terhadap obat. Dari seluruh reaksi obat, 5% sampai 10% merupakan reaksi alergi. Apabila obat diberikan secara berulang kepada klien, ia akan mengalami respons alergi terhadap obat, zat pengawet obat, atau metabolitnya. Dalam hal ini obat atau zat kimia bekerja sebagai antigen, memicu pelepasan antibody.
Reaksi yang berat atau reaksi anafilaksis ditandai oleh konstriksi (pengecilan) otot bronkiolus, edema faring dan laring, mengi berat, dan sesak napas.

·         Toleransi terhadap Obat

Beberapa klien yang menerima obat dalam jangka waktu lama memerlukan dosis yang lebih tinggi untuk memperoleh efek yang sama. Klien yang menggunakan berbagai obat nyeri dapat mengalami toleransi setelah jangka waktu tertentu. Seringkali, setelah jangka waktu tertentu klien perlu meningkatkan dosis obat nyeri untuk meredakan nyeri.

·         Interaksi Obat
Interaksi obat umumnya terjadi pada individu yang menggunakan beberapa obat. Sebuah obat dapat menguatkan atau menghilangkan kerja obat lain dan dapat mengubah absorpsi, metabolisme, atau pembuangan obat tersebut dari tubuh. 
Dengan efek sinergis, kerja fisiologis kombinasi kedua obat tersebut lebih besar dari pada efek obat bila diberikan terpisah. Alcohol adalah depresan susunan saraf pusat yang memiliki efek sinergis pada antihistamin, antidepresan, berbiturat, dan analgesik narkotik.
Interaksi obat selalu diharapkan seringkali seorang dokter memprogramkan terapi obat kombinasi untuk menciptakan interaksi obat guna mendapatkan keuntungan terapeutik.

·         Respon Dosis Obat 
Tujuan suatu obat diprogramkan adalah untuk mencapai kadar darah yang konstan dalam rentang terapeutik yang aman.Dosis berulang diperlukan untuk mencapai konsentrasi terapeutik konstan suatu obat karena sebagian obat selalu dibuang (diekskresi). Konsentrasi serum tertinggi obat (konsentrasi puncak). Biasanya dicapai sesaat sebelum obat terakhir diabsorbsi.Setelah mencapai puncak, konsentrasi serum bertahap.Pada penginfusan obat intravena, konsentrasi puncak dicapai dengan cepat, tetapi kadar serum juga mulai turun dengan cepat.
Semua obat memiliki waktu paruh serum, yakni waktu yang diperllukan proses ekskresi untuk menurunkan konsentrasi seru sampai setengahnya.Dengan mengetahui interval waktu kerja obat, perawat dapat mengantisipasi efek suatu obat :
1.Awitan kerja obat.
2.Kerja puncak obat.
3.Durasi kerja obat.
4.Plateau

F.Faktor Yang Mempengaruhi Kerja Obat

   a.Perbedaan Genetic
                  Susunan genetil mempengaruhi biotransformasi obat. Pola metabolic dalam keluarga sering kali sama. Faktor genetic menentukan apakah enzim yang terbentuk secara alami ada untuk membantu penguraian obat. Akibatnya, anggota keluarga sensitive terhadap suatu obat.

   b.Variabel fisiologis
                  Perbedaan hormonal antara pria dan wanita mengubah metabolisme obat tertentu.Hormon dan obat salinh bersaing dalam biotransfornasi karena kedua senyawa tersebut terurai dalam proses metabolic yang sama. Variasi diurnal pada sekresi estrogen bertanggung jawab untuk fluktuasi siklik reaksi obat yang dialaami wanita. Usia berdampak langsung pada kerja obat.Sistem tubuh mengalami perubahan fungsi dan struktur yang mengbah pengaruh obat. Perawat harus berupaya untuk meminimalkan efek obat yang berbahaya dan meningkatkan kapasitas fungsi yang tersisa pada klien.
Pengaruh Kerja Obat Pada Lanjut Usia

    c. Kondisi lingkungan
                  Stres fisik dan emosi yang berat akan memicu respon hormonal yang pada akhirnya mengganggu metabolisme obat pada klien. Radiasi ion menghasilkan efek yang  sama dengan mengubah kecepatan enzim. Pada cuaca panas dosis vasodilator perlu dikurangi karena suhu yang tinggi meningkatkan efek obat. Cuaca dingin cenderung meningkatkan vasokontriksi, sehingga dosis vasodilator perlu ditambah
   d. Faktor psikologis
                  Sejumlah factor psilkologis mempengaruhi penggunaan obat dan respon tehadap obat.Sikap sesorang terhadap obat berakar dari pengalaman sebelumnya atu pengaruh keluarga. Makna obat atau signifikansi mengonsumsi obat mempengaruhi respon klien terhadap terapi. Sebuah obat dapat digunakan sebagi cara untuk mengatasi rasa tidak aman. Pada situasi ini, klien bergantung pada obat sebagai media koping dalam kehidupan. Sebaliknya jika klien kesal terhadap kondisi fisik mereka, rasa marah dan sikap bermusuhan dapat menimbulkan reaksi yang diinginkan terhadap obat.

     c. Diet
                  Interaksi obat dan nutrien dapat mengubah kerja obat atau efek nutrient. Contoh, vitamin K (terkandung dalam sayuran hijau berdaun) merupakan nutrient yang melawan efek warfarin nutrium (Coumadin), mengurangi efeknya maka mekanisme pembekuan darah. Minyak mineral menurunkan absorpsi vitamin larut lemak. Klien membutuhkan nutrisi tambahan ketika mengkonsumsi obat yang menuurunkan efek nutrisi. Menahan konsumsi nutrient tertentu dapat menjamin efek terapeutik obat.

G.  Rute Pemberian obat

a.Rute Oral

1.Pemberian Per Oral
      Rute oral adalah rute yang paling mudah dan paling umum digunakan. Obat diberikan melalui mulut dan di telan. Obat yang diberikan per oral lebih murah daripada banyak preparat lain. Awitan kerja obat oral lebih lambat dan efeknya lebih lama. Klien umumnya lebih memilih rute oral.
       2.Pemberian Sublingual
      Obat sublingual di rancang supaya, setelah diletakkan dibawah lidah tidak bleh ditelan.Bila ditelan efek yang diharapkan tudak akan tercapai.Nitrogliserin umumnya diberikan secara sublingual. Klien tidak boleh minum sampai seluruh obat larut.
       3.Pemberian bukal
      Pemberian obat melalui rute bukal dilakukan dengan menempatkan obat padat di membrane mukosa pipi sampai obat larut. Klien harus diajarkan untuk menempatkan dosis obat secara bergantian dipipi kanan dan kiri supaya mukosa tidak iritasi. Klien juga diperingatkan untuk tidak mengunyah atau menelan obat atau minum air bersama obat.
Keuntungan Pemberian Obat Rute Oral, Bukal, Sublingual
·         Rute ini cocok dan nyaman bagi klien\
·         Ekonomis
·         Dapat menimbulkan efek local atau sistemik
·         Jarang membuat klien cemas
Kerugian atau kontraindikasi
·         Rute ini dihindari bila klien mengalami perubahan fungsi saluran cerna, motilitas menurun dan reaksi bedah bagian saluran cerna
·         Beberapa obat dihancurkan oleh sekresi lambung
·         Rute oral dikontraindikasikan pada klien yang tidak mampu menelan (mis, klien yang mengalami gangguan neuromuscular, striktur (penyempitan) esophagus, lesi pada mulut.
·         Obat oral tidak dapat diberikan kepada klien yang terpasang pengisap lambung dan dikontraindikasikan pada klien yang akan menjalani pembedahan atau tes tertentu
·         Klien tidak sadar atau bingung, sehingga tidak mampu menelan atau mempertahankan dibawah lidah
·         Obat oral dapat mengiritasi lapisan saluran cerna, mengubah warna gigi atau mengecup rasa yang tidak enak.

b.Rute Parenteral

             Rute parenteral adalah memberikan obat dengan menginjeksinya kedalam tubuh jaringan tubuh. Pemberian parenteral meliputi empat tipe utama injeksi berikut :

1.      Subkutan (SC). Injeksi kedalam jaringan tepat dibawah lapisan dermis kulit.
2.      Intradermal (ID). Injeksi kedalam dermis tepat dibawah epidermis.
3.      Intramuscular (IM). Injeksi kedalam otot tubuh.
4.      Intravena (IV). Suntikan kedalam vena.

             Beberapa obat diberikan kedalam rongga tubuh selain empat tipe yang tertera diatas. Di beberapa institusi perawat mungkin bertanggung jawab memberikan obat dengan teknik yang maju ini. Baik memberikan obat melalui rute ini atau tidak, perawat tetap bertanggung jawab memantau keituhan system pemberian obat.


Berikut adalah pemberian obat yang canggih  dimana perawat memiliki tanggung jawab :

a.Epidural

  Obat diberikan di dalam ruang epidural via kateter yang telah di pasang  oleh perawat anestesi atau ahli anestesi. Perawat yang telah mendapat pelatihan khusus dapat membeikan obat dalam bentuk bolus atau melalui infuse kontinu.

     b.Intratekal

  Obat inratekal diberikan melalui kateter yang telah dipasang ke dalam ruang subaraknoid atau ke dalam salah satu ventrikel otak. Pemberian intratekal sering kali berhubungan dengan pemberian obat jangka panjang melalui kateter yang di pasang melalui pembedahan. Dibanyak institusi dokter biasanya memasukkan obat ke dalam kateter intravekal.

       c.Intraoseosa

  Metode pemberian obat ini dilakukan dengan memasukkan obat langsung kedalam sumsum tulang. Metode ini paling sering di gunakan pada bayi dan toddler yang akses pembuluh darahnya buruk. Metode ini paling sering digunakan pada kondisi kedaruratan dan akses IV tidak mungkin dilakukan. Dokter menginsersi jarumn intraoseosa ke dalam tulang, biasanya ke tibia, sehingga perawat dapat memberikan obat.

d.Intraperitonial

  Obat diberikan ke dalam rongga peritoneum. Di sini obat diabsorpsi ke dalam sirkulasi. Kemoterapi dan antibiotic biasanya diberikan dengan cara ini. Salah satu metode dianalisis juga menggunakan rute peritoneum untuk memindahkan cairan, elektrolit, dan produk limbah.

   e.Intrapleura

  Obat diberikan melalui dinding dada dan langsung ke dalam ruang pleura. Obat dimasukkan melalui sebuah injeksi atau selang dada yang diinsersi oleh dokter. Kemoterapi adalah obat yang paling sering diberikan melalui metode ini. Dewasa ini semakin banyak indikasi yang lebih baru untuk penggunaan metode ini. Salah satu indikasi tersebut ialah memasukkan agens analgesic melalui kateter intrapleura yang dirancang khusus (Martin dan Mehery,1994)

  f.Intraarteri

  Pada metode ini obat dimasukkan langsung ke dalam arteri. Infusi intraarteri umum dilakukan pada klien yang di dalam arterinya terdapat bekuan. Perawat akan mengatur pemasukan agens penghancur bekuan melalui infuse kontinu. Perawat harus dengan cermat memantau integritas infuse ini mencegah system tersebut putus akibat hati-hati dan perdarahan setelah itu.

c.Pemberian Topikal

                     Obat yang diberikan melalui kulit dan membrane mukosa pada prinsipnya menimbulkan efek local. Pemberian topical dilakukan dengan mengoleskannya di suatu daerah kulit, memasang balutan yang lembab, merendam bagian tubuh dalam larutan, atau menyediakan air mandi yang di campur obat. Efek sistemik timbul, jika kulit klien tipis, konsentrasi obat tinggi, atau juga obat bersentuhan dengan kulit dalam jangka waktu lama.
Obat diberikan secara topical dengan menggunakan cakram atau lempeng transdermal (contoh, nitrogliserin, skopolamin, fentanil, dan estrogen). Cakram melindungi salep obat pada kulit. Metode pengantaran obat ini menjamin klien menerima kadar obat secara kontinu dalam darahnya, bukan kadar yang terputus-putus, seperti yang terjadi pada pemberian obat dalam bentuk oral atau injeksi. Obat topical ini dapat di berikan sekurang-kurangnya 24 jam sampai 7 hari.
Perawat menggunakan metode di bawah ini dalam pemberian obat pada membrane mukosa:

1. Pemberian cairan secara langsung ( contoh, meminta klien berkumur, mengusap    tenggorok)
2. Insersi obat ke dalam rongga tubuh ( contoh, menempatkan supositorial pada rectum atau vagina atau menginsersi paket obat ke dalam vagina)
3. Instiilasi ( pemasukan lambt) cairan ke dalam rongga tubuh ( contoh, memasukkan tetes telinga, tetes hidung, dan memasukkan cairan ke dalam kandung kemih dan rectum)
4. Irigasi ( mencuci bersih) rongga tubuh ( contoh, membilas mata, telinga, vagina, kandung kemih, atau rektu dengan obat cair)
5. Penyemprotan ( contoh, memasukkan obat kedalam hidung dan tenggorokan.

d.Inhalasi

                    Saluran nafas bagian dalam memungkinkan area permukaan yang luas untuk absorpsi obat. Obat dapat diberikan melalui pasase nasal, pasase oral, atau selang yang di pasang ke dalam trakea.

         a. Inhalasi Nasal

           Obat diinhalasi melalui hidung menggunakan sebuah alat yang menghantar obat. Alat tipe semprotan, misalnya fenilefrin (Neo-Synephrine), yang menghasilkan efek local.

         b. Inhalasi Oral

         Inhalasi oral paling sering digunakan untuk menghantar obat ke sel target atau organism di parenkim paru. Obat selalu dihantar oleh alat yang dipegang di tangan klien. Obat yang diberikan menggunakan inhailer yang dipegang di tangan disebar melalui semprot aerosol, uap, atau bubuk yang masuk ke saluran udara di paru. Ibat untuk mengatasi infeksi paru, misalnya pneumocystis carinii, dapat diberikan dalam bentuk obat yang mebulisasi
Teknik yang digunakan klien pada pemberian obat inhalasi oral perlu dipantau, khususnya pada bayi atau lansia Pemberian Melalui Endotrakea atau Trakea
Dalam situasi kedaruratan, jika klien tidak terpasang selang intravena, beberapa obat darurat dapat diberikan melalui selang yang telah ditempatkan kedalam trakea klien.
Perawat yang turut dalam melakukan resusitasi secara khusus dilatih untuk memberikan obat dengan cara ini.
e.Intraokuler
         Pemberian dilakukan dengan menginsersi obat berbentuk cakram, yang mirip sebuah lensa kontak, kedalam mata klien Obat mata berbentuk cakram ini memiliki dua lapisan lunak luar yang didalamnya terdapat obat.Cakram diinsersi kedalam mata klien, sangat mirip lensa kontak Cakram dapat tetap didalam mata klien selama satu minggu Pilokarpin, obat yang digunakan untuk mengobati glaucoma, adalah cakram obat yang paling sering digunakan


H. Sistem Perhitungan Obat

                     Ketepatan pemberian obat bergantung pada kemampuan perawat menghitung dosis obat dengan akurat dan mengukur oba dengan benar. Kesalahan akibat kecerobohan dam menempatkan anka decimal atau menambah sebuah nol pada dosis obat dapat mengakibatkan kesalahan yang fatal. Perawat bertanggung jawab mengecek dosis obat sebelum memberikannya serta mengajari klien tentang dosis yang di programkan.

·                Ukuran rumah tangga
Ukuran rumah tangga meliputi tetesan,sendok the, sendok makan,dan cangkir.untuk volume dan ounce serta pound untuk berat.kerugian ukuran rumah tangga adalah ketidak akuratannya.karena perkakas rumah tangga ukurannya bervariasi.keuntungan ukuran rumah tangga adalah aspek kenyamanan dan mudah dikenali.
·                Larutan
    Suatu larutan adalah suatu massa zat padat yang larut dalam suatu volume cairan lain yang diketahui.apabila sebuah zat padat dilarutkan dalam cairan,satuan konsentrasinya adalah satuan bert per satuan volum(mis.g/ml,mg/L,mg/ml).

a.Mengonversi satuan ukuran

Pemberian obat bukan satu-satunya konversi yang dilakukan perawat.konversi juga banyak digunakan dalam aktivitas keperawatan.

  1.Konversi dalam satuan system
Pada system metric perawat secara sederhana membagi dan mengali.untuk mengubah milligram menjadi gramperawat membagi dengan 1000.(ex,1000mg =1g).untuk mengubah liter menjadi milliliter perawat mengalikannya dengan 1000.(1liter =1000ml)
Untuk mengonversi satuan ukuran dalam system apothecary atau rumah tangga,perawat harus melihat tabel konversi.



 2.Konversi antar system
       Seringkali perawat harus menentukan dosis akurat sebuah obat dengan mengubah berat atau volume dari satu system perhitungan kedalam system perhitungan lain. Sebelum membuat konversi ,perawat membandingkan system perhitungan yang tersedia dengan system yang diintruksikan.


b.Kalkulasi dosis
Perawat dapat menggunakan rumus sederhana dalam banyak tipe kalkulasi dosis . rumus berikut dapat digunakan ketika perawat mempersiapkan obat dalam bentuk padat atau cair.
Dosis yang diprogamkan x jumlah ang tersedia = jumlah yang akan diberikan

1.Dosis yang tersedia
Dosis yang dprogramkan adalah jumah obat yang murni yang diresepkan dokter untuk seorang klien.dosis yang teredia ialah berat atau volume obat yang tersedia dalam satuan yang disuplai oleh farmasi .jumlah yang tersedia ialah satuan dasar atau jumlah obat yang megandung dosis yang tersedia .
Banyak tablet yang tersedia berbentuk biji atau lekukan yang membagi tengah obat. Perawat tidak boleh pernah berusaha memperkirakan jumlah obat dalam tablet yang hancur dan tidak lagi berbentuk biji karena hal ini beresiko perawat memberikan obat dalam dosis yang sangat rendah atau terlalu tinggi.perawat harus selalu memeriksa kembali kalkulasi tersebut atau mengeceknya bersama professional lain,jika jawaban tampak tdak masuk akal.

2.Dosis pediatric
Pada kebanyakan kasus dokter menghitung dosis yang aman untuk anak sebelum memprogramkan obat. Namun perawat harus megetahui rumus yang digunakan untuk menghitung dosis pediatric dan memerika kembali semua dosis sebelum diberkan . metode perhitungan obat pediatric yang paing akurat berdasarkan pada area permukaan tubuh.
Dosis anak = area permukaan tubuh anak x dosis dewasa normal 1,7 m2


      c.Pemberian obat

1.Peran dokter
Dokter menulis instruksinya pada format yang telah dibuat dalam catatan medis klien,dalam buku instruksi dokter atau dalam kertas resep resmi. Perawat mencatatat dan menandatangani semua instruksi,baik yang diberikan per telepon maupun secara verbal dengan menulis waktu,tanggal dan nama dokter yang memberi instruksi obat dan kemudian dokter menendatangani instruksi tersebut. Ada berbagai kebijakan institusi tentang personel mana yang dapat menerima instruksi verbal atau per telepon. Umumnya,mahasiswa keperawatan tidak boleh menerima anstruksi obat. Tidak ada obat yang diberikan tanpa sebuah instruksi.

    Tipe instruksi
     Empat tipe umum instruksi obat didasarkan pada frekuensi pemberian obat.
·         Standing orders
Sebuah instruksi tetap(standing order) dilaksanakan sampai dokter menggantinya dengan instruksi baru atau sampai jumlah hari penggunaan obat yang diresepkan berlalu.standing order  mempunyai batas waktu. Banyak institusi memiliki kebijakan untuk secara otomatis menghentikan standing order .contoh standing order adalah:’’tetracyline 500mg PO q6h’’decadron 10 mg qd x 5 hari.’’
·         Instuksi PRN
Dokter dapat menginstuksikan sebuah obat berdasarkan PRN(ketika klien membutuhkannya). Seringkali dokter memerlukan interval minimal untuk waktu pemberian obat. Artimya,sebuahobat tidak boleh diberikan terlalu sering dari yang telah diprogramkan. Ketika obat diberikan,perawat menctat pengkajian yang telah dilakukan dan mencatat waktu obat dioberikan. Perawat harus mengavaluasi secara berkala keefektifan obat dan mencatat temuan di tempat yang seharusnya. Evaluasi ini di catat pada catatan pemberian obat atau pada catatan medis klien.
·         Instuksi tunggal
Dokter dapat menginstruksikan sebuah obat untuk diberikan hanya sekali pada waktu tertentu. Hal ini biasanya berlaku pada obat pra operasi atau obat yang diberikan sebelum pemeriksaan diagnostik.
·         Instruksi STAT
Sebuah instruksi STAT menandakan bahwa suatu dosis tunggal obat di berikan segera dan hanya sekali.seringkali  instruksi ini diberikan ketika kondisi klien tiba-tiba berubah.
Beberapa kondisi mengubah status instruksi obat klien. Tindakan operasi secara otomatis membatalkan semua obat operasi. Karena kondisi klien biasanya berubah pasca operasi,dokter harus menulis instruksi baru.

Peresepan
Dokter menulis resep untuk klien yang akan mrngonsumsi obat di luar rumah sakit. Karena klien harus memahami cara mengonsumsi obat dan kapan harus mengisi kembali resep,jika diperlukan.dibawah ini adalah bagian dari resep:

1.      superscription. Nama,alamat dan usia klien serta tanggal dicantumkan untuk mengidentifikasi klien.simbol R (Take Thou) di tulis di bagian atas format.
2.      inscription. Terdiri dari nama,kekuatan,dan dosis obat.
3.      subcription. Petunjuk tentang jumlah tablet atau jumlah yang akan dikeluarkan diberikan kepada ahli farmasi.
4.      tanda tangan. Informasi yang akan ditulis pada label obat ,misalnya petunjuk untuk klien.
5.      data pribadi. Dokter menendatangani resepapabila obat merupakan zat terkontrol,dokter menuliskan nomor registrasi dan almatnya.

2.Peran ahli farmasi

Ahli farmasi menyiapkan dan mendistribusikan obat yang diresepkan. Ahli farmasi juga meningkatkan terapi obat yang optimal dengan mengkaji rencana obat dan mengevaluasi kebutuhan klien yang berkaitan dengan pengobatan(American Pharmaceutical Association,1994). Ahli farmasi bertanggung jawab memenuhi permintaan resep dengan akurat dan harus yakin bahwa resep tersebut valid.


I.       Langkah-langkah Pemberian Obat Secara Umum Dan prinsip Pemberian Obat

a. prinsip Pemberian Obat
Pemberian obat harus dilakukan dengan akurat oleh perawat. Perawatan harus memberikan perhatian penuh dalam mempersiapkan obat dan sebaiknya tidak melakukan tugas lain ketika memberikan obat. Perawat menggunakan “ Lima Benar “ pemberian obat untuk menjamin pemberian ibat yang aman.
“ Lima Benar “ atau prinsip pemberian obat sebagai berikut:

      1.      Benar Obat
Apabila obat pertama kali diprogramkan perawat membandingkan tiket obat/format pencatatan unit-dosis dengan intruksi yang ditulis dokter. Ketika memberikan obat, perawat membandingkan label pada wadah obat dengan format/tiket obat.
Perawat melakukan ini 3 kali yaitu:
         Sebelum memindahkan wadah obat dari laci/lemari.
         Pada saat sejumlah obat yang diprogramkan dipindahkan dari wadahnya.
         Sebelum mengembalikan wadah obat ke tempat penyimpanan.
Dengan dosis tunggal, obat yang sebelumnya sudah dikemas, perawat memeriksa
label pada format obat 3 kali walaupun obat tersebut belum diambil dari wadah yang besar.
2.      Benar Dosis
Sistem unit-dosis didistribusi obat meminimalkan kesalahan karena kebanyakan obat tersedia dalam dosis yang sesuai.
Apabila sebuah obat harus disediakan dari volume atau kekuatan abad yang lebih besar atau lebih kecil dari yang dibutuhkan atau jika seorang dokter memprogramkan suatu system perhitungan obat yang berbeda dari yang disediakan oleh ahli farmasi, resiko kesalahan meningkat. Pada situasi ini, perawat harus memeeriksa perhitungan dosis yang dilakukan perawat lain.
3.      Benar Klien.
Langkah penting dalam pemberian obat dengan aman adalah menyakinkan bahwa obat tersebut diberikan pada klien yang benar. Perawat yang bekerja di rumah sakit atau lingkungan perawatan lain sering bertanggung jawab untuk memberika obat pada banyak klien.
Klien sering mempunyai nama akhir yang serupa, dan ini menyulitkan untuk mengingat setiap nama dan wajah, khususnya bila perawat bebas tugas sebelumnya sebelum beberapa hari. Untuk mengidetifikasi klien dengan tepat perawat memeriksa kartu, format, atau laporan pemberian obat yang dicocokan dengan gelang identifikasi klien dan meminta klien menyebutkan nama.
4.      Benar Rute
Apabila sebuah instruksi obat tidak emnerangkan rute pemberian obat, perawat mengonsultasikan kepada dokter. Demikian jadi bila rute pemberian obat bukan cara yang direkomendasikan, perawat harus segera mengingatkan dokter.
Saat melakukan injeksi, rute yang benar sangat penting. Juga sangat penting untuk menyiapkan injeksi hanya dari preparat yang ditetapkan untuk penggunaan parenteral. Menginjeksi cairan yang dirancang untuk penggunaan oral dapat menimbulkan implikasi. Misalnya obsess steril atau efek sistemik yang fatal.
5.      Benar waktu
Perawat harus mengetahui alas an sebuah obat diprogramkan untuk waktu tertentu dalam satu hari dan apakah jadwal tersebut dapat diubah. Contoh: diprogramkan dua obat, satu dengan ( setiap 8 jam ) dan yang lain tidak ( 3 kali sehari ). Kedua obat diberikan 3 kali dalam 24 jam. Tujuan doter meberikan obat denagn dalam hitungan jam ialah mempertahan kan kadar terapuritik obat. Perbedaannya obat tidak diberikan selama klien terjangkit. Setiap institusi memiliki rekomendasi jadwal waktu untuk obat yang harus diberikan dengan interval.
b.Pertimbangan Khusus Pemberian Obat Pada Kelompok Usia Tertentu
Tingkat perkembangan klien adalah faktor yang menentukan cara perawat memberikan obat. Pengetahuan tentang perkembangan klien membantu perawat mengantisipasi respons klien terhadap terapi obat.
1. Bayi dan Anak
Usia, berat badan,, area permukaan tubuh, dan kemampuan mengabsorbsi, dan mengekresi obat pada anak berbeda-beda.- Dosis untuk anak lebih rendah daripada dosis pada dewasa, sehingga perhatian khusus perlu diberikan dalam menyiapkan obat untuk anak. Obat biasanya tidak disiapkan dan dikemas dalam rentang dosis yang standarisasi untuk anak. Orang tua adalah sumber yang berharga dalam mempelajari cara terbaik pemberian obat pada anak Semua anak memerlukan persiapan psikologis khusus sebelum menerima obat. Supaya anak kooperatif, perawatan diperlukan yang suportif.
Perawat menjelaskan prosedur kepada anak, menggunakan kata-kata yang pendek dan bahasa yang sederhana, yang sesuai dengan tingkat pemahaman anak
Anak kecil yang menolak bekerjasama dan terus menolak , walaupun telah dijelaskan dan didorong mungkin perlu dipaksa secara fisik, apabila hal ini terjadi, lakukan dengan cepat dan hati-hati.jika anak dan orang tuanya dapat dilibatkan, perawat kemungkinan akan lebih berhasil alam memberikan obat Ijinkan anak menetapkan pilihan
Jangan pernah memberikan anak pilihan untuk tidak meminum obatnya
  Setelah obat diberikan, perawat dapat memberi pujian kepada anak atau menawarkan    hadiah kecil.
Tips Pemberian Obat Pada Anak
1. Obat Oral
Bentuk cair lebih aman ditelan untuk mencegah aspirasi Jus, minuman ringan atau jus yang dibekukan dapat ditawarkan setelah sebuah obat ditelan
Minuman berkarbornasi yang dituang ketas serutan es halus mengurangi mual
Apabila mencampur obat dengan perencah (rasa), misalnya sirup atau madu, gunakan dalam jumlah kecil Spuit plastik sekali pakai adalah alat yang paling akurat untuk menyiapkan dosis cairan, khususnya spuit berukuran kurang dari 10 ml
Pada saat memberikan obat cair, sendok, cangkir plastik, dan spuit oral (tanpa jarum) akan bermanfaat.
2. Injeksi
- Perawat bersikap sangat hati-hati saat menyeleksi tempat injeksi IM. Otot pada bayi dan anak kecil belum berkembang
- Anak dapat menjadi tidak kooperatif dan tidak bisa diprediksi. Harus ada seseorang untuk merestrein anak, jika diperlukan.
- Perawat selalu membangunkan anak yang sedang tidur sebelum menginjeksinya
   Mengalihkan perhatian anak dengan bercakap-cakap dan menggunakan mainan    dapat menurunkan persepsi nyeri.
- Perawat memberi injeksi dengan cepat dan tidak bertengkar dengan anak.
2. Lansia
Pemberian obat pada lansia juga membutuhkan pertimbangan khusus
Perubahan fisiologis penuaan, faktor tingkah laku dan ekonomi juga mempengaruhi penggunaan obat pada lansia
Individu berusia lebih dari 65 tahun merupakan pengguna obat terbanyak (Eberson,Hess,2994)
Perawat yang memberi obat kepada lansia harus mencermati lima pola penggunaan obat oleh klien lansia
 Menurut Ebersole dan Hess (1994), mengidentifikasi pola penggunaan obat pada lansia :

1. Polifarmasi, artinya klien menggunakan banyak obat, yang diprogramkan atau tidak, sebagai upaya mengatasi beberapa gangguan secara bersamaan. Apabila ini terjadi, ada risiko interaksi obat dengan obat lain dan makanan, klien juga memiliki risiko lebih besar untuk mengalami reaksi yang merugikan terhadap pengobatan.
2. Meresepkan obat sendiri. Berbagai gejala dapat dialami oleh klien lansia, misalnya nyeri, konstipasi, insomnia dan ketidakmampuan mencerna. Lansia seringkali berupaya mencari pereda gangguan yang mereka alami dengan menggunakan preparat yang dijual bebas, obat-obatan rakyat dan jamu-jamuan.
3. Obat yang dijual bebas , obat yang dijual bebas digunakan oleh 75 % lansia untuk meredakan gejala
4. Penggunaan obat yang salah
5. Ketidakpatuhan, diartikan penggunaan obat yang salah secara disengaja. Dari semua populasi lansia, 75% diantaranya tidak mematuhi program pengobatan secara sengaja dengan mengubah dosis obat karena obat dirasa tidak efektif atau efek samping obat membuat lansia tidak nyaman.
Prinsip Gerontologis Untuk Pemberian Obat
- Kaji riwayat pengobatan lengkap, meliputi : obata-obatan yang lalu, obat-obatan saat ini, alergi terhadap apapun, pemahaman klien tentang obat yang digunakan
- Atur jarak pemberian obat oral
- Anjurkan klien minum sedikit cairan sebelum minum obat oral
- Dorong klien minum paling sedikit 150 sampai 180 cc cairan setelah minum obatnya
- Jangan secara rutin memberi analgesik setiap empat jam
- Apabila klien mengalami kesulitan menelan kapsul atau tablet berukuran besar, minta dokter menggantinya dengan obat cair
- Ajarkan alternatif pengobatan, misalnya diet yang sesuai, latihan fisik, kudapan menjelang tidur, menurunkan berat badan.
·                Pemberian Obat Oral
- Cara pemberian obat yang paling aman
- Paling mudah diberikan, kecuali klien ada gangguan fungsi cerna dan tidak mampu menelan
- Kebanyakan tablet dan kapsul harus diberikan bersama cairan dalam jumlah yang adekuat,
- Untuk klien yang terpasang selang nasogastrik, obat-obatan cair lebih dipilih
- Jika tablet atau kapsul dibuka terlebih dahulu dan dicampur dengan air
- Pada saat memberikan obat oral, perawat harus melindungi klien dari kemungkinan aspirasi
- Posisi duduk atau berbaring miring akan mencegah akumulasi obat cair atau padat di
elakang tenggorok
- Klien yang menelan dengan lambat sebaiknya tidak dipaksa untuk minum banyak cairan setiap kali menelan.
- Apabila klien mulai batuk ketika minum obat, perawat harus menunda pemberian sisa obat sampai klien dapat bernapas dengan mudah
- Apabila klien sulit menelan tablet, bentuk obat lain dapat dipertimbangkan, misalnya supositoria.
Beberapa Langkah Pemberian Obat Oral
·         Pemberian Injeksi
Pemberian injeksi merupakan prosedur invasif yang harus dilakukan dengan menggunakan tekhnik steril Setelah jarum menembus kulit, muncul resiko infeksi Rute yang diberikan perawat adalah rute SC, IM, ID dan IV Setiap tipe injeksi membutuhkan keterampilan yang tertentu untuk menjamin obat mencapai lokasi yang tepat-
 Efek obat yang diberikan secara parenteral dapat berkembang dengan cepat, bergantng pada kecepatan absorbsi obat Perawat mengobservasi respons klien dengan ketat.
Peralatan
1. Spuit
Spuit terdiri dari tabung berbentuk silinder dengan bagian ujung didesain tepat berpasangan dengan jarum hipodermis dan alat pengisap yang tepat menempati rongga spuit.
Secara umum diklasifikasikan sebagai Luer-lok atau non Luer-lok Spuit Luer-lok memerlukan jarum khusus, yang melilit naik ke ujung spuit dan terkunci aman di tempat, desain ini mencegah jarum terlepas karena kurang hati-hati Spuit nonLuer-lok, memerlukan jarum yang dapat langsung terpasang ke ujung spuit.Kebanyakan institusi pelayanan kesehatan menggunakan spuit plastik, sekali pakai yang tidak mahal dan mudah dimanipulasi
Spuit dibungkus terpisah, dengan atau tanpa jarum steril dalam sebuah bungkus kertas atau wadah plastik yang kaku. Perawat mengisi spuit dengan melakukan aspirasi, menarik pengisap keluar sementara ujung jarum tetap terendam didalam larutan yang disediakan. Perawat dapat memegang bagian luar badan spuit dan pegangan pengisap. Spuit terdiri dari berbagai ukuran, dari 0,5 sampai 60 ml .Untuk injeksi IM atau IV tidak lazim dipakai spuit yang berukuran lebih dari 5 ml Spuit hipodermik memiliki dua skala pada badan spuit. Satu skala dibagi menjadi ukuran-ukuran kecil dan skala lain menjadi sepersepuluh mililiter.
Spuit tuberkulin memiliki badan yang panjang dan tipis dengan jarum tipis yang sebelumnya telah dipasang, spuit tuberkulin digunakan untuk menyiapkan dosis yang kecil dan tepat untuk bayi dan anak kecil.
2. Jarum
Kebanyakan jarum terbuat dari stenless steel dan hanya digunakan satu kali.
Jarum memiliki tiga bagian : hub, yang tepat terpasang pada ujung sebuah spuit; batang jarum (shaft), yang terhubung dengan bagian pusat dan bevel yakni bagian ujung yang miring.
Setiap jarum memiliki tiga karakteristik utama; kemiringan bevel, panjang batang jarum dan ukuran atau diameter jarum. Bevel yang panjang lebih tajam, sehingga meminimalkan rasa tidak nyaman akibat injeksi SC dan IM. Panjang jarum bervariasi dari 1/4 sampai 5 inci
Panjang jarum yang dipilih berdasarkan ukuran dan berat klien serta tipe jaringan tubuh yang akan diinjeksi .Seorang anak atau dewasa yang kurus umumnya memerlukan jarum yang lebih pendek (biasanya 1 sampai 1 ½ inci), untuk injeksi IM dan jarum yang lebih pendek (biasanya 3/8 sampai 5/8 inci ) untuk injeksi SC Semakin kecil ukuran jarum, semakin besar ukuran diameternya. Seleksi ukuran jarum bergantung pada viskositas cairan yang akan disuntikkan atau diinfuskan.Injeksi IM biasanya memerlukan jarum berukuran 19 sampai 23, bergantung pada viskositas obat.Injeksi SC membutuhkan jarum yang diameternya lebih kecil, misal jarum berukuran 25.Untuk injeksi ID membutuhkan jarum berukuran 26
Langkah – Langkah Mencegah Infeksi Selama Injeksi
o   Untuk mencegah kontaminasi larutan, isap obat dari ampul dengan cepat, jangan biarkan ampul dalam keadaan terbuka
o   Untuk mencegah kontaminasi jarum, cegah jarum menyentuh daerah yang terkontaminasi (mis, sisi luar ampul atau vial, permukaan luar tutup jarum dll)
o   Untuk mencegah kontaminasi spuit , jangan sentuh badan pengisap atau bagian dalam karet. Jaga ujung spuit tetap tertutup penutup atau jarum
o   Untuk menyiapkan kulit, cuci kulit yang kotor karena kotoran, drainase atau feses dengan sabun dan air lalu keringkan.
o   Lakukan gerakan mengusap dan melingkar ketika membersihkan luka menggunakan swab antiseptik. Usap dari tengah dan bergerak keluar dalam jarak dua inci.


Unit Injeksi Sekali Pakai
o   Spuit sekali pakai , dosis tunggal yang telah diisi tersedia untuk banyak obat
o   Perawat harus berhati-hati mengecek obat dan konsentrasinya karena semua spuit yang diisi tampak miring
o   Sistem injeksi Tubex dan Carpuject memanfaatkan mekanisme plastik yang dapat dipakai kembali, yang memiliki unit jarum – peluru steril, sekali pakai dan sebelumnya sudah diisi.
o   Perawat memasukkan peluru kedalam sistem tersebut, mengamankannya (sesuai petunjuk kemasan) dan memeriksa adanya gelembung pada spuit
o   Perawat mendorong pengisap untuk mengeluarkan obat seperti pada spuit reguler
o   Sistem ini didesain untuk menurunkan peluang terjadinya cedera tertusuk jarum, jika digunakan sesuai dengan anjuran pabrik
Menyiapkan Injeksi Dari Sebuah Ampul
o   Ampul berisi obat dosis tunggal dalam bentuk cairan dan tersedia dalam beberapa ukuran, dari 1 ml sampai 10 ml atau lebih
o   Ampul terbuat dari bahan gelas dengan bagian leher mengecil, yang harus dipatahkan supaya memungkinkan akses ke obat
o   Sebuah lingkaran berwarna disekeliling leher ampul mengindikasikan tempat ampul dapat dipecah dengan mudah
o   Untuk mengaspirasi obat kedalam spuit, perawat perlu menggunakan jarum penyaring
Menyiapkan Injeksi Dari Vial
o   Vial merupakan wadah gelas berisi obat dosis tunggal atau multidosis yang memiliki penyekat karet dibagian atasnya
o   Tutup logam atau plastik melindungi penyekat sampai vial siap digunakan
o   Vial berisi larutan dan atau bentuk obat yang kering
o   Obat yang tidak stabil dalam larutan dikemas dalam bentuk kering
o   Lebel vial menerangkan larutan (pelarut) yang digunakan untuk melarutkan obat dan jumlah pelarut yang diperlukan untuk menyiapkan konsentrasi obat yang diinginkan
o   Salin normal dan aquades steril adalah larutan yang biasa digunakan untuk melarutkan obat
o   Vial merupakan sebuah sistem tertutup, dan udara harus diinjeksi kedalam vial supaya larutan mudah diisap
o   Jika didalam vial terdapat ruang hampa udara, maka akan mempersulit pengisapan larutan
o   Supaya obat bubuk larut, vial dikocok atau digulir perlahan diantara tangan
Jarum kembali diinsersi untuk mengisap obat yang larut.
Mencampur Obat
1. Mencampur obat dari dua vial
o   Hanya satu spuit dibutuhkan untuk mencampur obat dari dua vial
o   - Perawat mengambil sebuah spuit dan mengaspirasi volume udara yang
o   kuivalen dengan dosis obat pertama (vial A)
o   - Perawat menginjeksi udara kedalam vial A sambil memastikan jarum tidak menyentuh larutan
o   - Perawat menarik jarum, mengisap udara yang ekuivalen dengan dosis obat kedua (vial B), kemudian menginjeksi volume udara kedalam vial B
- Perawat segera mengisap obat yang dibutuhkan dario vial B kedalam spuit.
o   ada saat ini obat dari vial A belum mengontaminasi vial B
o   - Perawat memasang jarum baru yang steril pada spuit dan menginsersinya kedalam vial A, berhati-hati supaya tidak mendorong pengisap spuit dan mengeluarkan obat didalam spuit kedalam vial
o   - Perawat kemudian mengisap jumlah obat yang diinginkan dari vial A kedalam spuit
Beberapa prinsip ketika mencampur obat dari dua vial :
- Jangan mengontaminasi satu obat dengan obat lain
- Pastikan bahwa dosis yang terakhir akurat
- Pertahankan teknik aseptik
2. Mencampur obat dari satu vial dan satu ampul
Mencampur obat dari sebuah ampul dan sebuah vial merupakan hal yang sederhana karena tidak perlu menambahkan udara untuk mengisap obat dari sebuah ampul.
Perawat mula-mula menyiapkan obat dari vial dan kemudian , dengan menggunakan spuit dan jarum yang sama, isap obat dari ampul, teknik ini mencegah kontaminasi larutan dari jarum
Meyiapkan Insulin
Insulin adalah hormon yang digunakan untuk mengobati Diabetes Obat harus diberikan melalui injeksi karena obat tersebut merupakan protein dan, dengan demikian akandicerna dan dihancurkan dalam saluran cerna. Kebanyakan klien penderita diabetes perlu belajar untuk menginjeksi insulinnya secara mandiri
Insulin diklasifikasi berdasarkan kecepatan kerjanya yang terdiri dari kerja cepat,sedang dan lama, setiap tipe memiliki awitan, puncak dan durasi kerja yang berbeda-beda Seorang klien penderita diabetes memerlukan lebih dari satu tipe insulin
Kadar glukosa darah seorang klien dikontrol secara berkesinambungan selama periode 24  jam .Insulin reguler yang tidak dimodifikasi merupakan larutan jernih yang dapat diberikan secara subcutan atau intravena .Tipe lain insulin merupakan larutan keruh akibat adanya tambahan protein yang memperlambat absorbsi, kerja tipe insulin modifikasi yang lebih lambat ini hanya dapat diberikan persubcutan.Insulin dapat disimpan dengan aman selama sekitar satu bulan pada temperatur ruangan, tetapi perlu didinginkan selama jangka waktu yang lebih lama .Obat tidak boleh langsung diberikan, harus dibiarkan sampai suhunya sama dengan suhu ruangan. Sebelum mencampur tipe insulin yang berbeda, setiap vial harus digulir diantara kedua tangan selama sekurang-kurangnya satu menit, hal ini akan menangguhkan kembali pem,berian insulin modifikasi dan membantu menghangatkan obat, vial insulin tidak boleh dikocok. Bila dikocok, akan terbentuk busa dan gelembung udara yang membuat partikel insulin terperangkap dan mengubah dosis .Insulin diprogramkan dalam dosis tertentu pada waktu yang telah ditetapkan atau berdasarkan sliding scale (skala perhitungan dimana angka dapat digeser sesuai keadaan), hanya insulin reguler yang digunakan untuk sliding scale. Dengan program sliding scale , dokter memprogramkan dosis insulin yang berbeda berdasarkan kadar glukosa darah klien. Contoh program Insulin Sliding Scale
Berikan insulin reguler per SC
o   2 U untuk nilai glukosa 200 – 240
o    4 U untuk nilai glukosa 241 – 250
o    6 U untuk nilai glukosa 251 – 300
o    Untuk glukosa ≥ 300 hubungi dokter
o    Dosis yang berbeda-beda tersebut dapat diberikan dalam satu hari
Beberapa langkah menyiapkan insulin dari dua vial :
1. Dengan sebuah spuit dan jarum, injeksi udara yang setara dengan dosisinsulin yang akan diisap kedalam vial yang berisi insulin modifikasi (NPH) / vial yang keruh, jangan menyentuhkan ujung jarum kedalam larutan
2. Pindahkan spuit dari vial berisi insulin modifikasi
3. Dengan spuit yang sama, injeksi udara yang setara dengan dosis insulin yang akan diisap kedalam vial berisi insulin bukan modifikasi (insulin reguler) ( vial jernih), kemudian isap dosis yang benar
4. Pindahkan spuit dari insulin yang reguler, buang gelembung udara dari spuit dengan hati-hati
5. Kembali ke vial berisi insulin modifikasi (NPH) kemudian isap dosis yang benar
6. Berikan campuran insulin dalam lima menit setelah disiapkan. Insulin reguler berikatan dengan insulin yang modifikasi (NPH), dan kerja insu;lin reguler menurun
7. Usahakan untuk selalu menyiapkan insulin bukan modifikasi (reguler) lebih dahulu, hal ini mencegah penambahan insulin modifikasi ke vial insulin reguler
Melakukan Injeksi
 Karakteristik jaringan mempengaruhi absorbsi obat dan awitan kerja obat
Sebelum menyuntikkan sebuah obat, volume obat yang akan diberikan harus diketahui terlebih dahulu.Konsekuensi yang serius dapat terjadi, jika injeksi diberikan tidak tepat.
Kegagalan dalam memilih tempat injeksi yang tepat, dapat menyebabkan kerusakan syaraf atau tulang selama insersi jarum
Menginjeksi obat dalam volume yang terlalu besar di tempat yang dipilih dapat menimbulkan nyeri hebat dan dapat mengakibatkan kerusakan jaringan setempat
Beberapa upaya untuk meminimalkan rasa tidak nyaman pada waktu penyuntikan :
1. Gunakan jarum yang tajam dan memiliki bevel dan panjang serta ukurannya paling kecil, tetapi sesuai
2. Atur posisi senyaman mungkin untuk mengurangi ketegangan otot
3. Pilih tempat injeksi yang tepat dengan menggunakan penanda anatomis tubuh
4. Kompres tempat injeksi dengan es untuk menciptakan anastesi lokal, sebelum jarum diinsersi
5. Alihkan perhatian klien
6. Insersi jarum dengan perlahan dan cepat untuk meminimalkan menarik jaringan
7. Pegang spuit dengan mantap selama jarum berada dalam jaringan
8. Pijat-pijat tempat injeksi dengan lembut selama bebrapa detik, kecuali dikontraindikasikan

J.PROSES KEPERAWATAN DAN OBAT
A. Pengkajian
  1. Riwayat Medis
Memberi indikasi atau kontraindikasi terhadap terapi obat Penyakit atau gangguan membuat klien berisiko terkena efek samping yang merugikanMasalah kesehatan jangka panjang, misalnya diabetes atau arthritis, yang membutuhkan pengobatan, memberi perawat informasi tentang tipe obat yang sedang klien gunakan Riwayat pembedahan klien dapat mengindikasikan obat yang digunakan, contoh, setelah tiroidektomi, seorang klien membutuhkan hormone .Dari riwayat ini, perawat dapat meminta supaya klien dapat diresepkan obat yang rutin digunakannya
2. Riwayat Alergi
Apabila klien memiliki riwayat alergi terhadap obat, perawat harus menginformasikan anggota tim kesehatan lain Alergi terhadap makan juga harus didokumentasikan, karena banyak obat mengandung unsure yang terkandung dalam sumber makanan, contoh adalah kerang.
Apabila klien alergi terhadap kerang maka klien akan sensitive terhadap suatu produk yang mengandung yodium
3. Data Obat
- Perawat mengkaji informasi tentang setiap obat, termasuk kerja,tujuan,dosis normal,rute pemberian, efek samping dan implikasi keperawatan dalam pemberian dan pengawasan obat.
4. Riwayat Diet
- Riwayat diet memberi keterangan tentang pola makan dan pilihan makan klien.
- Perawat dapat merencanakan penjadwalan dosis obat yang lebih efektif dan menganjurkan klien menghindari makanan yang dapat berinteraksi dengan obat.
5. Kondisi Klien Terkini
- Status fisik dan mental klien yang berkesinambungan dapat menentukan apakah obat sebaiknya diberikan dan cara pemberian obat
- Contoh perawat memeriksa tekanan darah sebelum memberi obat antihipertensi,apabila klien mual,kemungkinan ia tidak dapat menelan tablet.
6. Persepsi Klien Atau Masalah Koordinasi
- Klien yang fungsi persepsi dan koordinasinya terbatas kemungkinan sulit menggunakan obat secara mandiri
- Perawat harus mengkaji kemampuan klien dalam mempersiapkan dosis dan menggunakan obat dengan benar.
7. Sikap klien Terhadap Penggunaan Obat
Sikap klien terhadap obat menunjukkan tingkat ketergantungannya pada obat
Klien sering enggan mengungkapkan perasaannya tentang obat, khususnya jika ia mengalami ketergantungan obat. Untuk mengkaji sikap klien, perawat perlu mengobservasi perilaku klien yang mendukung bukti ketergantuingan obat.
8. Pengetahuan Klien Dan Pemahaman Tentang Terapi Obat-
 Untuk mengkaji pengetahuan klien tentang obat, perawat perlu mengajukan beberapa pertanyaan, sebagai berikut :
a. Apa guna obat tersebut ?
b. Bagaimana dan kapan obat tersebut digunakan ?
c. Apa efek samping yang pernah timbul ?
d. Apakah obat pernah dihentikan ?
e. Apakah ada hal lain yang tidak dipahami tentang obat ?
Apabila tingkat kepatuhan klien rendah, perawat sebaiknya juga memeriksa sumber yang dapat klien manfaatkan untuk membeli obat
9. Kebutuhan Pembelajaran Klien
Dengan mengkaji tingkat pengetahuan klien tentang sebuah obat, perawat menetapkan instruksi yang klien perlukan. Perawat mungkin perlu menjelaskan kerja dan tujuan obat, efek samping yang akan timbul, teknik pemberian obat yang benar, dan cara mengingat jadwal obat. Apabila klien diresepkan obat baru, instruksi tertentu harus diberikan.
B. Diagnosa Keperawatan
 Pengkajian memberi data tentang kondisi klien, kemampuannya dalam menggunakan obat secara mandiri, dan pola penggunaan obat, semua ini dapat digunakan untuk menentukan masalah actual atau potensial pada terapi obat. Mengelompokkan batasan karakteristik untuk menegakkan diagnosa keperawatan yang akurat. Misalnya seorang klien mengakui lupa minum obat satu kali, ada bukti bahwa obat tidak menghilangkan gejala, ada bukti bahwa klien tidak mengalami kemajuan. Semua ini menunjukkan klien tidak patuh terhadap program pengobatan.Untuk mengatasi ketidakpatuhan, perawat harus berpikir kritis dalam menginterpretasi data pengkajian supaya dapat menegakkan diagnosa yang benar.
Contoh Diagnosa Keperawatan Nanda untuk Terapi Obat
    1. Kurang pengetahuan tentang terapi obat yang berhubungan dengan
o   Kurang informasi dan pengalaman
o   Keterbatasan kognitif
o   Tidak mengenal sumber informasi
    2. Ketidakpatuhan terhadap terapi obat yang berhubungan dengan :
o   Sumber ekonomi yang terbatas
o    Keyakinan tentang kesehatan
o    Pengaruh budaya
3. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan Penurunan kekuatan Nyeri dan ketidaknyamanan
4. Perubahan sensori / persepsi yang berhubungan dengan Pandangan kabur
5. Ansietas yang berhubungan dengan Status kesehatan yang berubah atau terancam
Status social ekonomi yang berubah atau terancam Pola interaksi yang berubah atau terancam
6. Gangguan menelan yang berhubungan dengan :
o   Kerusakan neuromuskuler
o    Iritasi rongga mulut
o    Kesadaran yang terbatas
·         7. Penatalaksanaan program terapeutik tidak efektif berhubungan dengan :
·         Terapi obat yang kompleks
·         - Penetahuan yang kurang.
Contoh Proses Diagnosa Keperawatan untuk Terapi Obat
C. Perencanaan
Perawat mengatur aktivitas perawatan untuk memastikan bahwa teknik pemberian obat aman.
Tergesa-gesa dalam memberikan obat dapat memicu terjadinya kesalahan Perawat juga dapat merencanakan untuk menggunakan waktu selama memberikan obat, perawat mengajarkan klien tentang obat yang digunakannya Perawat dapat merencanakan penggunaan obat secara mandiri, untuk klien , keluarga dan masyarakat,jika klien rencana dipulangkan.
Baik seorang klien mencoba menggunakan obat secara mandiri maupun perawat bertanggung jawab memberikan obat tersebut, sasaran yang harus dicapai :
1. Tidak ada komplikasi yang timbul akibat rute pemberian obat yang digunakan
2. Efek terapeutik obat yang diprogramkan dicapai dengan aman sementara kenyamanan klien tetap dipertahankan
3. Klien dan keluarga memahami terapi obat
4. Pemberian obat secara mandiri dilakukan dengan aman.
D. Implementasi
1. Transkripsi yang benar dan mengkomunikasikan program
Intervensi keperawatan berfokus pada pemberian obat yang aman dan efektif
Intervensi dilakukan dengan menyiapkan obat secara cermat,memberikannya dengan benar, dan memberi penyuluhan
Perawat menulis program dokter dengan lengkap. Program yang ditranskripsi meliputi nama, kamar, dan nomor tem[pat tidur klien, nama, dosis dan waktu pemberian obat, serta rute pemberian obat.Ketika mentranskripsi resep, perawat harus yakin bahwa nama, dosis dan symbol obat dapat dibaca Perawat harus menyalin kembali setiap transkripsi yang tercoret atau yang tidak terbaca. Perawat terdaftar membandingkan semua program yang ditranskripsi dengan program yang asli untuk memastikan keakuratan dan kelengkapannya
 Komponen resep obat : Nama lengkap klien, tanggal, nama obat, dosis, rute pemberian, waktu dan frekuensi pemberian, tanda tangan dokter.
2. Kalkulasi Dan Perhitungan dosis yang Akurat
Ketika mengukur obat cair, perawat menggunakan wadah pengukur yang standar
Prosedur perhitungan obat dilakukan dengan sistematis untuk memperkecil kemungkinan terjadinya kesalahan Ketika mempersiapkan obat, perawat menghitung setiap dosis, memperhatikan kalkulasi dengan cermat, dan menghindari gangguan dari aktivitas keperawatan lain
3. Pemberian Dosis Yang Benar
Perawat menggunakan teknik aseptic dan prosedur yang benar ketika menangani dan memberikan obat. Ketika obat tertentu diberikan, perawat perlu melakukan pengkajian, misalnya mengkaji denyut nadi, tekanan darah, temperature dll.
4. Mencatat Pemberian Obat
Perawat mendokumentasikan obat yang diberikan, dikhawatirkan terjadi pemberian obat ganda.Apabila obat tersebut tidak diberikan, misalnya klien menolak atau ada kontraindikasi terhadap obat tersebut, maka informasi ini dimasukkan kedalam catatan pengobatan.Pencatatan sebuah obat terdiri dari nama, dosis, rute pemberian obat, dan waktu pemberian obat yang sebenarnya.Apabila seorang klien menolak sebuah obat atau sedang menjalani pemeriksaan atau prosedur yang membuat sebuah dosis terlewat, dalam catatan perawat, perawat menuliskan alasan obat tersebut tidak diberikan. Perawat wajib melingkari dan menandatangani (inisial) waktu pemberian obat yang diprogramkan pada catatan obat, ketika suatu dosis terlewat.
5. Peningkatan Kesehatan Melalui Penyuluhan Klien
Penyuluhan kepada klien adalah peran perawat yang sangat penting Penyuluhan tentang obat adalah salah satu tipe penyuluhan kesehatan diberikan oleh perawat Klien Diabetes, memerlukan obat sepanjang hidupnya, perawat mengajarkan klien cara memantau terapi dan melakukan injeksi insulin secara mandiri, komplikasi diabetes diperkecil dengan diet dan latihan fisik, keduanya harus diajarkan kepada klien yang baru didiagnosis diabetes.
Informasi yang salah tentang pemberian obat, akan berakibat fatal terhadap klien
Informasi yang diberikan perawat adalah tentang tujuan pengobatan, kerja obat, dan efeknya.
Klien harus mempelajari pedoman dasar berikut supaya dapat menggunakan obat dengan aman di rumah :
a. Simpan setiap obat di dalam wadah aslinya yang berlabel.
b. Pastikan label dapat dibaca
c. Buang obat yang sudah kadaluarsa
d. Selalu dihabiskan obat yang diresepkan
e. Buang obat kedalam sebuah bak cuci piring atau ke toilet
f. Jangan berikan obat yang diresepkan kepada anggota keluarga atau teman
g. Simpan obat yang perlu didinginkan di lemari pendingin
6. Mempertahankan Hak Klien
 Karena adanya risiko potensial yang berhubungan dengan pemberian obat, seorang klien   memiliki hak untuk :
a. Mengetahui nama, tujuan, kerja obat, dan efek potensial yang tidak diinginkan
b. Menolak sebuah obat, tanpa memperhatikan konsejuensinya
c. Meminta perawat atau dokter berkualitas untuk mengkaji riwayat obat, termasuk alergi
d. Mendapat nasihat yang benar berkenaan dengan sifat suatu terapi obat yang pernah muncul dan memberi persetujuan untuk penggunaannya
e. Menerima obat yang dilabel dengan aman tanpa merasa tidak nyaman sesuai degan lima benar pemberian obat
f. Menerima terapi pendukung yang diperlukan terkait dengan terapi obat yang dijalani
g. Tidak menerima obat yang tidak perlu.
E. Evaluasi
Perawat memantau respons klien terhadap obat secara berkesinambungan. Perawat harus mengetahui kerja terapeutik dan efek samping yang umum muncul dari setiap obat
Perubahan kondisi klien dapat secara fisiologis berhubungan dengan status kesehatan
Perawat harus mewaspadai reaksi yang akan timbul ketika klien mengonsumsi beberapa obat.
Tujuan pemberian obat yang aman dan efektif dicapai melalui evaluasi cermat teknik dan respons klien terhadap terapi dan kemampuan klien mengemban tanggung jawab merawat diri sendiri.
Langkah evaluasi untuk menentukan bahwa tidak ada komplikasi yang terkait dengan rute pemberian obat :
1. Mengobservasi adanya memar, inflamasi, nyeri setyempat, atau perdarahan di tempat injeksi
2. Menanyakan klien tentang adanya rasa baal atau rasa kesemutan di tempat injeksi
3. Mengkaji adanya gangguan saluran cerna, termasuk mual, muntah, dan diare pada klien
4. Menginspeksi tempat IV untuk mengetahui adanya flebitis, termasuk demam, pembengkakan dan nyeri tekan setempat.
Langkah Evaluasi untuk menentukan apakah terapeutik obat yang diprogramkan telah dicapai dengan aman :
1. Menanyakan klien apakah ia mengalami respons yang biasa timbul akibat penggunaan obat
2. Memantau respons klien terhadap obat (contoh, obat hipertensi/penurunan tekanan darah)
Langkah Evaluasi untuk mempertahankan keamanan dan kenyamanan klien :
1. Memantau efek samping atau toksik yang potensial, reaksi alergi, atau interaksi obat
2. Mengevaluasi klien selama 30 menit setelah diberi obat untuk mengetahui adanya gejala ketidaknyamanan.
Langkah Evaluasi untuk memahami terapi obat :
1. Meminta klien menjelaskan tujuan, kerja, dosis, jadwal pemberian obat, dan efek samping yang mungkin
2. Meminta klien menjelaskan waktu setiap obat digunakan selama sehari
Langkah Evaluasi untuk menentukan kemampuan klien menggunakan obat secara mandiri dan aman :
1. Mengobservasi klien saat mempersiapkan dosis obat yang diprogramkan
2. Mengobservasi klien yang memberi dosis obat yang diprogramkan.
.
Perawat bertanggung jawab dalam pemberian obat – obatan yang aman . Perawat harus mengetahui semua komponen dari perintah pemberian obat dan mempertanyakan perintah tersebut jika tidak lengkap atau tidak jelas atau dosis yang diberikan di luar batas yang direkomendasikan . Secara hukum perawat bertanggung jawab jika mereka memberikan obat yang diresepkan dan dosisnya tidak benar atau obat tersebut merupakan kontraindikasi bagi status kesehatan klien . Sekali obat telah diberikan , perawat bertanggung jawab pada efek obat yang diduga bakal terjadi. Buku-buku referensi obat seperti , Daftar Obat Indonesia ( DOI ) ,  Physicians‘ Desk Reference (PDR), dan sumber daya manusia , seperti ahli farmasi , harus dimanfaatkan perawat  jika merasa tidak jelas mengenai reaksi terapeutik yang diharapkan , kontraindikasi , dosis , efek samping yang mungkin terjadi , atau reaksi yang merugikan dari pengobatan  ( Kee and Hayes, 1996 ).
 
·         Enam Hal yang Benar dalam Pemberian Obat

Supaya dapat tercapainya pemberian obat yang aman , seorang perawat harus melakukan enam hal yang benar : klien yang benar, obat yang benar, dosis yang bena, waktu yang benar, rute yang benar, dan dokumentasi yang benar.
Pada waktu lampau, hanya ada lima hal yang  benar dalam pemberian obat. Tetapi kini ada hal keenam yang dimasukkan yaitu dokumentasi. Dua hal tambahan klien juga dapat ditambahkan : hak klien untuk mengetahui alasan pemberian obat, hak klien untuk menolak penggunaan sebuah obat.
Klien yang benar dapat  dipastikan dengan memeriksa  identitas klien, dan meminta klien menyebutkan namanya sendiri. Beberapa klien akan menjawab dengan nama sembarang atau tidak berespon, maka gelang identifikasi harus diperiksa pada setiap klien pada setiap kali pengobatan. Pada keadan gelang identifikasi hilang, perawat harus memastikan identitas klien sebelum setiap obat diberikan.
Dalam keadaan dimana klien tidak memakai gelang identifikasi (sekolah, kesehatan kerja, atau klinik berobat jalan), perawat juga bertanggung jawab untuk secara tepat mengidentifikasi setiap orang pada saat memberikan pengobatan.
 Obat yang benar berarti klien menerima obat yang telah diresepkan. Perintah pengobatan mungkin diresepkan oleh seorang dokter, dokter gigi,   atau pemberi asuhan kesehatan yang memiliki izin praktik dengan wewenang dari pemerintah. Perintah melalui telepon untuk pengobatan harus ditandatangani oleh dokter yang menelepon dalam waktu 24 jam. Komponen dari perintah pengobatan adalah : (1) tanggal dan saat perintah ditulis, (2) nama obat, (3) dosis obat, (4) rute pemberian, (5) frekuensi pemberian, dan (6) tanda tangan  dokter atau pemberi asuhan kesehatan. Meskipun merupakan tanggung jawab perawat untuk mengikuti perintah yang tepat, tetapi jika salah satu komponen tidak ada atau perintah pengobatan tidak lengkap, maka obat tidak boleh diberikan dan harus segera menghubungi dokter tersebut untuk mengklarifikasinya ( Kee and Hayes, 1996 ).
Untuk menghindari kesalahan, label obat harus dibaca tiga kali : (1) pada saat melihat botol atau kemasan obat, (2) sebelum menuang / mengisap obat dan (3) setelah menuang / mengisap obat.  Perawat harus ingat bahwa obat-obat tertentu mempunyai nama yang bunyinya hampir sama dan ejaannya mirip, misalnya digoksin dan digitoksin, quinidin dan quinine, Demerol dan dikumarol, dst.
Dosis yang benar adalah dosis yang diberikan untuk klien tertentu. Dalam kebanyakan kasus, dosis diberikan dalam batas yang direkomendasikan untuk obat yang bersangkutan. Perawat harus menghitung setiap dosis obat secara akurat, dengan mempertimbangkan variable berikut : (1) tersedianya obat dan dosis obat yang diresepkan (diminta), (2) dalam keadaan tertentu, berat badan klien juga harus dipertimbangkan, misalnya 3 mg/KgBB/hari.
Sebelum menghitung dosis obat, perawat harus mempunyai dasar pengetahuan mengenai rasio dan proporsi. Jika ragu-ragu, dosis obat harus dihitung kembali dan diperiksa oleh perawat lain.
Waktu yang benar adalah saat dimana obat yang diresepkan harus diberikan. Dosis obat harian diberikan pada waktu tertentu dalam  sehari, seperti b.i.d ( dua kali sehari ), t.i.d ( tiga kali sehari ), q.i.d ( empat kali sehari ), atau q6h ( setiap 6 jam ), sehingga kadar obat dalam plasma dapat dipertahankan. Jika obat mempunyai waktu paruh (t ½ ) yang panjang, maka obat diberikan sekali sehari. Obat-obat dengan waktu paruh pendek diberikan beberapa kali sehari pada selang waktu yang tertentu . Beberapa obat diberikan sebelum makan dan yang lainnya diberikan pada saat makan atau bersama makanan ( Kee and Hayes, 1996 ; Trounce, 1997)

Implikasi dalam keperawatan mencakup :
1.      Berikan obat pada saat yang khusus. Obat-obat dapat diberikan ½ jam sebelum atau sesudah waktu yang tertulis dalam resep.
2.      Berikan obat-obat yang terpengaruh oleh makanan seperti captopril, sebelum makan
3.      Berikan obat-obat, seperti kalium dan aspirin, yang dapat mengiritasi perut ( mukosa lambung ) bersama-sama dengan makanan.
4.      Tanggung jawab perawat untuk memeriksa apakah klien telah dijadwalkan untuk pemeriksaan diagnostik, seperti endoskopi, tes darah puasa, yang merupakan kontraindikasi pemberian obat.
5.      Periksa tanggal kadaluarsa. Jika telah melewati tanggalnya, buang atau kembalikan ke apotik ( tergantung peraturan ).
6.      Antibiotika harus diberikan dalam selang waktu yang sama sepanjang 24 jam ( misalnya setiap 8 jam bila di resep tertulis t.i.d ) untuk menjaga kadar darah terapeutik.

Rute yang benar perlu untuk absorpsi yang tepat dan memadai. Rute yang lebih sering dari absorpsi adalah (1) oral ( melalui mulut ): cairan , suspensi ,pil , kaplet , atau kapsul . ; (2) sublingual ( di bawah lidah  untuk absorpsi vena ) ; (3) topikal ( dipakai pada kulit ) ; (4) inhalasi ( semprot aerosol ) ; (5)instilasi ( pada mata , hidung , telinga , rektum atau vagina ) ; dan empat rute parenteral : intradermal , subkutan , intramuskular , dan intravena.
Implikasi dalam keperawatan termasuk :
a.      Nilai kemampuan klien untuk menelan obat sebelum memberikan obat – obat per oral
b.      Pergunakan teknik aseptik sewaktu memberikan obat . Teknik steril dibutuhkan dalam rute parenteral .
c.       Berikan obat- obat pada tempat yang sesuai .
d.      Tetaplah bersama klien sampai obat oral telah ditelan.

Dokumentasi yang benar membutuhkan tindakan segera dari seorang perawat untuk mencatat informasi yang sesuai mengenai obat yang telah diberikan  . Ini meliputi nama obat , dosis , rute , waktu  dan tanggal , inisial dan tanda tangan perawat . Respon klien terhadap pengobatan  perlu   di catat untuk beberapa macam obat seperti (1) narkotik – bagaimana efektifitasnya dalam menghilangkan rasa nyeri  – atau (2) analgesik non-narkotik, (3) sedativa, (4) antiemetik (5) reaksi yang tidak diharapkan terhadap pengobatan, seperti irigasi gastrointestinal atau tanda – tanda kepekaan kulit. Penundaan dalam mencatat dapat mengakibatkan lupa untuk mencatat pengobatan  atau perawat lain  memberikan obat itu kembali karena ia berpikir obat itu belum diberikan  (Taylor, Lillis and LeMone, 1993 ; Kee and Hayes, 1996 ).

·         Hak – Hak    Klien dalam Pemberian Obat

1.      Hak Klien Mengetahui Alasan Pemberian Obat
Hak ini adalah prinsip dari memberikan persetujuan setelah mendapatkan informasi ( Informed concent ) , yang berdasarkan pengetahuan individu yang diperlukan untuk membuat suatu keputusan .
2.      Hak Klien untuk Menolak Pengobatan
Klien dapat menolak untuk pemberian suatu pengobatan . Adalah tanggung jawab perawat untuk menentukan , jika memungkinkan , alasan penolakan dan mengambil langkah – langkah yang perlu untuk mengusahakan agar klien mau menerima pengobatan . Jika suatu pengobatan dtolak , penolakan ini harus segera didokumentasikan. Perawat yang bertanggung jawab, perawat primer, atau dokter harus diberitahu jika  pembatalan pemberian obat ini dapat membahayakan klien, seperti dalam pemberian insulin. Tindak lanjut  juga diperlukan jika terjadi perubahan pada hasil pemeriksaan laboratorium , misalnya pada pemberian insulin atau warfarin (  Taylor, Lillis and LeMone, 1993 ; Kee and Hayes, 1996 ).

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, jelaslah bahwa pemberian obat pada klien merupakan fungsi dasar keperawatan yang membutuhkan ketrampilan teknik dan pertimbangan terhadap perkembangan klien. Perawat yang memberikan obat-obatan pada klien diharapkan mempunyai pengetahuan dasar mengenai obat dan prinsip-prinsip dalam pemberian obat


K. Kesalahan Pengobatan

Kesalah pngobatan adalah suatu kejadian yang dapt membuat klien menerima obat yang  salah atau tidak mendapat terapi obat yang tepat. Kesalahan pengobatan dapat dilakukan oleh setiap individu yang terlibat dalam pembuatan resep, transkripsi, persiapan, penyaluran, dan pemberian obat. Sistem penyaluran obat di rumah sakit harus di rancang supaya ada sebuah sitem pemeriksaan dan keseimbangan. Hal ini akan membantu mengurangi kesalahan pengobatan.
 Perawat juga bertanggung jawab melengkapi laporan yang menjelaskan sifat insiden tersebut. Laporan insiden bukan pengakuan tentang suatu kesalahan atau  menjadi dasar untuk member hukuman dan bukan merupakan bagian catatan medis klien yang sah. Laporan ini merupakan analisis objektif tentang apa yang terjadi dan merupakan penatalaksanaan risiko yang dilakukan institusi untuk memantau kejadian semacam ini. Laporan kejadian membantu komite intedisiplin mengidentifikasi kesalahan dan menyelesaikan masalah system di rumah sakit yang mengakibatkan terjadinya kesalahan


Cara Mencegah Kesalahan Pemberian Obat












BAB III
PENUTUP


A.                KESIMPULAN

              Obat dapat diberikan dengan berbagai cara disesuaikan dengan kondisi pasien, diantaranya : sub kutan, intra kutan, intra muscular, dan intra vena. Dalam pemberian obat ada hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu indikasi dan kontra indikasi pemberian obat. Sebab ada jenis-jensi obat tertentu yang tidak bereaksi jika diberikan dengan cara yang salah.

B. SARAN

Setiap obat merupakan racun yang yang dapat memberikan efek samping yang tidak baik jika kita salah menggunakannya. Hal ini tentunya dapat menimbulkan kerugian bahkan akibatnya bias fatal. Oleh karena itu, kita sebagai perawat kiranya harus melaksanakan tugas kita dengan sebaik-baiknya tanpa menimbulkan masalah-masalah yang dapat merugikan diri kita sendiri maupun orang lain.

































































































































1 komentar:

  1. Gold Strike Tunica Rooms & Suites - Riders Casino 10cric login 10cric login クイーンカジノ クイーンカジノ 메리트 카지노 쿠폰 메리트 카지노 쿠폰 2368Star Casino Hotel | Thtopbet

    BalasHapus