BAB I I
PEMBAHASAN
A. UNDANG-UNDANG DAN STANDAR OBAT
1. STANDAR OBAT
Perangkat
Standar obat yang dipakai di Amerika serikat adalah United states Pharmacopeia
pada tahun 1820.
US
Pharmacopeia ( UPS ) dan National Formulary ( NF ) adalah sumber yang berwenan
g dalam standar obat dimasa kini, di revis setiap 5 tahun oleh sekelompok ahli
dalam keperawatan, farmasi, farmakologi, kimia dan mikrobiologi.
Obat-obat
yang termasuk dalam dalam buku ini telah memenuhi satndar yang tinggi dalam
penggunaan terapeutik, keamanan klien, kualitas, kemurnian, kekuatan ,
keamanan, kemasan dan bentuk dosisnya. Obat-obat yang memenuhi standar ini
memiliki USP setelah nama resminya,International Pharmacopeia, pertama kali
diterbitkan pada tahun 1951 oleh WHO, berisi tentang dasar dari standar untuk
kekuatan dan komposisi dalam penggunaanannya di seluruh dunia diterbitkan dalam
bahasa Inggris, Spanyol, dan perancis. Direvisi setiap 5 tahun.
Dokter,
Perawat dan ahli Farmasi menggunakan standar obat untuk memastikan klien
menerima obat yang alami dalam dosis yang aman dan efektif. Standar yang
diterima masyarakat harus memenuhi criteria berikut :
1.
Kemurnian. Pabrik harus memenuhi standar kemurnian untuk tipe dan konsentrasi
zat lain yang diperbolehkan dalam
produksi obat.
2.
Potensi. Konsentrasi obat aktif dalam preparat obat memengaruhi kekuatan atau
potensi obat.
3.
Bioavailability. Kemampuan obat untuk lepas dari bentuk dosisnya dan melarut,
diabsorbsi , dan diangkut tubuh ketempat kerjanya disebut bioavailability.
4.
Kemanjuran. Pemeriksaan laboratorium yang terinci dapat membantu menentukan
efektivitas obat.
5.
Keamanan. Semua obat harus terus dievaluasi untuk menentukan efek samping obat
tersebut
2.
UNDANG –UNDANG DAN KONTROL.
Di Amerika Serikat, perundang undangan
yang mengatur tentang obat dimulai dengan dikeluarkanya pare food and drag act
(Undang-undang makanan dan obat murni). Pada tahun 1906. Undang-undang tersebut
menfokuskan perhatian dan kemurnian makanan, tetapi harusmenetapkan standar
resmi obat.
Hukum yang mengatur tentang obat di
Negara bagian harus sesuai dengan undang-undang federal. Negara bagian dapat
menentukan control tambahan, termasuk pengontrolan zat yang tidak diatur oleh
pemerintah federal. Sebagai contoh, pemerintah local dapat mengatur penjualan
dan penggunaan alcohol dan tembakau.
Peraturan federal Negara bagian, dan
daerah mempengaruhi praktik keperawatan, termasuk penatalaksanaan pengobatan.
Praktik keperawatan Negara bagian menetapkan undang-undang dan mengatur batasan
lingkup dan fungsi serta tanggung jawab seorang perawat professional. UU ini
merupakan pernyataan kebjakan gabungan yang dibuat oleh asosiasi perawat,
dokter, dan rumah sakit Negara bagian. UU praktik keperawatan melindungi
masyarakat dari perawat yang tidak terampil berpendidikan rendah, dan tidak
memiliki lisensi.
Sebelum menerima tanggung jawab dalam
member obat intravena, perawt harus berhati-hati terhadpa kebijakan
administrative yang berlaku di insitusi tempat perawat tersebut bekerja. Karena
suntkan intravena dapat menimbulkan efek samping yang serius.
Perawat bertanggung-jawab mengikuti
ketentuan hokum saat memberikan zat terkontrol (controlled sibtance) (obat
mempengaruhi pikiran atau perilaku) yang hanya dapat dikeluarkan jika
diresepkan. Pelanggaran terhadap controlled substances act dihukum dengan
dikenakan denda, dipenjarakan, dan izinnya sebagai perawat dicabut. Rumah sakit
dan intitusi perawatan lain memiliki kebijakan tentang penyimpangan dan
pendistribusian zat terkontrol yang benar, termasuk narkotik.
Undang-
undang obat di Amerika Serikat
1.)
Tahun 1906 . Pure Food and Drug Act.
Merancang standart resmi obat-obatan ,
menspesipikasikan pelabelan obat.
2.)
Tahun 1912 Sherley Amandement
Melarang
pabrik membuat klaim yang curang tentang kemanjuran dan efek terapeutik obat.
3.)
Tahun 1914 Harrison Narcotic Act.
Secare
resmi mengklasifikasikan obat-obatan yang diyakini membentuk kebiasaan seperti narkotik, mengatur pemasokan ,
pembuatan, penjualan dan penggunaan zat narkotik.
4.)
Tahun 1938 Federal Food, Drug, and Cosmetic Act
Menambahkan
Homeopphatic Pharmacopeia Of the United States sebagai standar obat ketiga,
mewajibkan preparat obat diakui aman oleh Food and Drug Administration sebelum
dipasarkan, menguraikan criteria lebih lanjut pelabelan obat.
5.)
Tahun1945 Amandement to the Food and Drug Act
Memberi
sertifikasi uintuk produk biologis yang digunakan sebagai obat ( missal :
insulin, antibiotic ) berdasarkan kelompok tertentu , mengizinkan .
6.)
Tahun 1952 Durham – Humprey
Membedakan obat resep ( legenda ) dari
obat tanpa resep.
7.)
Tahun 1962 Amandement Kefauver – Harris
Memberi
FDA kuasa untuk menyelia produksi obat untuk menjamin keamanan dan kemamnjuran dan menetapkan nama obat yang
resmi, memberi control yang lebih besar terhadap obat-obatam yang diselidiki.
8.)
Tahun 1970. Comprehensive Drug Abuse Prevention and Control Act.
Menetapkan
control yang ketat terhadap pembuatan dan distribusi obat yang dikontrol (
kepemilikan zat yang dikontrol secara tidak sah tanpa resep ). Menetapkan
program pemerintah untuk meningkatkan pencegahan dan penanganan ketergantungan
obat
Di
indonesia undang-undang kesehatan no. 23 tahun 1992
Bab
I ketentuan umum., pasal 1
Pada
baris ke 12 tentang Zat Adiktif adalah bahan yang penggunaannya dapat
menimbulkan ketergantungan fisik.
Pada
Baris ke 13 tentang Pekerjaan Ke Farmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian
mutu sediaan farmasi, pengamanan pengadaan, penyimpanan dan distribusi obat.
Pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat,
serta pengembangan obat, bahan obat, dan obat tradisional.
·
Perawat harus mengetahui peraturan yang
memengaruhi penatalaksanaan pengobatan di
area praktik mereka.
·
Sebelum menerima tanggung jawab dalam
memberi obat intravena, perawat harus berhati-hati terhadap kebijakan
administrative yang berlaku di institusi tempat perawat tersebut bekerja.
Karena suntikan intravena dapat menimbulkan efek samping yang serius, perawat
yang melaksanakan fungsi ini harus berkualitas, telah mengikuti dan memiliki
pendidikan dan pengalaman terkait.
·
Perawat bertanggung jawab mengikuti
ketentuan hokum saat memberikan zat terkontrol (obat yang memengaruhi pikiran
atau perilaku), yang hanya dapat dikeluarkan jika diresepkan. Pelanggaran
terhadap Controlled Substances Act dihukum dengan dikenakan denda, dipenjarakan
dan ijinnya sebagai perawat dicabut. Rumah sakit dan institusi perawatan
kesehatan lain memiliki kebijakan tentang penyimpanan dan pendistribusian zat
terkontrol yang benar, termasuk narkotik
3.
PENGGUNAAN OBAT NON TERAPEUTIK.
Meskipun
ada control hukum , beberapa orang menggunakan obat bukan untuk tujuan yang
benar. Penggunaan obat secara tidak bijaksana menimbulkan masalah kesehatan
yang serius bagipengguna, keluarga dan komunitasnya. Pada masa lalu penggunaan
yang keliru ( misuse ) atau penyalah gunaan obat ( drug abuse ) berhubungan
dengan penggunaan untuk memperolehn efek terapeutik, misalnya untuk meredakan
rasa nyeri atau menurunkan rasa cemas, Saat ini ada faktor lain seperti tekanan
teman sebaya, rasa ingin tahu, dan pencarian kesenangan merupakan motivator
penggunaan obat yang tidak terapeutik. Obat-obat tersebut seperti heroin,
kokain, dan alcohol.
Perawat
memiliki kewajiban etis dan hukum untuk memahami masalah individu yang
menyalahkangunakan obat. Ketika merawat klien yang di duga menyalahgunakan obat
atau mengalami ketergantungan obat, perawat harus menyadari nilai dan sikap
mereka sendiri terhadap penggunaan secara sengaja zat yang berpotensi
berbahaya.
Perawat
tidak dapat membangun hubungan yang terapeutik dengan klien, jika nilai-nilai
pribadinya menghambatnya menerima atau memahami kebutuhan klien.
Perawat
harus memiliki pengetahuan tentang perubahan fisik, psikologi, dan social
akibat penyalahgunaan obat, sehingga perawat dapat mengidentifikasi klien yang
memili9ki masalah dengan obat.
Pedoman Pemberian dan
Kontrol Narkotik yang Aman
·
Simpan semua narkotik di dalam lemari
atau kotak yang aman dan terkunci
·
Perawat bertanggung jawab membawa
perangkat kunci.
·
Pergantian jadwal dinas harus
benar-benar dilakukan untuk perhitungan jumlah
·
bat narkotik yang tersisa , dan disertai
tanda tangan oleh perawat yang bertanggung jawab pada saat itu.
·
Apabila perhitungan jumlah narkotik
tidak sesuai segera laporkan
·
Gunakan catatan inventaris khusus setiap
kali narkotik dikeluarkan
·
Catatan digunakan untuk mendokumentasi
nama klien, tanggal, waktu pemberian dan dosisi obat serta tanda tangan perawat
yang mengeluarkan obat.
·
Format menjelaskan perhitungan akurat
narkotik yang digunakan dan sisanya.
·
Adanya saksi sewaktu salah satu perawat
memberikan narkotik kepada klien, dan bila ada sisa dosis, maka saksi tersebut
yang mencatatnya.
Istilah yang dikaitkan
dengan Penggunaan Obat Nonterapeutik
·
Penyalahgunaan
Pola maladaptive
penggunaan zat diindikasikan oleh setidaknya salah satu hal berikut dalam
periode 12 bulan :
- Kembali menggunakan
zat yang mengakibatkan kegagalan dalam memenuhi kewajiban peran utama di tempat bekerja, disekolah atau
dirumah.
- Kembali menggunakan
zat dalam situasi yang membahayakan secara fisik
- Terlibat kembali
dalam masalah hokum
- Tetap menggunakan zat
walaupun terus memiliki masalah interpersonal atau social yang diakibatkan atau
diperburuk oleh efek zat
·
Ketergantungan
Sedikitnya tiga dari
pernyataan berikut terjadi dalam periode 12 bulan :
- Zat seringkali
dikonsumsi dalam jumlah lebih besar selama periode waktu yang lebih panjang
daripada yang diinginkan individu tersebut.
- Keinginan kuat satu
kali atau lebih berupaya mengurangi atau mengontrol penggunaan zat, tetapi
tidak berhasil
- Meluangkan banyak
waktu untuk mendapatkan, menggunakan zat, atau menjadi pulih dari efek zat.
- Gejala intoksikasi
atau putus zat sering muncul ketika klien diharapkan dapat memenuhi kewajiban
peran utamaditempat kerja, disekolah atau dirumah.
- Aktivitas social,
pekerjaan atau rekreasi yang penting tidak dilakukan atau berkurang akibat
penggunaan zat.
- Terus menggunakan zat
walaupun ia sadar dirinya memiliki masalah social, psikologis atau fisik yang
tetap atau berulang, yang diakibatkan atau diperburuk oleh penggunaan zat
- Toleransi terhadap
zat nyata, semakin meningkatkan jumlah zat untuk mencapai intoksikasi atau efek
yang diinginkan, atau pada penggunaan berlanjut dalam jumlah sama, efek zat
tidak timbul.
B. NOMENKLATUR DAN BENTUK OBAT
Suatu obat, atau medikasi, adalah zat
yang digunakan dalam diagnosis, terapi, penyembuhan, penurunan atau di gunakan
untuk pencegahan penyakit.
Anggota
tim kesehatan menggunakan istilah obat dan medikasi untuk maksud yang sama,
sedangkan orang awam biasanya mengartikan medikasi sebagai obat.
a.Nama
– Nama Obat
Setiap obat mempunyai beberapa nama.
Nama kimia menjelaskan struktur kimia dari obat. Sebuah obat dapat memiliki
empat nama berbeda. Nama kimia member gambaran komposisi obat. Salah satu
contoh nama kimia ialah asam asetilsalisilat yang biasa disebut sebagai
aspirin. Nama generic diberikan oleh pabrik yang pertama kali mempoduksi obat
tersebut sebelum mendapat izin dr FDA dan hal ini dilindungi hokum. Aspirin dan
verapamilhidro klorida adalah contoh nama generic. Undang-undang federal pada
tahun 1962 mewajibkan setiap obat diberi sebuah nama resmi. Nama resmi obat
adalah nama obat dalam publikasi resmi, missal dalam United States Pharmaciea
(USP). Sebuah nama obat generic seringkali menjadi nama resmi, missal pada
kasus aspirin. Nama dagang, nama merk atau nama pabrik adalah nama yang
digunakan pabrik dalam memasarkan obat. Sebuah obat generic dapat memiliki nama
dagang yang berbeda.
Nama
generic merupakan nama obat " resmi " atau nama obat yang tidak hanya
di miliki oleh pihak tertentu. Nama ini tidak dimiliki oleh suatu perusahaan
farmasi ( obat ) tertentu dan diterima secara universal. Kini kebanyakan obat
di resepkan dalam nama generic.
Nama
dagang, nama merk, atau nama pabrik adalah nama yang digunakan pabrikdalam
memasarkan obat, sebuah obat generikedapat memiliki nama dagang yang berbeda.
Nama dagang memiliki symbol ® di sebelah kanan atas nama obat,yang
mengindikasikan bahwa obat terdaftar .
Karena
ada begitu banyak nama nama dagang untuk satu nama nama generic, maka nama
generic diberikan terlebih dulu dalam huruf kecil, kemudian baru di ikuti
dengan nama dagang yang paling umum dipakai didalam tanda kurung.
Dengan
nama generic, nama akan menjadi lebih panjang dan sulit untuk disebutkan , nama
dagang biasanya di mulai dengan huruf besar
b.Klasifikasi
Pemberi
perawatan mengkatagorikan obat yang karakteristiknya sama berdasarkan
klasifikasi obat tersebut. Klasifikasi obat mengindikasikan efek pada system
tubuh, gejala yang di hilangkan atau efek yang di inginkan.
Setiap
golongan berisi obat yang di programkan untuk jenis masalah kesehatan yang
sama. Komposisi fisik dan kimia obat dalam satu golongan tidak selalu sama,
sebuahn obat dapat memiliki lebih dari satu golongan, contoh Asam mefenamat
merupakan obat analgesic, antipiratik dan anti inflamasi
Perawat
harus mengetahui karakteristik umum obat dalam setiap golongan. Setiap golongan
obat memiliki implikasi keperawatan untuk pemberian dan pemantauan yang tepat.
c.Bentuk
Obat
Obat tersedia dalam berbagai bentuk atau
preparat, bentuk obat menentukan rute
pemberian obat.
·
Kaplet
Bentuk dosis padat, untuk pemberian per oral, bentuk seperti kapsul dan bersalut sehingga mudah di telan.
Bentuk dosis padat, untuk pemberian per oral, bentuk seperti kapsul dan bersalut sehingga mudah di telan.
·
Kapsul
Bentuk dosis padat, untuik pemberian per oral, obat dalam bentuk bubuk, cairan, atau minyak dan di bungkus oleh selongsong gelatin, kapsul diwarnai untuk membantu identitas produk.
Bentuk dosis padat, untuik pemberian per oral, obat dalam bentuk bubuk, cairan, atau minyak dan di bungkus oleh selongsong gelatin, kapsul diwarnai untuk membantu identitas produk.
·
Eliksir
Cairan jernih berisi
air dan atau alcohol, dirancang untuk penggunaan obat per oral, biasanya
ditambah pemanis.
·
Tablet enteric bersalut
Tablet untuk pemberial
per oral, yang dilapisi bahan yang tidak larut dalam lambung, lapisan larut di
dalam usus, tempat obat diabsorpsi.
·
Ekstrak
Bentuk obat pekat yang dibuat dengan memindahkan bagian aktif obat dari komponen lain obat tersebut ( misalnya , eksdtrak cairan adalah obat yang di buat menjadi larutan dari sumber sayur-sayuran.)
Bentuk obat pekat yang dibuat dengan memindahkan bagian aktif obat dari komponen lain obat tersebut ( misalnya , eksdtrak cairan adalah obat yang di buat menjadi larutan dari sumber sayur-sayuran.)
·
Gliserit
Larutan obat yang dikombinasi dengan gliserin untuk penggunan luar, berisi sekurang-kurangnya 50 % gliserin.
Larutan obat yang dikombinasi dengan gliserin untuk penggunan luar, berisi sekurang-kurangnya 50 % gliserin.
·
Obat gosok ( liniment )
Preparat biasanya
mengandung alcohol , minyak, atau pelembut sabun yang diolesi pada kulit
·
lotion
Obat
dalam cairan, suspensi yang dioles pada kulit untuk melindunginya.
·
Salep
Semisolid (agak padat ), preparat yang dioles pada kulit, biasanya mengandung satu atau lebih obat.
Semisolid (agak padat ), preparat yang dioles pada kulit, biasanya mengandung satu atau lebih obat.
·
Pasta
Preparat semisolid, lebih kental dan lebih kaku daripada salap, diabsorpsi melalui kulit lebih lambat daripada salap
Preparat semisolid, lebih kental dan lebih kaku daripada salap, diabsorpsi melalui kulit lebih lambat daripada salap
·
Pil
Bentuk dosis padat
berisi satu atau lebih obat, di bentuk ke dalam bentuk tetesan, lonjong atau
bujur, pil yang sesungguhnya jarang digunakan karena telah digantikan dengan
tablet.
·
Larutan
Preparat cairan yang
dapat digunakan per oral, parenteral, ataua secara eksternal, dapat juga
dimasukan kedalam organ atau ronnga tubuh ( missal irigasi kandung kemih )
berisi air dan mengandung satu atau lebih senyawa terlarut, harus steril dalam
penggunaan parentral.
·
Supositoria
Bentuk dosis padat yang dicampur dengan gelatin dan dibentuk dalam bentuk peluru untuk dimasukan kedalam rongga tubuh ( rectum atau vagina ), meleleh saat mencapai suhu tubuh , melepas obat saat di absorpsi.
Bentuk dosis padat yang dicampur dengan gelatin dan dibentuk dalam bentuk peluru untuk dimasukan kedalam rongga tubuh ( rectum atau vagina ), meleleh saat mencapai suhu tubuh , melepas obat saat di absorpsi.
·
Suspensi
Partikel obat yang dibelah sampai halus dan larut dalam media cair, saat dibiarkan partikel berkumpul dibagian bawah wadah, umumnya merupakan obat oral dan tidak diberikan per intra vena.
Partikel obat yang dibelah sampai halus dan larut dalam media cair, saat dibiarkan partikel berkumpul dibagian bawah wadah, umumnya merupakan obat oral dan tidak diberikan per intra vena.
·
Sirup
Obat yang larut dalam larutan gula pekat, mengandung perasa yang membuat obat terasa lebih enak.
Obat yang larut dalam larutan gula pekat, mengandung perasa yang membuat obat terasa lebih enak.
·
Tablet
Bentuk dosis bubuk yang dikompresi kedalam cakram atau silinder yang keras, selain obat utama mengandung zat pengikat ( perekat untuk membuat bubuk menyatu ), zat pemisah ( untuk meningkatkan pelarutan tablet ), lubrikan ( supaya mudah dibuat pabrik ) dan zat pengisi ( supaya ukuran tablet cocok )
Bentuk dosis bubuk yang dikompresi kedalam cakram atau silinder yang keras, selain obat utama mengandung zat pengikat ( perekat untuk membuat bubuk menyatu ), zat pemisah ( untuk meningkatkan pelarutan tablet ), lubrikan ( supaya mudah dibuat pabrik ) dan zat pengisi ( supaya ukuran tablet cocok )
·
Cakram atau lempeng transdermal
Obat berada dalam
cakram(disk) atau patch membrane semipermeabel yang membuat obat dapat
diabsorpsi perlahan-lahan melalui kulit dalam periode waktu yang lama
·
Tingtura Alkohol atau larutan obat Tablet
isap ( troche, lozenge )
Bentuk dosis datar,
bundar, mengandung obat , cita rasa , gula, dan bahan perekat cair, larut dalam
mulut untuk melepas obat
C. SIFAT KERJA OBAT
Obat bekerja menghasilkan efek
terapeutik yang bermanfaat. Sebuah obat tidak menciptakan suatu fungsi didalam
jaringan tubuh atau organ, tetapi mengubah fungsi fisiologis. Obat dapat
melindungi sel dari pengaruh agens kimia lain,meningkatkan fungsi sel, atau
mempercepat atau memperlambat proses kerjasel. Obat dapat menggantikan zat
tubuh yang hilang ( contoh; insulin, hormon tiroid, atau esterogen)
a.Mekanisme Kerja
Obat
menghasilakan kerja dengan mengubah cairan tubuh atau membran sel atau dengan
berinteraksi dengan tempat reseptor. Obat – obatan, misalnya gas anestesi umum,
berinteraksi dengan membrane membran sel. Setelah sifat sel berubah, obat
mengeluarkan pengaruhnya. Mekanisme kerja obat yang paling umum ialah terikat
pada tempat reseptor sel. Reseptor melokalisasi efek obat. Tempat reseptor
berinteraksi dengan obat karena memiliki bentuk kimia yang sama. Obat dan
reseptor saling berikatan seperti gembok dan kuncinya.Ketika obat dan reseptor
saling berikatan, efek terapeutik dirasakan. Setiap jaringan atau sel dalam
tubuh memiliki kelompok reseptor yang unik. Misalnya, reseptor pada sel jantung
berespon terhadap preparat digitalis.
b.Farmakokinetik
Farmakokinetik
adalah ilmu tentang cara obat masuk
kedalam tubuh, mencapai tempat kerjanya, dimetabolisme, dan keluar dari tubuh,
mencapai tempat kerjanya, dimetabolisme, dan keluar darii tubuh. Dokter dan
perawat menggunakan pengetahuan farmakokinetiknya ketika memberikan obat,
memilih rute pembarian obat, menilai risiko perubahan kerja obat, dan
mengobservasi respons klien.
c.Absorpsi
Absorpsi
adalah cara moolekul obat masuk ke dalam darah. Kebanyakan ibat, kecuali obat
yang digunakan secar topical untuk
memperoleh efek local harus masuk kedalam sirkulasi sistematik untuk
menghasilakn efek yang terapeutik. Fakto – factor yang mempengaruhi absorpsi
obat antara lain rute pemberian obat, daya larut obat, dan kondisi di tempat
absorpsi.
Setiap
rute pemberian obat memiliki pengaruh yang berbeda pada absorpsi obat,
bergantung pada struktur fisik jaringan. Kulit relatif tidak dapat ditembus zat
kimia, sehingg absorpsi menjadi lambat. Membran mukosa dan saluran nafas
mempercepat absorpsi akibat vaskularitas yang tinggi pada mukosa dan permukaan
kapiler-alveolar. Karena obat yang diberika per oral harus melewati system
pencernaan untuk diabsorpsi, kecepatan absorpsi secara keseluruhan melambat.
Injeksi intravena menghasilkan absorpsi yang paling cepat karena dengan rute
ini obat dengan cepat masuk ke dalam sirkulasi sistematik.
Kondisi di tempat absorpsi mempengaruhi
kemudahan obat masuk ke dalam sirkulasi sistematik. Apabila kulit tergores,
obat topical lebih mudah diabsorpsi. Obat topical yang biasanya diprogramkan
untuk memperoleh efek local dapat menimbulkan reaksi yang serius ketika
diabsorpsi melalui lapisan kulit. Adanya edema pada membrane mukosa
memperlambat absorpsi obat karena obat membutuhkan waktu lama untuk berdifusi
ke dalam pembuluh darah. Absorpsi obat parental yang diberikan bergantung pada
suplai darah dalam jaringan. Sebelum memberikan sebuah obat melalui injeksi,
perawat harus mengkaji adanya factor local, misalnya edema, memar atau jaringan
parut bekas luka, yang dapat menurunkan
yang paling cepat absorpsi obat. Karena otot mempunyai suplai darah yang
lebih banyak daripada jaringan subkutan (SC), obat yang diberikan per
intramuscular (melalui otot) diabsorpsi lebih cepat daripada obat yang
disuntikan per subkutan. Pada beberapa kasus , absorpsi subkutan yang lambah
lebih dipilih karena menghasilkan efek yang dapat bertahan lama. Apabila
perfusi jaringan klien buruk, misalnya pada kasus syok sirkulasi, rute
pemberian obat yang terbaik ialah melalui intravena. Pemberian obat intravena
menghasilkan absorpsi yang paling cepat dan dapat diandalkan,
Rute
pemberian obat diprogramkan dan perawatan kesehatan. Perawat dapat meminta obat
diberikan dalam cara atau bentuk yang berbeda, berdasarkan pengkajian fisik
klien. Contoh bila klien tidak dapat menelan tablet maka perawat akan meminta
obat dalam bentuk eliksir atau sirup. Pengetahuan tentang factor yang dapat
mengubah atau menurunkan absorpsi obat membantu perawat melakukan pemberian
obat dengan benar. Makanan didalam saluran cerna dapat mempengaruhi Ph,
motilitas, dan pengankutan obat ke dalam saluran cerna. Kecepatan dan luas
absorpsi juga dapat dipengaruhi oleh makanan. Perawat harus mengetahui
implikasi keperawatan untuk setiap obat yang diberikan. Contohnya, obat seperti
aspirin, zat besi, dan fenitoin natrium ( Dilantin) mengiritasi saluran cerna
dan harus diberikan bersama makanan atau segera setelah makan. Oleh karena itu,
obat – obatan tersebut harus diberikan satu sampai dua jam sebelum makan atau
dua sampai tiga jam setelah makan. Sebelum memberikan obat, perawat harus
memeriksa buku obat keperawatan, informasi obat, atau berkonsultasi dengan
apoteker rumah sakit mengenai interaksi obat dan nutrien.
d.Distribusi
Setelah
diabsorpsi, obat didistribusikan di dalam tubuh ke jaringan dan organ tubuh dan
akhirnya ke tempat kerja obat tersebut. Laju dan luas distribusi bergantung
pada sifat fisik dan kimia obat dan struktur fisiologis individu yang
menggunakannya.
D. Berat dan
Komposisi Obat
Ada
hubungan langsung antara jumlah obat yang diberikan dan jumlah jaringan tubuh tempat obat didistribusikann.
Kebanyakan obat diberikan berdasarkan berat dan komposisi tubuh dewasa.
Perubahan komposisi tubuhbdapat memengaruhi distribusi obat secara bermakna.
Contuh tentang berat dan komposisi tubuh dewasa. Perubahan komposisi
tubuhbdapat memengaruhi distribusi obat secara bermakna. Contoh tentang hal ini
dapat ditemukan pada klien lansia. Karena penuan, jumlah cairan tubuh
berkurang, sehingga obat yang dapat
larut dalam air tidak didistribusikan dengan baik dan konsentrasinya
meningkat di dalam darah klien lansia. Peningkatan presentase lemak tubuh
secara umum ditemukan pada klien lansia, membuat kerja obat menjadi lebih lama
karena distribusi obat di dalam tubuh lebih lambat. Semakin kecil berat badan
klien, semakin besar konsentrasi obat di dalam jaringan tubuhnya, dan efek obat
yang dihasilkan makin kuat. Lansia mengalami penurunan massa jaringan tubuh dan
tinggi badan dan sering kali memerlukan dosis obat yang lebih rendah daripada
klien yang lebih muda.
a. Sistem Penghitungan dan Volume Obat
1. Sistem metrik
Sistem
desimal berdasar kelipatan 10. Unit dasar dari pengukuran adalah gram (g, gm,
G, Gm) untuk berat; liter (l,L) untuk volume; dan meter (m, M) untuk pengukuran
linera atau panjang. Unit metrik yang paling sering dipakai dalam penulisan
obat adalah:
1 g = 1000 mg
1 L = 1000 mL
1 mg= 1000 µ (mkg)
Untuk
dapat mengkonversi suatu jumlah, satu dari nilai-nilai harus diketahui, seperti
gram atau miligram, liter atau mililiter, dan miligram atau mikrogram. Gram,
liter, dan meter adalah unit yang lebih besar; miligram, mililiter, dan
milimeter adalah unit yang lebih kecil.
2. Sitem farmasi
Menggunakan
angka romawi dan tidak memakai angka arab untuk menyatakan jumlah, dan angka
romawi diletakkan setelah simbol singkatan untuk unit pengukuran. Angka romawi
dituliska dengan huruf kecil, contohnya grx berarti 10 grains. dalam sistem
farmasi, unit berat adalah grain (gr) dan unit volume cairan adalah ounce
(fluidounce), dram (fluidram) dan minim(min).
3. Sistem rumah tanggah
Pengukuran
tidak setepat sistem metrik atau farmasi, pengukuran bersifat kira-kira. Satu
sendok the (t) dianggap ekuivalen dengan 5 mL menurut USP resmi. Ingat bahwa
mililiter (mL) adalah sama dengan cc (centimeter cubik). 3 sendok the setara
dengan 1 sendok makan.
b. Penghitungan Larutan
Suatu
massa zat padat yang larut dalam suatu volume cairan lain yang diketahui (g/mL,
g/L, mg/mL). Larutan 10% = 10 g zat padat yang dilarutkan dalam 100 mL larutan.
Larutan 1 : 1000 = larutan yang mengandung 1 g zat padat dlm 1000 mL cairan / 1
ml cairan dalam 1000 mL cairan lain.
c. Penghitungan Dosis Anak
Pemberian
dosis obat pada anak memerlukan suatu pertimbangan yang seksama terhadap
perbedaan antara anak dan orang dewasa sehubungan dengan farmakokinetika dan
farmakologi obat. Seorang anak selalu mengalami proses pertumbuhan dan
perkembangan dan dalam proses ini selalu akan terjadi perubahan-perubahan dari
waktu ke waktu. Selama masih dalam proses tumbuh dan kembang, fungsi organ dan
keadaan seorang anak juga berkembang.Perbedaan komposisi tubuh dan kesempurnaan
pertumbuhan hati dan fungsi ginjal merupakan sumber perbedaan yang potensial
dalam farmakokinetika yang berhubungan dengan umur. Masalah pemakaian obat pada
anak meliputi penentuan jenis obat, dosis, frekuensi, lama dan cara pemberian.
Adapun berbagai pertimbangan pemakaian obat pada anak, yaitu:
1. Factor
farmakokinetik : ADME
2. Pertimbangan dosis
terapetik dan toksik, apakah obat termasuk lingkup terapi lebar atau
3. Perhitungan dosis
4. Segi praktis
pemakaian obat : cara pemberian, kebiasaan, ketaatan.
5. Pertimbangan
Farmakokinetika
Penentuan
dosis pada anak harus selalu individual. Dosis mengacu pada buku standar
pediatri atau pedoman terapi, selain itu dapat juga melihat acuan pada kemasan
yang ada pada obat tersebut. Jika tidak ditemukan informasi dosisnya, dapat
dilakukan perhitungan dosis berdasarkan umur, berat badan, dan luas permukaan
tubuh.Penentuan dosis pada anak harus selalu individual. Dosis mengacu pada
buku standar pediatri atau pedoman terapi, selain itu dapat juga melihat acuan
pada kemasan yang ada pada obat tersebut. Jika tidak ditemukan informasi
dosisnya, dapat dilakukan perhitungan dosis berdasarkan umur, berat badan, dan
luas permukaan tubuh.
a.
Berdasarkan umur (formula young) Dosis
anak = dosis dewasa x (umur(tahun)/umur+12 tahun) Karena proses tumbuh kembang
anak itu tidak sama pada anak-anak dalam kelompok umur yang sama, maka
ketepatan dosis atas dasar umur juga diragukan.
b. Berdasarkan berat badan (formula Clark) Dosis anak = dosis dewasa x (berat badan(kg)/ 70 kg)
c.
Berdasarkan luas permukaan tubuh Dosis anak = dosis dewasa x (luas permukaan
tubuh(m2)/1,73) Pada saat ini dianggap yang paling tepat karena ketimpangan
antara dosis anak dan dosis dewasa lebih kecil.
d. Perhitungan dosis
menurut formula Pincus Catzell
persentase dari dosis dewasa, yaitu
:
Ø bayi baru lahir 12%
Ø 1-12 bulan 15-25 %
Ø 1-5 tahun 25-40 %
Ø 5-12 tahun 50-75%
cara ini sangat
praktis, tetapi kelemahannya sama seperti pada yang berdasarkan umur.
Untuk pemilihan obat
pada anak perlu diperhatikan dalam
a.
Hindari pemberian anak obat-obatan yang diperuntukkan bagi orang dewasa
meskipun dengan dosis kecil
b.
Hindari pemberian obat dari resep dokter yang diberikan pada orang lain dan
buka atas nama anak
c.
Memberikan obat khusus yang ditujukan hanya untuk anak dengan kondisi yan g
khusus pula
d.
Untuk pemberian antibiotik pada anak harus tepat dosis dan durasinya. Orang tua
diberi penjelasan pen tingnya melanjutkan pengobatan sesuai dengan waktu yang
ditentukan dalam resep meskipun anak tampak sembuh. Dalam pembarian obat pada
anak , sedian obat yang banyak disedian untuk anak dibuat dalam bentuk elitsir
atau suspensi. Jika obat yang tersedia untuk anak dalam bentuk tablet sebaikya
dihaluskan atau digerus terbi dahulu karena tablet yang dikunyah akan membuat
anak tersedak, obat tertelan dan membuat tenggorokannya tersumbat. Jika obat
diberikan melalui injeksi sebaiknya dilakukan di paha depan atau lengan atas
jangan di pantat karena pada anak otot gluteusnya masih kecil dan di pantat
terdapat syaraf yang menginervasi ekstermitas bawah yang dapat terjhadi
kelumpuhan jka terjadi salah suntik. Sedangkan unuk waktu pemberian obat pada
anak disesuaikan dengan dosis yang dintruksikan dokter. Orang tua anak juga
harus diberitahu apakah harus membangunkan anak atau tidak untuk dosis setiap 6
jam pagi, siang dan malam. Untuk pemberian antibiotik pada anak harus tepat
dosis dan durasinya. Orang tua diberi penjelasan pentingnya melanjutkan
pengobatan sesuai dengan waktu yang ditentukan dalam resep meskipun anak tampak
sembuh.
Setelah selesai
pemberian obat perawat harus mengevaluasi terapi obat yang telah diberikan yang
meliputi:
a. Memantau kondisi umum dan tanda-tanda vital
anak setelah selesai pemberian obat
b. Perawat harus memantau secara ketat trhadap
efek samping obat-obatan pada anak karena fungsi ginjal dan hati yang
belum matang
c.Lebih
memperhatikan obat-obat yang proses m etabolismen ya denagn oksidasi dan
hidrolisa karena waktu paruh penek sehingga cepat dimetabolisme dibandingkan
dengan orang dewasa seperti barbital, fenitoin dan teofilin
d.
Untuk anak-anak dengan pen yakit kronis, farmasetika, farmakokinetik dan
farmakodinamik harus dipantau dan memperhatikan tumb uh kembang anak.
d.
Macam-Macam Dosis
a.
Dosis Terapi : dosis yang diberikan
dalam keadaan biasa dan dapat menyembuhkan si sakit
b.
Dosis Maksimum : dosis yang terbesar yangdapat
diberikan kepada orang dewasa untuk pemakaian sekali dan sehari tanpa
membahayakan.
c.
Dosis Toxic : obat yang tergolong racun
ada kemungkinan terjadi keracunan.
d.
Dosis Lethal : Dosis toksik yang sampai
mengakibatkan kematian (Joenoes, 2004).
e.
Inithial Dose atau Loading dose: Dosis
obat untuk memulai terapi sehingga dapat mencapai konsentrasi terapeutik dalam
tubuh yang Menghasilkan efek klinis.
f.
Loading dose : dosis tinggi ketika obat diberikan
pada awal terapi pengobatan sebelum dilanjutkan ke terapi dosis yang lebih
rendah
g.
Maintenance Dose : Dosis untuk
memelihara dan mempertahankan efek klinik atau konsentrasi terapeutik obat yang
sesuai dengan dosis regimen.
E. Dinamika Sirkulasi
Obat
lebih mudah keluar interstial ke dalam ruang intravascular daripadadi antara
kompartemen tubuh. Pembuluh darah dapat ditembus oleh kebanyakan zat yang dapat
larut, kecuali oleh partikel obat yang besar atau berikatan dengan protein
serum. Konsentrasi sebuah obat pada sebuah tempat tertentu bergantung pada
jumlah pembuluh darah dalam jaringan, tingkat vasolidasi atau vasokontruksi
local, dan kecepatan aliran darah ke sebuah jaringan. Latihan fisik, udara yang
hangat, dan badan yang menggigil mengubah sirkulasi local. Contoh, jika klien
melakukan kompres hangat pada tempat suntikn intramuscular, akan terjadi
vasoliditas yang meningkatkan distribusi obat.
·
Ikatan
protein
Derajat kekuatan ikatan obat dengan
protein serum, misalnya albumin, memengaruhi distribusi obat. Kebanyakan obat
terikat pada protein dalam tingkatan tertentu. Ketika molekul obat terikat pada
albumin, obat tidak dapat menghasilkan aktivitas farmakologis. Obat yang tidak
berikatan atau “bebas” adalah bentuk aktif obat. Lansia mengalami penurunan
kadar albumin dalam aliran darah, kemungkinan disebabkan oleh penurunan fungsi
hati. Hal yang sama terjadi pada klien yang menderita penyakit hati atau
malnutrisi. Akibatnya, lansia dapat beresiko mengalami peningkatan aktivitas
obat, toksisitas obat, atau keduanya.
·
Metabolisme
Setelah mencapai tempat kerjanya, obat dimetabolisasi
menjadi bentuk tidak aktif, sehingga lebih mudah diekskresi. Sebagian besar
Biotransformasi berlangsung dibawah pengaruh enzim yang mendetoksifikasi,
mengurai (memecah), dan melepas zat kimia aktif secara biologis. Kebanyakan
biotransformasi berlangsung didalan hati, walaupun paru – paru, ginjal, darah,
dan usus juga memetabolisasi obat.
Hati
sangat penting karena strukturnya yang khusus mengoksidasi dan mengubah banyak zat
toksi. Hati mengurai banyak zat kimia berbahaya sebelum didistribusi ke
jaringan. Penurunan fungsi hati yang terjadi seiring penuaan atau disertai
penyakit hati memengaruhi kecepatan eliminasi obat dari tubuh. Perlambatan
metabolisme yang dihasilkan membuat obat terakumulasi didalam tubuh. Akibatnya
klien lebih berisiko mengalami toksisitas obat. Apabila organ yang
berpartisipasi dalam metabolisme obat mengalami perubahan, klien berisiko
mengalami toksisitas obat
·
Ekskresi
Setelah
dimetabolisme, obat keluar dari tubuh melalui ginjal, hati, usus, paru, dan
kelenjar eksokrin. Struktur kimia sebuah obat menentukan organ yang
mengekskresinya. Senyawa gas dan senyawa
volatile (zat yang mudah menguap), misalnya eter, dinitrogen monoksida, dan
alcohol keluar melalui paru.
Kelenjar
eksokrin mengekskresi obat larut lemak. Ketika obat keluar melalui kelenjar
keringat, kulit dapat mengalami iritasi.
Saluran
cerna adalah jalur lain ekskresi obat. Banyak obat masuk ke dalam sirkulasi
hati untuk dipecah oleh hati dan diekskresi ke dalam empedu. Setelah zat kimia
masuk ke dalam usus melalui saluran empedu, zat tersebut diabsorbsi kembali
oleh usus. Faktor-faktor yang meningkatkan peristaltik, misalnya laksatif dan
enem, mempercepat ekskresi obat melalui feses. Sedangkan factor-faktor yang
memperlambat peristaltic, misalnya tidak melakukan aktivitas atau diet yang
tidak tepat, memperpanjang efek obat.
Ginjal
adalah organ utama ekskresi obat. Obat lain menjalani biotransformasi di hati
sebelum diekskresi oleh ginjal.
·
Efek
Terapeutik
Efek
terapeutik merupakan respons fisiologis obat yang diharapkan atau yang
diperkirakan timbul. Pengobatan tunggal dapat menghasilkan banyak efek yang
terapeutik.
·
Efek
samping
Efek
samping ini mungkin tidak berbahaya atau bahkan menimbulkan cedera. Apabila
efek samping cukup serius hingga menghilangkan efek terapeutik obat, dokter
dapat menghentikan pemberian obat.
·
Efek
Toksik
Umumnya,
efek toksik terjadi setelah klien meminum obat berdosis tinggi dalam jangka
waktu lama, setelah lama menggunakan obat yang ditujukan untuk aplikasi
eksternal, atau setelah suatu obat berakumulasi di dalam darah akibat kerusakan
metabolisme atau ekskresi. Satu dosis obat dapat menimbulkan efek toksik pada
beberapa klien. Jumlah obat yang berlebihan di dalam tubuh dapat menimbulkan
efek yang mematikan, bergantung pada kerja obat.
·
Reaksi
Idiosinkratik
Obat
dapat menyebabkan timbulnya efek yang tidak diperkirakan, misalnya reaksi
idiosinkratik, yang meliputi klien bereaksi kelebihan, tidak bereaksi, atau
bereaksi tidak normal terhadap obat.
·
Reaksi
Alergi
Reaksi
alergi adalah respons lain yang tidak dapat diperkirakan terhadap obat. Dari
seluruh reaksi obat, 5% sampai 10% merupakan reaksi alergi. Apabila obat
diberikan secara berulang kepada klien, ia akan mengalami respons alergi
terhadap obat, zat pengawet obat, atau metabolitnya. Dalam hal ini obat atau
zat kimia bekerja sebagai antigen, memicu pelepasan antibody.
Reaksi
yang berat atau reaksi anafilaksis ditandai oleh konstriksi (pengecilan) otot
bronkiolus, edema faring dan laring, mengi berat, dan sesak napas.
·
Toleransi
terhadap Obat
Beberapa
klien yang menerima obat dalam jangka waktu lama memerlukan dosis yang lebih
tinggi untuk memperoleh efek yang sama. Klien yang menggunakan berbagai obat
nyeri dapat mengalami toleransi setelah jangka waktu tertentu. Seringkali,
setelah jangka waktu tertentu klien perlu meningkatkan dosis obat nyeri untuk
meredakan nyeri.
·
Interaksi
Obat
Interaksi
obat umumnya terjadi pada individu yang menggunakan beberapa obat. Sebuah obat
dapat menguatkan atau menghilangkan kerja obat lain dan dapat mengubah
absorpsi, metabolisme, atau pembuangan obat tersebut dari tubuh.
Dengan
efek sinergis, kerja fisiologis kombinasi kedua obat tersebut lebih besar dari
pada efek obat bila diberikan terpisah. Alcohol adalah depresan susunan saraf
pusat yang memiliki efek sinergis pada antihistamin, antidepresan, berbiturat,
dan analgesik narkotik.
Interaksi
obat selalu diharapkan seringkali seorang dokter memprogramkan terapi obat
kombinasi untuk menciptakan interaksi obat guna mendapatkan keuntungan
terapeutik.
·
Respon
Dosis Obat
Tujuan
suatu obat diprogramkan adalah untuk mencapai kadar darah yang konstan dalam
rentang terapeutik yang aman.Dosis berulang diperlukan untuk mencapai
konsentrasi terapeutik konstan suatu obat karena sebagian obat selalu dibuang
(diekskresi). Konsentrasi serum tertinggi obat (konsentrasi puncak). Biasanya
dicapai sesaat sebelum obat terakhir diabsorbsi.Setelah mencapai puncak,
konsentrasi serum bertahap.Pada penginfusan obat intravena, konsentrasi puncak
dicapai dengan cepat, tetapi kadar serum juga mulai turun dengan cepat.
Semua
obat memiliki waktu paruh serum, yakni waktu yang diperllukan proses ekskresi
untuk menurunkan konsentrasi seru sampai setengahnya.Dengan mengetahui interval
waktu kerja obat, perawat dapat mengantisipasi efek suatu obat :
1.Awitan
kerja obat.
2.Kerja
puncak obat.
3.Durasi
kerja obat.
4.Plateau
F.Faktor Yang
Mempengaruhi Kerja Obat
a.Perbedaan Genetic
Susunan genetil mempengaruhi
biotransformasi obat. Pola metabolic dalam keluarga sering kali sama. Faktor
genetic menentukan apakah enzim yang terbentuk secara alami ada untuk membantu
penguraian obat. Akibatnya, anggota keluarga sensitive terhadap suatu obat.
b.Variabel fisiologis
Perbedaan hormonal antara pria
dan wanita mengubah metabolisme obat tertentu.Hormon dan obat salinh bersaing
dalam biotransfornasi karena kedua senyawa tersebut terurai dalam proses
metabolic yang sama. Variasi diurnal pada sekresi estrogen bertanggung jawab
untuk fluktuasi siklik reaksi obat yang dialaami wanita. Usia berdampak
langsung pada kerja obat.Sistem tubuh mengalami perubahan fungsi dan struktur
yang mengbah pengaruh obat. Perawat harus berupaya untuk meminimalkan efek obat
yang berbahaya dan meningkatkan kapasitas fungsi yang tersisa pada klien.
c. Kondisi lingkungan
Stres fisik dan emosi yang
berat akan memicu respon hormonal yang pada akhirnya mengganggu metabolisme
obat pada klien. Radiasi ion menghasilkan efek yang sama dengan mengubah kecepatan enzim. Pada
cuaca panas dosis vasodilator perlu dikurangi karena suhu yang tinggi
meningkatkan efek obat. Cuaca dingin cenderung meningkatkan vasokontriksi,
sehingga dosis vasodilator perlu ditambah
d. Faktor psikologis
Sejumlah factor psilkologis
mempengaruhi penggunaan obat dan respon tehadap obat.Sikap sesorang terhadap
obat berakar dari pengalaman sebelumnya atu pengaruh keluarga. Makna obat atau
signifikansi mengonsumsi obat mempengaruhi respon klien terhadap terapi. Sebuah
obat dapat digunakan sebagi cara untuk mengatasi rasa tidak aman. Pada situasi
ini, klien bergantung pada obat sebagai media koping dalam kehidupan.
Sebaliknya jika klien kesal terhadap kondisi fisik mereka, rasa marah dan sikap
bermusuhan dapat menimbulkan reaksi yang diinginkan terhadap obat.
c. Diet
Interaksi obat dan nutrien
dapat mengubah kerja obat atau efek nutrient. Contoh, vitamin K (terkandung
dalam sayuran hijau berdaun) merupakan nutrient yang melawan efek warfarin
nutrium (Coumadin), mengurangi efeknya maka mekanisme pembekuan darah. Minyak
mineral menurunkan absorpsi vitamin larut lemak. Klien membutuhkan nutrisi
tambahan ketika mengkonsumsi obat yang menuurunkan efek nutrisi. Menahan
konsumsi nutrient tertentu dapat menjamin efek terapeutik obat.
G. Rute
Pemberian obat
a.Rute
Oral
1.Pemberian Per Oral
Rute
oral adalah rute yang paling mudah dan paling umum digunakan. Obat diberikan
melalui mulut dan di telan. Obat yang diberikan per oral lebih murah daripada banyak
preparat lain. Awitan kerja obat oral lebih lambat dan efeknya lebih lama.
Klien umumnya lebih memilih rute oral.
2.Pemberian Sublingual
Obat
sublingual di rancang supaya, setelah diletakkan dibawah lidah tidak bleh
ditelan.Bila ditelan efek yang diharapkan tudak akan tercapai.Nitrogliserin
umumnya diberikan secara sublingual. Klien tidak boleh minum sampai seluruh
obat larut.
3.Pemberian bukal
Pemberian
obat melalui rute bukal dilakukan dengan menempatkan obat padat di membrane
mukosa pipi sampai obat larut. Klien harus diajarkan untuk menempatkan dosis
obat secara bergantian dipipi kanan dan kiri supaya mukosa tidak iritasi. Klien
juga diperingatkan untuk tidak mengunyah atau menelan obat atau minum air
bersama obat.
Keuntungan Pemberian
Obat Rute Oral, Bukal, Sublingual
·
Rute ini cocok dan nyaman bagi klien\
·
Ekonomis
·
Dapat menimbulkan efek local atau
sistemik
·
Jarang membuat klien cemas
Kerugian atau
kontraindikasi
·
Rute ini dihindari bila klien mengalami
perubahan fungsi saluran cerna, motilitas menurun dan reaksi bedah bagian
saluran cerna
·
Beberapa obat dihancurkan oleh sekresi
lambung
·
Rute oral dikontraindikasikan pada klien
yang tidak mampu menelan (mis, klien yang mengalami gangguan neuromuscular,
striktur (penyempitan) esophagus, lesi pada mulut.
·
Obat oral tidak dapat diberikan kepada
klien yang terpasang pengisap lambung dan dikontraindikasikan pada klien yang
akan menjalani pembedahan atau tes tertentu
·
Klien tidak sadar atau bingung, sehingga
tidak mampu menelan atau mempertahankan dibawah lidah
·
Obat oral dapat mengiritasi lapisan
saluran cerna, mengubah warna gigi atau mengecup rasa yang tidak enak.
b.Rute
Parenteral
Rute
parenteral adalah memberikan obat dengan menginjeksinya kedalam tubuh jaringan
tubuh. Pemberian parenteral meliputi empat tipe utama injeksi berikut :
1.
Subkutan (SC). Injeksi kedalam jaringan tepat dibawah lapisan dermis kulit.
2.
Intradermal (ID). Injeksi kedalam dermis tepat dibawah epidermis.
3.
Intramuscular (IM). Injeksi kedalam otot tubuh.
4.
Intravena (IV). Suntikan kedalam vena.
Beberapa
obat diberikan kedalam rongga tubuh selain empat tipe yang tertera diatas. Di
beberapa institusi perawat mungkin bertanggung jawab memberikan obat dengan
teknik yang maju ini. Baik memberikan obat melalui rute ini atau tidak, perawat
tetap bertanggung jawab memantau keituhan system pemberian obat.
Berikut adalah pemberian obat yang
canggih dimana perawat memiliki tanggung
jawab :
a.Epidural
Obat
diberikan di dalam ruang epidural via kateter yang telah di pasang oleh perawat anestesi atau ahli anestesi.
Perawat yang telah mendapat pelatihan khusus dapat membeikan obat dalam bentuk
bolus atau melalui infuse kontinu.
b.Intratekal
Obat
inratekal diberikan melalui kateter yang telah dipasang ke dalam ruang
subaraknoid atau ke dalam salah satu ventrikel otak. Pemberian intratekal
sering kali berhubungan dengan pemberian obat jangka panjang melalui kateter
yang di pasang melalui pembedahan. Dibanyak institusi dokter biasanya
memasukkan obat ke dalam kateter intravekal.
c.Intraoseosa
Metode
pemberian obat ini dilakukan dengan memasukkan obat langsung kedalam sumsum
tulang. Metode ini paling sering di gunakan pada bayi dan toddler yang akses
pembuluh darahnya buruk. Metode ini paling sering digunakan pada kondisi
kedaruratan dan akses IV tidak mungkin dilakukan. Dokter menginsersi jarumn
intraoseosa ke dalam tulang, biasanya ke tibia, sehingga perawat dapat
memberikan obat.
d.Intraperitonial
Obat diberikan ke dalam rongga peritoneum. Di sini obat diabsorpsi
ke dalam sirkulasi. Kemoterapi dan antibiotic biasanya diberikan dengan cara
ini. Salah satu metode dianalisis juga menggunakan rute peritoneum untuk
memindahkan cairan, elektrolit, dan produk limbah.
e.Intrapleura
Obat
diberikan melalui dinding dada dan langsung ke dalam ruang pleura. Obat
dimasukkan melalui sebuah injeksi atau selang dada yang diinsersi oleh dokter.
Kemoterapi adalah obat yang paling sering diberikan melalui metode ini. Dewasa
ini semakin banyak indikasi yang lebih baru untuk penggunaan metode ini. Salah
satu indikasi tersebut ialah memasukkan agens analgesic melalui kateter
intrapleura yang dirancang khusus (Martin dan Mehery,1994)
f.Intraarteri
Pada
metode ini obat dimasukkan langsung ke dalam arteri. Infusi intraarteri umum
dilakukan pada klien yang di dalam arterinya terdapat bekuan. Perawat akan
mengatur pemasukan agens penghancur bekuan melalui infuse kontinu. Perawat
harus dengan cermat memantau integritas infuse ini mencegah system tersebut putus
akibat hati-hati dan perdarahan setelah itu.
c.Pemberian
Topikal
Obat yang diberikan melalui
kulit dan membrane mukosa pada prinsipnya menimbulkan efek local. Pemberian
topical dilakukan dengan mengoleskannya di suatu daerah kulit, memasang balutan
yang lembab, merendam bagian tubuh dalam larutan, atau menyediakan air mandi
yang di campur obat. Efek sistemik timbul, jika kulit klien tipis, konsentrasi
obat tinggi, atau juga obat bersentuhan dengan kulit dalam jangka waktu lama.
Obat diberikan
secara topical dengan menggunakan cakram atau lempeng transdermal (contoh,
nitrogliserin, skopolamin, fentanil, dan estrogen). Cakram melindungi salep
obat pada kulit. Metode pengantaran obat ini menjamin klien menerima kadar obat
secara kontinu dalam darahnya, bukan kadar yang terputus-putus, seperti yang
terjadi pada pemberian obat dalam bentuk oral atau injeksi. Obat topical ini
dapat di berikan sekurang-kurangnya 24 jam sampai 7 hari.
Perawat
menggunakan metode di bawah ini dalam pemberian obat pada membrane mukosa:
1. Pemberian
cairan secara langsung ( contoh, meminta klien berkumur, mengusap tenggorok)
2. Insersi obat ke
dalam rongga tubuh ( contoh, menempatkan supositorial pada rectum atau vagina
atau menginsersi paket obat ke dalam vagina)
3. Instiilasi (
pemasukan lambt) cairan ke dalam rongga tubuh ( contoh, memasukkan tetes
telinga, tetes hidung, dan memasukkan cairan ke dalam kandung kemih dan rectum)
4. Irigasi (
mencuci bersih) rongga tubuh ( contoh, membilas mata, telinga, vagina, kandung
kemih, atau rektu dengan obat cair)
5. Penyemprotan (
contoh, memasukkan obat kedalam hidung dan tenggorokan.
d.Inhalasi
Saluran
nafas bagian dalam memungkinkan area permukaan yang luas untuk absorpsi obat.
Obat dapat diberikan melalui pasase nasal, pasase oral, atau selang yang di
pasang ke dalam trakea.
a. Inhalasi Nasal
Obat
diinhalasi melalui hidung menggunakan sebuah alat yang menghantar obat. Alat
tipe semprotan, misalnya fenilefrin (Neo-Synephrine), yang menghasilkan efek
local.
b. Inhalasi Oral
Inhalasi oral paling sering digunakan
untuk menghantar obat ke sel target atau organism di parenkim paru. Obat selalu
dihantar oleh alat yang dipegang di tangan klien. Obat yang diberikan
menggunakan inhailer yang dipegang di tangan disebar melalui semprot aerosol,
uap, atau bubuk yang masuk ke saluran udara di paru. Ibat untuk mengatasi
infeksi paru, misalnya pneumocystis carinii, dapat diberikan dalam bentuk obat
yang mebulisasi
Teknik yang
digunakan klien pada pemberian obat inhalasi oral perlu dipantau, khususnya
pada bayi atau lansia Pemberian Melalui Endotrakea atau Trakea
Dalam situasi kedaruratan, jika klien tidak terpasang selang intravena, beberapa obat darurat dapat diberikan melalui selang yang telah ditempatkan kedalam trakea klien.
Perawat yang turut dalam melakukan resusitasi secara khusus dilatih untuk memberikan obat dengan cara ini.
Dalam situasi kedaruratan, jika klien tidak terpasang selang intravena, beberapa obat darurat dapat diberikan melalui selang yang telah ditempatkan kedalam trakea klien.
Perawat yang turut dalam melakukan resusitasi secara khusus dilatih untuk memberikan obat dengan cara ini.
e.Intraokuler
Pemberian dilakukan dengan menginsersi obat berbentuk cakram, yang mirip sebuah lensa kontak, kedalam mata klien Obat mata berbentuk cakram ini memiliki dua lapisan lunak luar yang didalamnya terdapat obat.Cakram diinsersi kedalam mata klien, sangat mirip lensa kontak Cakram dapat tetap didalam mata klien selama satu minggu Pilokarpin, obat yang digunakan untuk mengobati glaucoma, adalah cakram obat yang paling sering digunakan
Pemberian dilakukan dengan menginsersi obat berbentuk cakram, yang mirip sebuah lensa kontak, kedalam mata klien Obat mata berbentuk cakram ini memiliki dua lapisan lunak luar yang didalamnya terdapat obat.Cakram diinsersi kedalam mata klien, sangat mirip lensa kontak Cakram dapat tetap didalam mata klien selama satu minggu Pilokarpin, obat yang digunakan untuk mengobati glaucoma, adalah cakram obat yang paling sering digunakan
H. Sistem Perhitungan
Obat
Ketepatan
pemberian obat bergantung pada kemampuan perawat menghitung dosis obat dengan
akurat dan mengukur oba dengan benar. Kesalahan akibat kecerobohan dam
menempatkan anka decimal atau menambah sebuah nol pada dosis obat dapat
mengakibatkan kesalahan yang fatal. Perawat bertanggung jawab mengecek dosis
obat sebelum memberikannya serta mengajari klien tentang dosis yang di
programkan.
·
Ukuran rumah tangga
Ukuran
rumah tangga meliputi tetesan,sendok the, sendok makan,dan cangkir.untuk volume
dan ounce serta pound untuk berat.kerugian ukuran rumah tangga adalah ketidak
akuratannya.karena perkakas rumah tangga ukurannya bervariasi.keuntungan ukuran
rumah tangga adalah aspek kenyamanan dan mudah dikenali.
·
Larutan
Suatu larutan adalah suatu massa zat padat
yang larut dalam suatu volume cairan lain yang diketahui.apabila sebuah zat
padat dilarutkan dalam cairan,satuan konsentrasinya adalah satuan bert per
satuan volum(mis.g/ml,mg/L,mg/ml).
a.Mengonversi satuan
ukuran
Pemberian
obat bukan satu-satunya konversi yang dilakukan perawat.konversi juga banyak
digunakan dalam aktivitas keperawatan.
1.Konversi dalam satuan system
Pada
system metric perawat secara sederhana membagi dan mengali.untuk mengubah
milligram menjadi gramperawat membagi dengan 1000.(ex,1000mg =1g).untuk
mengubah liter menjadi milliliter perawat mengalikannya dengan 1000.(1liter
=1000ml)
Untuk
mengonversi satuan ukuran dalam system apothecary atau rumah tangga,perawat
harus melihat tabel konversi.
2.Konversi antar system
Seringkali perawat harus menentukan
dosis akurat sebuah obat dengan mengubah berat atau volume dari satu system
perhitungan kedalam system perhitungan lain. Sebelum membuat konversi ,perawat
membandingkan system perhitungan yang tersedia dengan system yang
diintruksikan.
b.Kalkulasi
dosis
Perawat
dapat menggunakan rumus sederhana dalam banyak tipe kalkulasi dosis . rumus
berikut dapat digunakan ketika perawat mempersiapkan obat dalam bentuk padat
atau cair.
Dosis
yang diprogamkan x jumlah ang tersedia = jumlah yang akan diberikan
1.Dosis yang tersedia
Dosis
yang dprogramkan adalah jumah obat yang murni yang diresepkan dokter untuk
seorang klien.dosis yang teredia ialah berat atau volume obat yang tersedia
dalam satuan yang disuplai oleh farmasi .jumlah yang tersedia ialah satuan
dasar atau jumlah obat yang megandung dosis yang tersedia .
Banyak
tablet yang tersedia berbentuk biji atau lekukan yang membagi tengah obat.
Perawat tidak boleh pernah berusaha memperkirakan jumlah obat dalam tablet yang
hancur dan tidak lagi berbentuk biji karena hal ini beresiko perawat memberikan
obat dalam dosis yang sangat rendah atau terlalu tinggi.perawat harus selalu
memeriksa kembali kalkulasi tersebut atau mengeceknya bersama professional
lain,jika jawaban tampak tdak masuk akal.
2.Dosis
pediatric
Pada
kebanyakan kasus dokter menghitung dosis yang aman untuk anak sebelum
memprogramkan obat. Namun perawat harus megetahui rumus yang digunakan untuk
menghitung dosis pediatric dan memerika kembali semua dosis sebelum diberkan .
metode perhitungan obat pediatric yang paing akurat berdasarkan pada area
permukaan tubuh.
Dosis
anak = area permukaan tubuh anak x dosis dewasa normal 1,7 m2
c.Pemberian obat
1.Peran
dokter
Dokter
menulis instruksinya pada format yang telah dibuat dalam catatan medis
klien,dalam buku instruksi dokter atau dalam kertas resep resmi. Perawat
mencatatat dan menandatangani semua instruksi,baik yang diberikan per telepon
maupun secara verbal dengan menulis waktu,tanggal dan nama dokter yang memberi
instruksi obat dan kemudian dokter menendatangani instruksi tersebut. Ada
berbagai kebijakan institusi tentang personel mana yang dapat menerima
instruksi verbal atau per telepon. Umumnya,mahasiswa keperawatan tidak boleh
menerima anstruksi obat. Tidak ada obat yang diberikan tanpa sebuah instruksi.
Tipe instruksi
Empat tipe umum instruksi obat didasarkan
pada frekuensi pemberian obat.
·
Standing orders
Sebuah
instruksi tetap(standing order) dilaksanakan sampai dokter menggantinya dengan
instruksi baru atau sampai jumlah hari penggunaan obat yang diresepkan
berlalu.standing order mempunyai batas
waktu. Banyak institusi memiliki kebijakan untuk secara otomatis menghentikan
standing order .contoh standing order adalah:’’tetracyline 500mg PO
q6h’’decadron 10 mg qd x 5 hari.’’
·
Instuksi PRN
Dokter
dapat menginstuksikan sebuah obat berdasarkan PRN(ketika klien membutuhkannya).
Seringkali dokter memerlukan interval minimal untuk waktu pemberian obat.
Artimya,sebuahobat tidak boleh diberikan terlalu sering dari yang telah
diprogramkan. Ketika obat diberikan,perawat menctat pengkajian yang telah
dilakukan dan mencatat waktu obat dioberikan. Perawat harus mengavaluasi secara
berkala keefektifan obat dan mencatat temuan di tempat yang seharusnya.
Evaluasi ini di catat pada catatan pemberian obat atau pada catatan medis
klien.
·
Instuksi tunggal
Dokter
dapat menginstruksikan sebuah obat untuk diberikan hanya sekali pada waktu
tertentu. Hal ini biasanya berlaku pada obat pra operasi atau obat yang
diberikan sebelum pemeriksaan diagnostik.
·
Instruksi STAT
Sebuah
instruksi STAT menandakan bahwa suatu dosis tunggal obat di berikan segera dan
hanya sekali.seringkali instruksi ini
diberikan ketika kondisi klien tiba-tiba berubah.
Beberapa
kondisi mengubah status instruksi obat klien. Tindakan operasi secara otomatis
membatalkan semua obat operasi. Karena kondisi klien biasanya berubah pasca
operasi,dokter harus menulis instruksi baru.
Peresepan
Dokter
menulis resep untuk klien yang akan mrngonsumsi obat di luar rumah sakit.
Karena klien harus memahami cara mengonsumsi obat dan kapan harus mengisi
kembali resep,jika diperlukan.dibawah ini adalah bagian dari resep:
1.
superscription. Nama,alamat dan usia klien serta tanggal dicantumkan untuk
mengidentifikasi klien.simbol R (Take Thou) di tulis di bagian atas format.
2.
inscription. Terdiri dari nama,kekuatan,dan dosis obat.
3.
subcription. Petunjuk tentang jumlah tablet atau jumlah yang akan dikeluarkan
diberikan kepada ahli farmasi.
4. tanda
tangan. Informasi yang akan ditulis pada label obat ,misalnya petunjuk untuk
klien.
5. data
pribadi. Dokter menendatangani resepapabila obat merupakan zat
terkontrol,dokter menuliskan nomor registrasi dan almatnya.
2.Peran
ahli farmasi
Ahli
farmasi menyiapkan dan mendistribusikan obat yang diresepkan. Ahli farmasi juga
meningkatkan terapi obat yang optimal dengan mengkaji rencana obat dan
mengevaluasi kebutuhan klien yang berkaitan dengan pengobatan(American
Pharmaceutical Association,1994). Ahli farmasi bertanggung jawab memenuhi
permintaan resep dengan akurat dan harus yakin bahwa resep tersebut valid.
I. Langkah-langkah
Pemberian Obat Secara Umum Dan prinsip Pemberian Obat
a. prinsip Pemberian
Obat
Pemberian obat harus dilakukan dengan
akurat oleh perawat. Perawatan harus memberikan perhatian penuh dalam
mempersiapkan obat dan sebaiknya tidak melakukan tugas lain ketika memberikan
obat. Perawat menggunakan “ Lima Benar “ pemberian obat untuk menjamin
pemberian ibat yang aman.
“
Lima Benar “ atau prinsip pemberian obat sebagai berikut:
1. Benar
Obat
Apabila
obat pertama kali diprogramkan perawat membandingkan tiket obat/format
pencatatan unit-dosis dengan intruksi yang ditulis dokter. Ketika memberikan
obat, perawat membandingkan label pada wadah obat dengan format/tiket obat.
Perawat
melakukan ini 3 kali yaitu:
Sebelum memindahkan wadah obat dari laci/lemari.
Pada saat sejumlah obat yang diprogramkan dipindahkan dari wadahnya.
Sebelum mengembalikan wadah obat ke tempat penyimpanan.
Dengan
dosis tunggal, obat yang sebelumnya sudah dikemas, perawat memeriksa
label
pada format obat 3 kali walaupun obat tersebut belum diambil dari wadah yang
besar.
2. Benar
Dosis
Sistem
unit-dosis didistribusi obat meminimalkan kesalahan karena kebanyakan obat
tersedia dalam dosis yang sesuai.
Apabila
sebuah obat harus disediakan dari volume atau kekuatan abad yang lebih besar
atau lebih kecil dari yang dibutuhkan atau jika seorang dokter memprogramkan
suatu system perhitungan obat yang berbeda dari yang disediakan oleh ahli
farmasi, resiko kesalahan meningkat. Pada situasi ini, perawat harus memeeriksa
perhitungan dosis yang dilakukan perawat lain.
3. Benar
Klien.
Langkah
penting dalam pemberian obat dengan aman adalah menyakinkan bahwa obat tersebut
diberikan pada klien yang benar. Perawat yang bekerja di rumah sakit atau
lingkungan perawatan lain sering bertanggung jawab untuk memberika obat pada
banyak klien.
Klien
sering mempunyai nama akhir yang serupa, dan ini menyulitkan untuk mengingat
setiap nama dan wajah, khususnya bila perawat bebas tugas sebelumnya sebelum
beberapa hari. Untuk mengidetifikasi klien dengan tepat perawat memeriksa
kartu, format, atau laporan pemberian obat yang dicocokan dengan gelang
identifikasi klien dan meminta klien menyebutkan nama.
4. Benar
Rute
Apabila
sebuah instruksi obat tidak emnerangkan rute pemberian obat, perawat
mengonsultasikan kepada dokter. Demikian jadi bila rute pemberian obat bukan
cara yang direkomendasikan, perawat harus segera mengingatkan dokter.
Saat
melakukan injeksi, rute yang benar sangat penting. Juga sangat penting untuk
menyiapkan injeksi hanya dari preparat yang ditetapkan untuk penggunaan
parenteral. Menginjeksi cairan yang dirancang untuk penggunaan oral dapat
menimbulkan implikasi. Misalnya obsess steril atau efek sistemik yang fatal.
5. Benar
waktu
Perawat harus mengetahui alas an sebuah
obat diprogramkan untuk waktu tertentu dalam satu hari dan apakah jadwal
tersebut dapat diubah. Contoh: diprogramkan dua obat, satu dengan ( setiap 8
jam ) dan yang lain tidak ( 3 kali sehari ). Kedua obat diberikan 3 kali dalam
24 jam. Tujuan doter meberikan obat denagn dalam hitungan jam ialah mempertahan
kan kadar terapuritik obat. Perbedaannya obat tidak diberikan selama klien
terjangkit. Setiap institusi memiliki rekomendasi jadwal waktu untuk obat yang
harus diberikan dengan interval.
b.Pertimbangan Khusus Pemberian Obat
Pada Kelompok Usia Tertentu
Tingkat
perkembangan klien adalah faktor yang menentukan cara perawat memberikan obat.
Pengetahuan tentang perkembangan klien membantu perawat mengantisipasi respons
klien terhadap terapi obat.
1.
Bayi dan Anak
Usia, berat
badan,, area permukaan tubuh, dan kemampuan mengabsorbsi, dan mengekresi obat
pada anak berbeda-beda.- Dosis untuk anak lebih rendah daripada dosis pada
dewasa, sehingga perhatian khusus perlu diberikan dalam menyiapkan obat untuk
anak. Obat biasanya tidak disiapkan dan dikemas dalam rentang dosis yang
standarisasi untuk anak. Orang tua adalah sumber yang berharga dalam
mempelajari cara terbaik pemberian obat pada anak Semua anak memerlukan
persiapan psikologis khusus sebelum menerima obat. Supaya anak kooperatif,
perawatan diperlukan yang suportif.
Perawat menjelaskan prosedur kepada anak, menggunakan kata-kata yang pendek dan bahasa yang sederhana, yang sesuai dengan tingkat pemahaman anak
Anak kecil yang menolak bekerjasama dan terus menolak , walaupun telah dijelaskan dan didorong mungkin perlu dipaksa secara fisik, apabila hal ini terjadi, lakukan dengan cepat dan hati-hati.jika anak dan orang tuanya dapat dilibatkan, perawat kemungkinan akan lebih berhasil alam memberikan obat Ijinkan anak menetapkan pilihan
Jangan pernah memberikan anak pilihan untuk tidak meminum obatnya
Setelah obat diberikan, perawat dapat memberi pujian kepada anak atau menawarkan hadiah kecil.
Perawat menjelaskan prosedur kepada anak, menggunakan kata-kata yang pendek dan bahasa yang sederhana, yang sesuai dengan tingkat pemahaman anak
Anak kecil yang menolak bekerjasama dan terus menolak , walaupun telah dijelaskan dan didorong mungkin perlu dipaksa secara fisik, apabila hal ini terjadi, lakukan dengan cepat dan hati-hati.jika anak dan orang tuanya dapat dilibatkan, perawat kemungkinan akan lebih berhasil alam memberikan obat Ijinkan anak menetapkan pilihan
Jangan pernah memberikan anak pilihan untuk tidak meminum obatnya
Setelah obat diberikan, perawat dapat memberi pujian kepada anak atau menawarkan hadiah kecil.
Tips Pemberian
Obat Pada Anak
1. Obat Oral
Bentuk cair
lebih aman ditelan untuk mencegah aspirasi Jus, minuman ringan atau jus yang
dibekukan dapat ditawarkan setelah sebuah obat ditelan
Minuman berkarbornasi yang dituang ketas serutan es halus mengurangi mual
Apabila mencampur obat dengan perencah (rasa), misalnya sirup atau madu, gunakan dalam jumlah kecil Spuit plastik sekali pakai adalah alat yang paling akurat untuk menyiapkan dosis cairan, khususnya spuit berukuran kurang dari 10 ml
Pada saat memberikan obat cair, sendok, cangkir plastik, dan spuit oral (tanpa jarum) akan bermanfaat.
Minuman berkarbornasi yang dituang ketas serutan es halus mengurangi mual
Apabila mencampur obat dengan perencah (rasa), misalnya sirup atau madu, gunakan dalam jumlah kecil Spuit plastik sekali pakai adalah alat yang paling akurat untuk menyiapkan dosis cairan, khususnya spuit berukuran kurang dari 10 ml
Pada saat memberikan obat cair, sendok, cangkir plastik, dan spuit oral (tanpa jarum) akan bermanfaat.
2. Injeksi
- Perawat
bersikap sangat hati-hati saat menyeleksi tempat injeksi IM. Otot pada bayi dan
anak kecil belum berkembang
- Anak dapat
menjadi tidak kooperatif dan tidak bisa diprediksi. Harus ada seseorang untuk
merestrein anak, jika diperlukan.
- Perawat selalu
membangunkan anak yang sedang tidur sebelum menginjeksinya
Mengalihkan perhatian anak dengan bercakap-cakap dan menggunakan mainan dapat menurunkan persepsi nyeri.
Mengalihkan perhatian anak dengan bercakap-cakap dan menggunakan mainan dapat menurunkan persepsi nyeri.
- Perawat
memberi injeksi dengan cepat dan tidak bertengkar dengan anak.
2.
Lansia
Pemberian obat
pada lansia juga membutuhkan pertimbangan khusus
Perubahan fisiologis penuaan, faktor tingkah laku dan ekonomi juga mempengaruhi penggunaan obat pada lansia
Perubahan fisiologis penuaan, faktor tingkah laku dan ekonomi juga mempengaruhi penggunaan obat pada lansia
Individu berusia
lebih dari 65 tahun merupakan pengguna obat terbanyak (Eberson,Hess,2994)
Perawat yang memberi obat kepada lansia harus mencermati lima pola penggunaan obat oleh klien lansia
Perawat yang memberi obat kepada lansia harus mencermati lima pola penggunaan obat oleh klien lansia
Menurut Ebersole dan Hess (1994),
mengidentifikasi pola penggunaan obat pada lansia :
1. Polifarmasi, artinya klien menggunakan banyak obat, yang diprogramkan atau tidak, sebagai upaya mengatasi beberapa gangguan secara bersamaan. Apabila ini terjadi, ada risiko interaksi obat dengan obat lain dan makanan, klien juga memiliki risiko lebih besar untuk mengalami reaksi yang merugikan terhadap pengobatan.
2. Meresepkan
obat sendiri. Berbagai gejala dapat dialami oleh klien lansia, misalnya nyeri,
konstipasi, insomnia dan ketidakmampuan mencerna. Lansia seringkali berupaya
mencari pereda gangguan yang mereka alami dengan menggunakan preparat yang
dijual bebas, obat-obatan rakyat dan jamu-jamuan.
3. Obat yang
dijual bebas , obat yang dijual bebas digunakan oleh 75 % lansia untuk
meredakan gejala
4. Penggunaan
obat yang salah
5.
Ketidakpatuhan, diartikan penggunaan obat yang salah secara disengaja. Dari
semua populasi lansia, 75% diantaranya tidak mematuhi program pengobatan secara
sengaja dengan mengubah dosis obat karena obat dirasa tidak efektif atau efek
samping obat membuat lansia tidak nyaman.
Prinsip Gerontologis Untuk Pemberian
Obat
- Kaji riwayat pengobatan lengkap,
meliputi : obata-obatan yang lalu, obat-obatan saat ini, alergi terhadap
apapun, pemahaman klien tentang obat yang digunakan
- Atur jarak pemberian obat oral
- Anjurkan klien minum sedikit cairan
sebelum minum obat oral
- Dorong klien minum paling sedikit 150
sampai 180 cc cairan setelah minum obatnya
- Jangan secara rutin memberi analgesik setiap empat jam
- Jangan secara rutin memberi analgesik setiap empat jam
- Apabila klien mengalami kesulitan
menelan kapsul atau tablet berukuran besar, minta dokter menggantinya dengan
obat cair
- Ajarkan alternatif pengobatan, misalnya
diet yang sesuai, latihan fisik, kudapan menjelang tidur, menurunkan berat
badan.
·
Pemberian Obat
Oral
- Cara pemberian obat yang paling aman
- Paling mudah diberikan, kecuali klien
ada gangguan fungsi cerna dan tidak mampu menelan
- Kebanyakan tablet dan kapsul harus
diberikan bersama cairan dalam jumlah yang adekuat,
- Untuk klien yang terpasang selang
nasogastrik, obat-obatan cair lebih dipilih
- Jika tablet atau kapsul dibuka
terlebih dahulu dan dicampur dengan air
- Pada saat memberikan obat oral,
perawat harus melindungi klien dari kemungkinan aspirasi
- Posisi duduk atau berbaring miring
akan mencegah akumulasi obat cair atau padat di
elakang tenggorok
- Klien yang menelan dengan lambat
sebaiknya tidak dipaksa untuk minum banyak cairan setiap kali menelan.
- Apabila klien mulai batuk ketika minum
obat, perawat harus menunda pemberian sisa obat sampai klien dapat bernapas
dengan mudah
- Apabila klien sulit menelan tablet,
bentuk obat lain dapat dipertimbangkan, misalnya supositoria.
Beberapa Langkah Pemberian Obat Oral
Beberapa Langkah Pemberian Obat Oral
·
Pemberian
Injeksi
Pemberian injeksi merupakan prosedur
invasif yang harus dilakukan dengan menggunakan tekhnik steril Setelah jarum
menembus kulit, muncul resiko infeksi Rute yang diberikan perawat adalah rute
SC, IM, ID dan IV Setiap tipe injeksi membutuhkan keterampilan yang tertentu
untuk menjamin obat mencapai lokasi yang tepat-
Efek obat yang diberikan secara parenteral
dapat berkembang dengan cepat, bergantng pada kecepatan absorbsi obat Perawat
mengobservasi respons klien dengan ketat.
Peralatan
1. Spuit
Spuit terdiri
dari tabung berbentuk silinder dengan bagian ujung didesain tepat berpasangan
dengan jarum hipodermis dan alat pengisap yang tepat menempati rongga spuit.
Secara umum diklasifikasikan sebagai Luer-lok atau non Luer-lok Spuit Luer-lok memerlukan jarum khusus, yang melilit naik ke ujung spuit dan terkunci aman di tempat, desain ini mencegah jarum terlepas karena kurang hati-hati Spuit nonLuer-lok, memerlukan jarum yang dapat langsung terpasang ke ujung spuit.Kebanyakan institusi pelayanan kesehatan menggunakan spuit plastik, sekali pakai yang tidak mahal dan mudah dimanipulasi
Spuit dibungkus terpisah, dengan atau tanpa jarum steril dalam sebuah bungkus kertas atau wadah plastik yang kaku. Perawat mengisi spuit dengan melakukan aspirasi, menarik pengisap keluar sementara ujung jarum tetap terendam didalam larutan yang disediakan. Perawat dapat memegang bagian luar badan spuit dan pegangan pengisap. Spuit terdiri dari berbagai ukuran, dari 0,5 sampai 60 ml .Untuk injeksi IM atau IV tidak lazim dipakai spuit yang berukuran lebih dari 5 ml Spuit hipodermik memiliki dua skala pada badan spuit. Satu skala dibagi menjadi ukuran-ukuran kecil dan skala lain menjadi sepersepuluh mililiter.
Spuit tuberkulin memiliki badan yang panjang dan tipis dengan jarum tipis yang sebelumnya telah dipasang, spuit tuberkulin digunakan untuk menyiapkan dosis yang kecil dan tepat untuk bayi dan anak kecil.
Secara umum diklasifikasikan sebagai Luer-lok atau non Luer-lok Spuit Luer-lok memerlukan jarum khusus, yang melilit naik ke ujung spuit dan terkunci aman di tempat, desain ini mencegah jarum terlepas karena kurang hati-hati Spuit nonLuer-lok, memerlukan jarum yang dapat langsung terpasang ke ujung spuit.Kebanyakan institusi pelayanan kesehatan menggunakan spuit plastik, sekali pakai yang tidak mahal dan mudah dimanipulasi
Spuit dibungkus terpisah, dengan atau tanpa jarum steril dalam sebuah bungkus kertas atau wadah plastik yang kaku. Perawat mengisi spuit dengan melakukan aspirasi, menarik pengisap keluar sementara ujung jarum tetap terendam didalam larutan yang disediakan. Perawat dapat memegang bagian luar badan spuit dan pegangan pengisap. Spuit terdiri dari berbagai ukuran, dari 0,5 sampai 60 ml .Untuk injeksi IM atau IV tidak lazim dipakai spuit yang berukuran lebih dari 5 ml Spuit hipodermik memiliki dua skala pada badan spuit. Satu skala dibagi menjadi ukuran-ukuran kecil dan skala lain menjadi sepersepuluh mililiter.
Spuit tuberkulin memiliki badan yang panjang dan tipis dengan jarum tipis yang sebelumnya telah dipasang, spuit tuberkulin digunakan untuk menyiapkan dosis yang kecil dan tepat untuk bayi dan anak kecil.
2. Jarum
Kebanyakan jarum
terbuat dari stenless steel dan hanya digunakan satu kali.
Jarum memiliki tiga bagian : hub, yang tepat terpasang pada ujung sebuah spuit; batang jarum (shaft), yang terhubung dengan bagian pusat dan bevel yakni bagian ujung yang miring.
Setiap jarum memiliki tiga karakteristik utama; kemiringan bevel, panjang batang jarum dan ukuran atau diameter jarum. Bevel yang panjang lebih tajam, sehingga meminimalkan rasa tidak nyaman akibat injeksi SC dan IM. Panjang jarum bervariasi dari 1/4 sampai 5 inci
Panjang jarum yang dipilih berdasarkan ukuran dan berat klien serta tipe jaringan tubuh yang akan diinjeksi .Seorang anak atau dewasa yang kurus umumnya memerlukan jarum yang lebih pendek (biasanya 1 sampai 1 ½ inci), untuk injeksi IM dan jarum yang lebih pendek (biasanya 3/8 sampai 5/8 inci ) untuk injeksi SC Semakin kecil ukuran jarum, semakin besar ukuran diameternya. Seleksi ukuran jarum bergantung pada viskositas cairan yang akan disuntikkan atau diinfuskan.Injeksi IM biasanya memerlukan jarum berukuran 19 sampai 23, bergantung pada viskositas obat.Injeksi SC membutuhkan jarum yang diameternya lebih kecil, misal jarum berukuran 25.Untuk injeksi ID membutuhkan jarum berukuran 26
Jarum memiliki tiga bagian : hub, yang tepat terpasang pada ujung sebuah spuit; batang jarum (shaft), yang terhubung dengan bagian pusat dan bevel yakni bagian ujung yang miring.
Setiap jarum memiliki tiga karakteristik utama; kemiringan bevel, panjang batang jarum dan ukuran atau diameter jarum. Bevel yang panjang lebih tajam, sehingga meminimalkan rasa tidak nyaman akibat injeksi SC dan IM. Panjang jarum bervariasi dari 1/4 sampai 5 inci
Panjang jarum yang dipilih berdasarkan ukuran dan berat klien serta tipe jaringan tubuh yang akan diinjeksi .Seorang anak atau dewasa yang kurus umumnya memerlukan jarum yang lebih pendek (biasanya 1 sampai 1 ½ inci), untuk injeksi IM dan jarum yang lebih pendek (biasanya 3/8 sampai 5/8 inci ) untuk injeksi SC Semakin kecil ukuran jarum, semakin besar ukuran diameternya. Seleksi ukuran jarum bergantung pada viskositas cairan yang akan disuntikkan atau diinfuskan.Injeksi IM biasanya memerlukan jarum berukuran 19 sampai 23, bergantung pada viskositas obat.Injeksi SC membutuhkan jarum yang diameternya lebih kecil, misal jarum berukuran 25.Untuk injeksi ID membutuhkan jarum berukuran 26
Langkah –
Langkah Mencegah Infeksi Selama Injeksi
o
Untuk
mencegah kontaminasi larutan, isap obat dari ampul dengan cepat, jangan biarkan
ampul dalam keadaan terbuka
o
Untuk
mencegah kontaminasi jarum, cegah jarum menyentuh daerah yang terkontaminasi
(mis, sisi luar ampul atau vial, permukaan luar tutup jarum dll)
o
Untuk
mencegah kontaminasi spuit , jangan sentuh badan pengisap atau bagian dalam
karet. Jaga ujung spuit tetap tertutup penutup atau jarum
o
Untuk
menyiapkan kulit, cuci kulit yang kotor karena kotoran, drainase atau feses
dengan sabun dan air lalu keringkan.
o
Lakukan
gerakan mengusap dan melingkar ketika membersihkan luka menggunakan swab
antiseptik. Usap dari tengah dan bergerak keluar dalam jarak dua inci.
Unit Injeksi
Sekali Pakai
o
Spuit
sekali pakai , dosis tunggal yang telah diisi tersedia untuk banyak obat
o
Perawat
harus berhati-hati mengecek obat dan konsentrasinya karena semua spuit yang diisi
tampak miring
o
Sistem
injeksi Tubex dan Carpuject memanfaatkan mekanisme plastik yang dapat dipakai
kembali, yang memiliki unit jarum – peluru steril, sekali pakai dan sebelumnya
sudah diisi.
o
Perawat
memasukkan peluru kedalam sistem tersebut, mengamankannya (sesuai petunjuk
kemasan) dan memeriksa adanya gelembung pada spuit
o
Perawat
mendorong pengisap untuk mengeluarkan obat seperti pada spuit reguler
o
Sistem
ini didesain untuk menurunkan peluang terjadinya cedera tertusuk jarum, jika
digunakan sesuai dengan anjuran pabrik
Menyiapkan
Injeksi Dari Sebuah Ampul
o
Ampul
berisi obat dosis tunggal dalam bentuk cairan dan tersedia dalam beberapa
ukuran, dari 1 ml sampai 10 ml atau lebih
o
Ampul
terbuat dari bahan gelas dengan bagian leher mengecil, yang harus dipatahkan
supaya memungkinkan akses ke obat
o
Sebuah
lingkaran berwarna disekeliling leher ampul mengindikasikan tempat ampul dapat
dipecah dengan mudah
o
Untuk
mengaspirasi obat kedalam spuit, perawat perlu menggunakan jarum penyaring
Menyiapkan
Injeksi Dari Vial
o
Vial
merupakan wadah gelas berisi obat dosis tunggal atau multidosis yang memiliki
penyekat karet dibagian atasnya
o
Tutup
logam atau plastik melindungi penyekat sampai vial siap digunakan
o
Vial
berisi larutan dan atau bentuk obat yang kering
o
Obat
yang tidak stabil dalam larutan dikemas dalam bentuk kering
o
Lebel
vial menerangkan larutan (pelarut) yang digunakan untuk melarutkan obat dan
jumlah pelarut yang diperlukan untuk menyiapkan konsentrasi obat yang
diinginkan
o
Salin
normal dan aquades steril adalah larutan yang biasa digunakan untuk melarutkan
obat
o
Vial
merupakan sebuah sistem tertutup, dan udara harus diinjeksi kedalam vial supaya
larutan mudah diisap
o
Jika
didalam vial terdapat ruang hampa udara, maka akan mempersulit pengisapan
larutan
o
Supaya
obat bubuk larut, vial dikocok atau digulir perlahan diantara tangan
Jarum kembali diinsersi untuk mengisap obat yang larut.
Jarum kembali diinsersi untuk mengisap obat yang larut.
Mencampur Obat
1. Mencampur obat dari dua vial
o
Hanya
satu spuit dibutuhkan untuk mencampur obat dari dua vial
o
-
Perawat mengambil sebuah spuit dan mengaspirasi volume udara yang
o
kuivalen
dengan dosis obat pertama (vial A)
o
-
Perawat menginjeksi udara kedalam vial A sambil memastikan jarum tidak
menyentuh larutan
o
-
Perawat menarik jarum, mengisap udara yang ekuivalen dengan dosis obat kedua
(vial B), kemudian menginjeksi volume udara kedalam vial B
- Perawat segera mengisap obat yang dibutuhkan dario vial B kedalam spuit.
- Perawat segera mengisap obat yang dibutuhkan dario vial B kedalam spuit.
o
ada
saat ini obat dari vial A belum mengontaminasi vial B
o
-
Perawat memasang jarum baru yang steril pada spuit dan menginsersinya kedalam
vial A, berhati-hati supaya tidak mendorong pengisap spuit dan mengeluarkan
obat didalam spuit kedalam vial
o
-
Perawat kemudian mengisap jumlah obat yang diinginkan dari vial A kedalam spuit
Beberapa prinsip
ketika mencampur obat dari dua vial :
- Jangan mengontaminasi satu obat dengan
obat lain
- Pastikan bahwa dosis yang terakhir
akurat
- Pertahankan teknik aseptik
2. Mencampur obat dari satu vial dan
satu ampul
Mencampur obat dari sebuah ampul dan
sebuah vial merupakan hal yang sederhana karena tidak perlu menambahkan udara
untuk mengisap obat dari sebuah ampul.
Perawat mula-mula menyiapkan obat dari vial dan kemudian , dengan menggunakan spuit dan jarum yang sama, isap obat dari ampul, teknik ini mencegah kontaminasi larutan dari jarum
Perawat mula-mula menyiapkan obat dari vial dan kemudian , dengan menggunakan spuit dan jarum yang sama, isap obat dari ampul, teknik ini mencegah kontaminasi larutan dari jarum
Meyiapkan Insulin
Insulin adalah
hormon yang digunakan untuk mengobati Diabetes Obat harus diberikan melalui
injeksi karena obat tersebut merupakan protein dan, dengan demikian akandicerna
dan dihancurkan dalam saluran cerna. Kebanyakan klien penderita diabetes perlu
belajar untuk menginjeksi insulinnya secara mandiri
Insulin
diklasifikasi berdasarkan kecepatan kerjanya yang terdiri dari kerja
cepat,sedang dan lama, setiap tipe memiliki awitan, puncak dan durasi kerja
yang berbeda-beda Seorang klien penderita diabetes memerlukan lebih dari satu tipe
insulin
Kadar glukosa darah seorang klien dikontrol secara berkesinambungan selama periode 24 jam .Insulin reguler yang tidak dimodifikasi merupakan larutan jernih yang dapat diberikan secara subcutan atau intravena .Tipe lain insulin merupakan larutan keruh akibat adanya tambahan protein yang memperlambat absorbsi, kerja tipe insulin modifikasi yang lebih lambat ini hanya dapat diberikan persubcutan.Insulin dapat disimpan dengan aman selama sekitar satu bulan pada temperatur ruangan, tetapi perlu didinginkan selama jangka waktu yang lebih lama .Obat tidak boleh langsung diberikan, harus dibiarkan sampai suhunya sama dengan suhu ruangan. Sebelum mencampur tipe insulin yang berbeda, setiap vial harus digulir diantara kedua tangan selama sekurang-kurangnya satu menit, hal ini akan menangguhkan kembali pem,berian insulin modifikasi dan membantu menghangatkan obat, vial insulin tidak boleh dikocok. Bila dikocok, akan terbentuk busa dan gelembung udara yang membuat partikel insulin terperangkap dan mengubah dosis .Insulin diprogramkan dalam dosis tertentu pada waktu yang telah ditetapkan atau berdasarkan sliding scale (skala perhitungan dimana angka dapat digeser sesuai keadaan), hanya insulin reguler yang digunakan untuk sliding scale. Dengan program sliding scale , dokter memprogramkan dosis insulin yang berbeda berdasarkan kadar glukosa darah klien. Contoh program Insulin Sliding Scale
Berikan insulin reguler per SC
Kadar glukosa darah seorang klien dikontrol secara berkesinambungan selama periode 24 jam .Insulin reguler yang tidak dimodifikasi merupakan larutan jernih yang dapat diberikan secara subcutan atau intravena .Tipe lain insulin merupakan larutan keruh akibat adanya tambahan protein yang memperlambat absorbsi, kerja tipe insulin modifikasi yang lebih lambat ini hanya dapat diberikan persubcutan.Insulin dapat disimpan dengan aman selama sekitar satu bulan pada temperatur ruangan, tetapi perlu didinginkan selama jangka waktu yang lebih lama .Obat tidak boleh langsung diberikan, harus dibiarkan sampai suhunya sama dengan suhu ruangan. Sebelum mencampur tipe insulin yang berbeda, setiap vial harus digulir diantara kedua tangan selama sekurang-kurangnya satu menit, hal ini akan menangguhkan kembali pem,berian insulin modifikasi dan membantu menghangatkan obat, vial insulin tidak boleh dikocok. Bila dikocok, akan terbentuk busa dan gelembung udara yang membuat partikel insulin terperangkap dan mengubah dosis .Insulin diprogramkan dalam dosis tertentu pada waktu yang telah ditetapkan atau berdasarkan sliding scale (skala perhitungan dimana angka dapat digeser sesuai keadaan), hanya insulin reguler yang digunakan untuk sliding scale. Dengan program sliding scale , dokter memprogramkan dosis insulin yang berbeda berdasarkan kadar glukosa darah klien. Contoh program Insulin Sliding Scale
Berikan insulin reguler per SC
o
2
U untuk nilai glukosa 200 – 240
o
4 U untuk nilai glukosa 241 – 250
o
6 U untuk nilai glukosa 251 – 300
o
Untuk glukosa ≥ 300 hubungi dokter
o
Dosis yang berbeda-beda tersebut dapat
diberikan dalam satu hari
Beberapa langkah menyiapkan insulin dari
dua vial :
1. Dengan sebuah spuit dan jarum,
injeksi udara yang setara dengan dosisinsulin yang akan diisap kedalam vial
yang berisi insulin modifikasi (NPH) / vial yang keruh, jangan menyentuhkan
ujung jarum kedalam larutan
2. Pindahkan spuit dari vial berisi
insulin modifikasi
3. Dengan spuit yang sama, injeksi udara
yang setara dengan dosis insulin yang akan diisap kedalam vial berisi insulin
bukan modifikasi (insulin reguler) ( vial jernih), kemudian isap dosis yang
benar
4. Pindahkan spuit dari insulin yang
reguler, buang gelembung udara dari spuit dengan hati-hati
5. Kembali ke vial berisi insulin
modifikasi (NPH) kemudian isap dosis yang benar
6. Berikan campuran insulin dalam lima
menit setelah disiapkan. Insulin reguler berikatan dengan insulin yang
modifikasi (NPH), dan kerja insu;lin reguler menurun
7. Usahakan untuk selalu menyiapkan
insulin bukan modifikasi (reguler) lebih dahulu, hal ini mencegah penambahan
insulin modifikasi ke vial insulin reguler
Melakukan
Injeksi
Karakteristik jaringan mempengaruhi absorbsi
obat dan awitan kerja obat
Sebelum menyuntikkan sebuah obat, volume obat yang akan diberikan harus diketahui terlebih dahulu.Konsekuensi yang serius dapat terjadi, jika injeksi diberikan tidak tepat.
Kegagalan dalam memilih tempat injeksi yang tepat, dapat menyebabkan kerusakan syaraf atau tulang selama insersi jarum
Sebelum menyuntikkan sebuah obat, volume obat yang akan diberikan harus diketahui terlebih dahulu.Konsekuensi yang serius dapat terjadi, jika injeksi diberikan tidak tepat.
Kegagalan dalam memilih tempat injeksi yang tepat, dapat menyebabkan kerusakan syaraf atau tulang selama insersi jarum
Menginjeksi obat dalam volume yang
terlalu besar di tempat yang dipilih dapat menimbulkan nyeri hebat dan dapat
mengakibatkan kerusakan jaringan setempat
Beberapa upaya untuk meminimalkan rasa
tidak nyaman pada waktu penyuntikan :
1.
Gunakan jarum yang tajam dan memiliki bevel dan panjang serta ukurannya paling
kecil, tetapi sesuai
2. Atur posisi
senyaman mungkin untuk mengurangi ketegangan otot
3. Pilih tempat
injeksi yang tepat dengan menggunakan penanda anatomis tubuh
4. Kompres
tempat injeksi dengan es untuk menciptakan anastesi lokal, sebelum jarum
diinsersi
5. Alihkan
perhatian klien
6. Insersi jarum
dengan perlahan dan cepat untuk meminimalkan menarik jaringan
7. Pegang spuit
dengan mantap selama jarum berada dalam jaringan
8. Pijat-pijat tempat
injeksi dengan lembut selama bebrapa detik, kecuali dikontraindikasikan
J.PROSES
KEPERAWATAN DAN OBAT
A. Pengkajian
1. Riwayat Medis
Memberi indikasi atau kontraindikasi
terhadap terapi obat Penyakit atau gangguan membuat klien berisiko terkena efek
samping yang merugikanMasalah kesehatan jangka panjang, misalnya diabetes atau
arthritis, yang membutuhkan pengobatan, memberi perawat informasi tentang tipe
obat yang sedang klien gunakan Riwayat pembedahan klien dapat mengindikasikan
obat yang digunakan, contoh, setelah tiroidektomi, seorang klien membutuhkan
hormone .Dari riwayat ini, perawat dapat meminta supaya klien dapat diresepkan
obat yang rutin digunakannya
2. Riwayat Alergi
Apabila klien memiliki riwayat alergi
terhadap obat, perawat harus menginformasikan anggota tim kesehatan lain Alergi
terhadap makan juga harus didokumentasikan, karena banyak obat mengandung
unsure yang terkandung dalam sumber makanan, contoh adalah kerang.
Apabila klien alergi terhadap kerang maka klien akan sensitive terhadap suatu produk yang mengandung yodium
Apabila klien alergi terhadap kerang maka klien akan sensitive terhadap suatu produk yang mengandung yodium
3. Data Obat
- Perawat mengkaji informasi tentang
setiap obat, termasuk kerja,tujuan,dosis normal,rute pemberian, efek samping
dan implikasi keperawatan dalam pemberian dan pengawasan obat.
4. Riwayat Diet
- Riwayat diet memberi keterangan
tentang pola makan dan pilihan makan klien.
- Perawat dapat merencanakan penjadwalan dosis obat yang lebih efektif dan menganjurkan klien menghindari makanan yang dapat berinteraksi dengan obat.
- Perawat dapat merencanakan penjadwalan dosis obat yang lebih efektif dan menganjurkan klien menghindari makanan yang dapat berinteraksi dengan obat.
5. Kondisi Klien Terkini
- Status fisik dan mental klien yang
berkesinambungan dapat menentukan apakah obat sebaiknya diberikan dan cara
pemberian obat
- Contoh perawat memeriksa tekanan darah
sebelum memberi obat antihipertensi,apabila klien mual,kemungkinan ia tidak
dapat menelan tablet.
6. Persepsi Klien Atau Masalah
Koordinasi
- Klien yang fungsi persepsi dan
koordinasinya terbatas kemungkinan sulit menggunakan obat secara mandiri
- Perawat harus mengkaji kemampuan klien
dalam mempersiapkan dosis dan menggunakan obat dengan benar.
7. Sikap klien Terhadap Penggunaan Obat
Sikap klien
terhadap obat menunjukkan tingkat ketergantungannya pada obat
Klien sering enggan mengungkapkan perasaannya tentang obat, khususnya jika ia mengalami ketergantungan obat. Untuk mengkaji sikap klien, perawat perlu mengobservasi perilaku klien yang mendukung bukti ketergantuingan obat.
Klien sering enggan mengungkapkan perasaannya tentang obat, khususnya jika ia mengalami ketergantungan obat. Untuk mengkaji sikap klien, perawat perlu mengobservasi perilaku klien yang mendukung bukti ketergantuingan obat.
8. Pengetahuan Klien Dan Pemahaman
Tentang Terapi Obat-
Untuk mengkaji pengetahuan klien tentang obat,
perawat perlu mengajukan beberapa pertanyaan, sebagai berikut :
a. Apa guna obat
tersebut ?
b. Bagaimana dan
kapan obat tersebut digunakan ?
c. Apa efek
samping yang pernah timbul ?
d. Apakah obat
pernah dihentikan ?
e. Apakah ada
hal lain yang tidak dipahami tentang obat ?
Apabila tingkat
kepatuhan klien rendah, perawat sebaiknya juga memeriksa sumber yang dapat
klien manfaatkan untuk membeli obat
9. Kebutuhan Pembelajaran Klien
Dengan mengkaji
tingkat pengetahuan klien tentang sebuah obat, perawat menetapkan instruksi
yang klien perlukan. Perawat mungkin perlu menjelaskan kerja dan tujuan obat,
efek samping yang akan timbul, teknik pemberian obat yang benar, dan cara
mengingat jadwal obat. Apabila klien diresepkan obat baru, instruksi tertentu
harus diberikan.
B. Diagnosa Keperawatan
Pengkajian memberi data tentang kondisi klien,
kemampuannya dalam menggunakan obat secara mandiri, dan pola penggunaan obat,
semua ini dapat digunakan untuk menentukan masalah actual atau potensial pada
terapi obat. Mengelompokkan batasan karakteristik untuk menegakkan diagnosa
keperawatan yang akurat. Misalnya seorang klien mengakui lupa minum obat satu
kali, ada bukti bahwa obat tidak menghilangkan gejala, ada bukti bahwa klien
tidak mengalami kemajuan. Semua ini menunjukkan klien tidak patuh terhadap
program pengobatan.Untuk mengatasi ketidakpatuhan, perawat harus berpikir
kritis dalam menginterpretasi data pengkajian supaya dapat menegakkan diagnosa
yang benar.
Contoh Diagnosa Keperawatan Nanda untuk
Terapi Obat
1. Kurang pengetahuan tentang terapi obat yang berhubungan dengan
o
Kurang
informasi dan pengalaman
o
Keterbatasan
kognitif
o
Tidak
mengenal sumber informasi
2. Ketidakpatuhan terhadap terapi obat yang berhubungan dengan :
o
Sumber
ekonomi yang terbatas
o
Keyakinan tentang kesehatan
o
Pengaruh budaya
3. Hambatan
mobilitas fisik yang berhubungan dengan Penurunan kekuatan Nyeri dan
ketidaknyamanan
4. Perubahan
sensori / persepsi yang berhubungan dengan Pandangan kabur
5. Ansietas yang
berhubungan dengan Status kesehatan yang berubah atau terancam
Status social ekonomi yang berubah atau terancam Pola interaksi yang berubah atau terancam
Status social ekonomi yang berubah atau terancam Pola interaksi yang berubah atau terancam
6. Gangguan
menelan yang berhubungan dengan :
o
Kerusakan
neuromuskuler
o
Iritasi rongga mulut
o
Kesadaran yang terbatas
·
7.
Penatalaksanaan program terapeutik tidak efektif berhubungan dengan :
·
Terapi
obat yang kompleks
·
-
Penetahuan yang kurang.
C. Perencanaan
Perawat mengatur aktivitas perawatan
untuk memastikan bahwa teknik pemberian obat aman.
Tergesa-gesa dalam memberikan obat dapat memicu terjadinya kesalahan Perawat juga dapat merencanakan untuk menggunakan waktu selama memberikan obat, perawat mengajarkan klien tentang obat yang digunakannya Perawat dapat merencanakan penggunaan obat secara mandiri, untuk klien , keluarga dan masyarakat,jika klien rencana dipulangkan.
Tergesa-gesa dalam memberikan obat dapat memicu terjadinya kesalahan Perawat juga dapat merencanakan untuk menggunakan waktu selama memberikan obat, perawat mengajarkan klien tentang obat yang digunakannya Perawat dapat merencanakan penggunaan obat secara mandiri, untuk klien , keluarga dan masyarakat,jika klien rencana dipulangkan.
Baik seorang klien mencoba menggunakan
obat secara mandiri maupun perawat bertanggung jawab memberikan obat tersebut,
sasaran yang harus dicapai :
1. Tidak ada
komplikasi yang timbul akibat rute pemberian obat yang digunakan
2. Efek
terapeutik obat yang diprogramkan dicapai dengan aman sementara kenyamanan
klien tetap dipertahankan
3. Klien dan
keluarga memahami terapi obat
4. Pemberian
obat secara mandiri dilakukan dengan aman.
D. Implementasi
1. Transkripsi yang benar dan
mengkomunikasikan program
Intervensi keperawatan berfokus pada
pemberian obat yang aman dan efektif
Intervensi dilakukan dengan menyiapkan obat secara cermat,memberikannya dengan benar, dan memberi penyuluhan
Intervensi dilakukan dengan menyiapkan obat secara cermat,memberikannya dengan benar, dan memberi penyuluhan
Perawat menulis program dokter dengan
lengkap. Program yang ditranskripsi meliputi nama, kamar, dan nomor tem[pat
tidur klien, nama, dosis dan waktu pemberian obat, serta rute pemberian
obat.Ketika mentranskripsi resep, perawat harus yakin bahwa nama, dosis dan
symbol obat dapat dibaca Perawat harus menyalin kembali setiap transkripsi yang
tercoret atau yang tidak terbaca. Perawat terdaftar membandingkan semua program
yang ditranskripsi dengan program yang asli untuk memastikan keakuratan dan
kelengkapannya
Komponen resep obat : Nama lengkap klien, tanggal, nama obat, dosis, rute pemberian, waktu dan frekuensi pemberian, tanda tangan dokter.
Komponen resep obat : Nama lengkap klien, tanggal, nama obat, dosis, rute pemberian, waktu dan frekuensi pemberian, tanda tangan dokter.
2. Kalkulasi Dan Perhitungan dosis yang
Akurat
Ketika mengukur obat cair, perawat
menggunakan wadah pengukur yang standar
Prosedur perhitungan obat dilakukan dengan sistematis untuk memperkecil kemungkinan terjadinya kesalahan Ketika mempersiapkan obat, perawat menghitung setiap dosis, memperhatikan kalkulasi dengan cermat, dan menghindari gangguan dari aktivitas keperawatan lain
Prosedur perhitungan obat dilakukan dengan sistematis untuk memperkecil kemungkinan terjadinya kesalahan Ketika mempersiapkan obat, perawat menghitung setiap dosis, memperhatikan kalkulasi dengan cermat, dan menghindari gangguan dari aktivitas keperawatan lain
3. Pemberian Dosis Yang Benar
Perawat menggunakan teknik aseptic dan
prosedur yang benar ketika menangani dan memberikan obat. Ketika obat tertentu
diberikan, perawat perlu melakukan pengkajian, misalnya mengkaji denyut nadi,
tekanan darah, temperature dll.
4. Mencatat Pemberian Obat
Perawat
mendokumentasikan obat yang diberikan, dikhawatirkan terjadi pemberian obat
ganda.Apabila obat tersebut tidak diberikan, misalnya klien menolak atau ada
kontraindikasi terhadap obat tersebut, maka informasi ini dimasukkan kedalam
catatan pengobatan.Pencatatan sebuah obat terdiri dari nama, dosis, rute
pemberian obat, dan waktu pemberian obat yang sebenarnya.Apabila seorang klien
menolak sebuah obat atau sedang menjalani pemeriksaan atau prosedur yang
membuat sebuah dosis terlewat, dalam catatan perawat, perawat menuliskan alasan
obat tersebut tidak diberikan. Perawat wajib melingkari dan menandatangani
(inisial) waktu pemberian obat yang diprogramkan pada catatan obat, ketika
suatu dosis terlewat.
5. Peningkatan Kesehatan Melalui
Penyuluhan Klien
Penyuluhan kepada klien adalah peran perawat
yang sangat penting Penyuluhan tentang obat adalah salah satu tipe penyuluhan
kesehatan diberikan oleh perawat Klien Diabetes, memerlukan obat sepanjang
hidupnya, perawat mengajarkan klien cara memantau terapi dan melakukan injeksi
insulin secara mandiri, komplikasi diabetes diperkecil dengan diet dan latihan
fisik, keduanya harus diajarkan kepada klien yang baru didiagnosis diabetes.
Informasi yang salah tentang pemberian obat, akan berakibat fatal terhadap klien
Informasi yang diberikan perawat adalah tentang tujuan pengobatan, kerja obat, dan efeknya.
Klien harus mempelajari pedoman dasar berikut supaya dapat menggunakan obat dengan aman di rumah :
Informasi yang salah tentang pemberian obat, akan berakibat fatal terhadap klien
Informasi yang diberikan perawat adalah tentang tujuan pengobatan, kerja obat, dan efeknya.
Klien harus mempelajari pedoman dasar berikut supaya dapat menggunakan obat dengan aman di rumah :
a. Simpan setiap
obat di dalam wadah aslinya yang berlabel.
b. Pastikan
label dapat dibaca
c. Buang obat
yang sudah kadaluarsa
d. Selalu
dihabiskan obat yang diresepkan
e. Buang obat
kedalam sebuah bak cuci piring atau ke toilet
f. Jangan
berikan obat yang diresepkan kepada anggota keluarga atau teman
g. Simpan obat
yang perlu didinginkan di lemari pendingin
6. Mempertahankan Hak Klien
Karena adanya risiko potensial yang
berhubungan dengan pemberian obat, seorang klien memiliki hak untuk :
a. Mengetahui
nama, tujuan, kerja obat, dan efek potensial yang tidak diinginkan
b. Menolak
sebuah obat, tanpa memperhatikan konsejuensinya
c. Meminta
perawat atau dokter berkualitas untuk mengkaji riwayat obat, termasuk alergi
d. Mendapat
nasihat yang benar berkenaan dengan sifat suatu terapi obat yang pernah muncul
dan memberi persetujuan untuk penggunaannya
e. Menerima obat
yang dilabel dengan aman tanpa merasa tidak nyaman sesuai degan lima benar
pemberian obat
f. Menerima
terapi pendukung yang diperlukan terkait dengan terapi obat yang dijalani
g. Tidak menerima obat yang tidak perlu.
g. Tidak menerima obat yang tidak perlu.
E. Evaluasi
Perawat memantau respons klien terhadap
obat secara berkesinambungan. Perawat harus mengetahui kerja terapeutik dan
efek samping yang umum muncul dari setiap obat
Perubahan kondisi klien dapat secara fisiologis berhubungan dengan status kesehatan
Perawat harus mewaspadai reaksi yang akan timbul ketika klien mengonsumsi beberapa obat.
Tujuan pemberian obat yang aman dan efektif dicapai melalui evaluasi cermat teknik dan respons klien terhadap terapi dan kemampuan klien mengemban tanggung jawab merawat diri sendiri.
Perubahan kondisi klien dapat secara fisiologis berhubungan dengan status kesehatan
Perawat harus mewaspadai reaksi yang akan timbul ketika klien mengonsumsi beberapa obat.
Tujuan pemberian obat yang aman dan efektif dicapai melalui evaluasi cermat teknik dan respons klien terhadap terapi dan kemampuan klien mengemban tanggung jawab merawat diri sendiri.
Langkah evaluasi untuk menentukan bahwa
tidak ada komplikasi yang terkait dengan rute pemberian obat :
1. Mengobservasi
adanya memar, inflamasi, nyeri setyempat, atau perdarahan di tempat injeksi
2. Menanyakan
klien tentang adanya rasa baal atau rasa kesemutan di tempat injeksi
3. Mengkaji
adanya gangguan saluran cerna, termasuk mual, muntah, dan diare pada klien
4. Menginspeksi
tempat IV untuk mengetahui adanya flebitis, termasuk demam, pembengkakan dan
nyeri tekan setempat.
Langkah Evaluasi untuk menentukan apakah
terapeutik obat yang diprogramkan telah dicapai dengan aman :
1. Menanyakan klien apakah ia mengalami
respons yang biasa timbul akibat penggunaan obat
2. Memantau respons klien terhadap obat (contoh, obat hipertensi/penurunan tekanan darah)
2. Memantau respons klien terhadap obat (contoh, obat hipertensi/penurunan tekanan darah)
Langkah Evaluasi untuk mempertahankan
keamanan dan kenyamanan klien :
1. Memantau efek samping atau toksik yang potensial, reaksi alergi, atau interaksi obat
2. Mengevaluasi klien selama 30 menit setelah diberi obat untuk mengetahui adanya gejala ketidaknyamanan.
1. Memantau efek samping atau toksik yang potensial, reaksi alergi, atau interaksi obat
2. Mengevaluasi klien selama 30 menit setelah diberi obat untuk mengetahui adanya gejala ketidaknyamanan.
Langkah Evaluasi untuk memahami terapi
obat :
1. Meminta klien menjelaskan tujuan,
kerja, dosis, jadwal pemberian obat, dan efek samping yang mungkin
2. Meminta klien menjelaskan waktu
setiap obat digunakan selama sehari
Langkah Evaluasi untuk menentukan
kemampuan klien menggunakan obat secara mandiri dan aman :
1. Mengobservasi klien saat
mempersiapkan dosis obat yang diprogramkan
2. Mengobservasi klien yang memberi dosis obat yang diprogramkan.
2. Mengobservasi klien yang memberi dosis obat yang diprogramkan.
.
Perawat
bertanggung jawab dalam pemberian obat – obatan yang aman . Perawat harus
mengetahui semua komponen dari perintah pemberian obat dan mempertanyakan
perintah tersebut jika tidak lengkap atau tidak jelas atau dosis yang diberikan
di luar batas yang direkomendasikan . Secara hukum perawat bertanggung jawab
jika mereka memberikan obat yang diresepkan dan dosisnya tidak benar atau obat
tersebut merupakan kontraindikasi bagi status kesehatan klien . Sekali obat
telah diberikan , perawat bertanggung jawab pada efek obat yang diduga bakal
terjadi. Buku-buku referensi obat seperti , Daftar Obat Indonesia ( DOI ) ,
Physicians‘ Desk Reference (PDR), dan sumber daya manusia , seperti ahli
farmasi , harus dimanfaatkan perawat jika merasa tidak jelas mengenai
reaksi terapeutik yang diharapkan , kontraindikasi , dosis , efek samping yang
mungkin terjadi , atau reaksi yang merugikan dari pengobatan ( Kee and
Hayes, 1996 ).
·
Enam Hal yang
Benar dalam Pemberian Obat
Supaya dapat tercapainya pemberian obat
yang aman , seorang perawat harus melakukan enam hal yang benar : klien yang
benar, obat yang benar, dosis yang bena, waktu yang benar, rute yang benar, dan
dokumentasi yang benar.
Pada waktu lampau, hanya ada lima hal
yang benar dalam pemberian obat. Tetapi kini ada hal keenam yang
dimasukkan yaitu dokumentasi. Dua hal tambahan klien juga dapat ditambahkan :
hak klien untuk mengetahui alasan pemberian obat, hak klien untuk menolak
penggunaan sebuah obat.
Klien yang benar dapat dipastikan
dengan memeriksa identitas klien, dan meminta klien menyebutkan namanya
sendiri. Beberapa klien akan menjawab dengan nama sembarang atau tidak
berespon, maka gelang identifikasi harus diperiksa pada setiap klien pada
setiap kali pengobatan. Pada keadan gelang identifikasi hilang, perawat harus
memastikan identitas klien sebelum setiap obat diberikan.
Dalam keadaan dimana klien tidak memakai
gelang identifikasi (sekolah, kesehatan kerja, atau klinik berobat jalan),
perawat juga bertanggung jawab untuk secara tepat mengidentifikasi setiap orang
pada saat memberikan pengobatan.
Obat yang benar berarti klien
menerima obat yang telah diresepkan. Perintah pengobatan mungkin diresepkan
oleh seorang dokter, dokter gigi, atau pemberi asuhan kesehatan
yang memiliki izin praktik dengan wewenang dari pemerintah. Perintah melalui
telepon untuk pengobatan harus ditandatangani oleh dokter yang menelepon
dalam waktu 24 jam. Komponen dari perintah pengobatan adalah : (1) tanggal dan
saat perintah ditulis, (2) nama obat, (3) dosis obat, (4) rute pemberian, (5)
frekuensi pemberian, dan (6) tanda tangan dokter atau pemberi asuhan
kesehatan. Meskipun merupakan tanggung jawab perawat untuk mengikuti perintah
yang tepat, tetapi jika salah satu komponen tidak ada atau perintah pengobatan
tidak lengkap, maka obat tidak boleh diberikan dan harus segera menghubungi dokter
tersebut untuk mengklarifikasinya ( Kee and Hayes, 1996 ).
Untuk menghindari kesalahan, label obat
harus dibaca tiga kali : (1) pada saat melihat botol atau kemasan obat, (2)
sebelum menuang / mengisap obat dan (3) setelah menuang / mengisap obat.
Perawat harus ingat bahwa obat-obat tertentu mempunyai nama yang bunyinya
hampir sama dan ejaannya mirip, misalnya digoksin dan digitoksin, quinidin dan
quinine, Demerol dan dikumarol, dst.
Dosis yang benar adalah dosis yang
diberikan untuk klien tertentu. Dalam kebanyakan kasus, dosis diberikan dalam
batas yang direkomendasikan untuk obat yang bersangkutan. Perawat harus
menghitung setiap dosis obat secara akurat, dengan mempertimbangkan variable
berikut : (1) tersedianya obat dan dosis obat yang diresepkan (diminta), (2)
dalam keadaan tertentu, berat badan klien juga harus dipertimbangkan, misalnya
3 mg/KgBB/hari.
Sebelum menghitung dosis obat, perawat
harus mempunyai dasar pengetahuan mengenai rasio dan proporsi. Jika ragu-ragu,
dosis obat harus dihitung kembali dan diperiksa oleh perawat lain.
Waktu yang benar adalah saat dimana obat
yang diresepkan harus diberikan. Dosis obat harian diberikan pada waktu
tertentu dalam sehari, seperti b.i.d ( dua kali sehari ), t.i.d ( tiga
kali sehari ), q.i.d ( empat kali sehari ), atau q6h ( setiap 6 jam ), sehingga
kadar obat dalam plasma dapat dipertahankan. Jika obat mempunyai waktu paruh (t
½ ) yang panjang, maka obat diberikan sekali sehari. Obat-obat dengan waktu
paruh pendek diberikan beberapa kali sehari pada selang waktu yang tertentu .
Beberapa obat diberikan sebelum makan dan yang lainnya diberikan pada saat
makan atau bersama makanan ( Kee and Hayes, 1996 ; Trounce, 1997)
Implikasi dalam keperawatan mencakup :
1. Berikan
obat pada saat yang khusus. Obat-obat dapat diberikan ½ jam sebelum atau
sesudah waktu yang tertulis dalam resep.
2. Berikan
obat-obat yang terpengaruh oleh makanan seperti captopril, sebelum makan
3. Berikan
obat-obat, seperti kalium dan aspirin, yang dapat mengiritasi perut ( mukosa
lambung ) bersama-sama dengan makanan.
4.
Tanggung jawab perawat untuk memeriksa apakah klien telah dijadwalkan untuk
pemeriksaan diagnostik, seperti endoskopi, tes darah puasa, yang merupakan
kontraindikasi pemberian obat.
5. Periksa
tanggal kadaluarsa. Jika telah melewati tanggalnya, buang atau kembalikan ke
apotik ( tergantung peraturan ).
6.
Antibiotika harus diberikan dalam selang waktu yang sama sepanjang 24 jam (
misalnya setiap 8 jam bila di resep tertulis t.i.d ) untuk menjaga kadar darah
terapeutik.
Rute yang benar
perlu untuk absorpsi yang tepat dan memadai. Rute yang lebih sering dari
absorpsi adalah (1) oral ( melalui mulut ): cairan , suspensi ,pil , kaplet ,
atau kapsul . ; (2) sublingual ( di bawah lidah untuk absorpsi vena ) ;
(3) topikal ( dipakai pada kulit ) ; (4) inhalasi ( semprot aerosol ) ;
(5)instilasi ( pada mata , hidung , telinga , rektum atau vagina ) ; dan empat
rute parenteral : intradermal , subkutan , intramuskular , dan intravena.
Implikasi dalam
keperawatan termasuk :
a.
Nilai kemampuan klien untuk menelan obat sebelum memberikan obat – obat per
oral
b.
Pergunakan teknik aseptik sewaktu memberikan obat . Teknik steril dibutuhkan
dalam rute parenteral .
c.
Berikan obat- obat pada tempat yang sesuai .
d.
Tetaplah bersama klien sampai obat oral telah ditelan.
Dokumentasi yang
benar membutuhkan tindakan segera dari seorang perawat untuk mencatat informasi
yang sesuai mengenai obat yang telah diberikan . Ini meliputi nama obat ,
dosis , rute , waktu dan tanggal , inisial dan tanda tangan perawat .
Respon klien terhadap pengobatan perlu di catat untuk
beberapa macam obat seperti (1) narkotik – bagaimana efektifitasnya dalam
menghilangkan rasa nyeri – atau (2) analgesik non-narkotik, (3) sedativa,
(4) antiemetik (5) reaksi yang tidak diharapkan terhadap pengobatan, seperti
irigasi gastrointestinal atau tanda – tanda kepekaan kulit. Penundaan dalam
mencatat dapat mengakibatkan lupa untuk mencatat pengobatan atau perawat
lain memberikan obat itu kembali karena ia berpikir obat itu belum
diberikan (Taylor, Lillis and LeMone, 1993 ; Kee and Hayes, 1996 ).
·
Hak – Hak
Klien dalam Pemberian Obat
1. Hak
Klien Mengetahui Alasan Pemberian Obat
Hak
ini adalah prinsip dari memberikan persetujuan setelah mendapatkan informasi (
Informed concent ) , yang berdasarkan pengetahuan individu yang diperlukan
untuk membuat suatu keputusan .
2. Hak
Klien untuk Menolak Pengobatan
Klien
dapat menolak untuk pemberian suatu pengobatan . Adalah tanggung jawab perawat
untuk menentukan , jika memungkinkan , alasan penolakan dan mengambil langkah –
langkah yang perlu untuk mengusahakan agar klien mau menerima pengobatan . Jika
suatu pengobatan dtolak , penolakan ini harus segera didokumentasikan. Perawat
yang bertanggung jawab, perawat primer, atau dokter harus diberitahu jika
pembatalan pemberian obat ini dapat membahayakan klien, seperti dalam pemberian
insulin. Tindak lanjut juga diperlukan jika terjadi perubahan pada hasil pemeriksaan
laboratorium , misalnya pada pemberian insulin atau warfarin ( Taylor,
Lillis and LeMone, 1993 ; Kee and Hayes, 1996 ).
Berdasarkan
hal-hal tersebut di atas, jelaslah bahwa pemberian obat pada klien merupakan
fungsi dasar keperawatan yang membutuhkan ketrampilan teknik dan pertimbangan
terhadap perkembangan klien. Perawat yang memberikan obat-obatan pada klien
diharapkan mempunyai pengetahuan dasar mengenai obat dan prinsip-prinsip dalam
pemberian obat
K. Kesalahan Pengobatan
Kesalah
pngobatan adalah suatu kejadian yang dapt membuat klien menerima obat yang salah atau tidak mendapat terapi obat yang
tepat. Kesalahan pengobatan dapat dilakukan oleh setiap individu yang terlibat
dalam pembuatan resep, transkripsi, persiapan, penyaluran, dan pemberian obat.
Sistem penyaluran obat di rumah sakit harus di rancang supaya ada sebuah sitem
pemeriksaan dan keseimbangan. Hal ini akan membantu mengurangi kesalahan
pengobatan.
Perawat juga bertanggung jawab melengkapi
laporan yang menjelaskan sifat insiden tersebut. Laporan insiden bukan
pengakuan tentang suatu kesalahan atau
menjadi dasar untuk member hukuman dan bukan merupakan bagian catatan
medis klien yang sah. Laporan ini merupakan analisis objektif tentang apa yang
terjadi dan merupakan penatalaksanaan risiko yang dilakukan institusi untuk
memantau kejadian semacam ini. Laporan kejadian membantu komite intedisiplin
mengidentifikasi kesalahan dan menyelesaikan masalah system di rumah sakit yang
mengakibatkan terjadinya kesalahan
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Obat dapat diberikan dengan berbagai cara disesuaikan dengan kondisi pasien, diantaranya : sub kutan, intra kutan, intra muscular, dan intra vena. Dalam pemberian obat ada hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu indikasi dan kontra indikasi pemberian obat. Sebab ada jenis-jensi obat tertentu yang tidak bereaksi jika diberikan dengan cara yang salah.
B. SARAN
Setiap obat merupakan
racun yang yang dapat memberikan efek samping yang tidak baik jika kita salah
menggunakannya. Hal ini tentunya dapat menimbulkan kerugian bahkan akibatnya
bias fatal. Oleh karena itu, kita sebagai perawat kiranya harus melaksanakan tugas
kita dengan sebaik-baiknya tanpa menimbulkan masalah-masalah yang dapat
merugikan diri kita sendiri maupun orang lain.
Gold Strike Tunica Rooms & Suites - Riders Casino 10cric login 10cric login クイーンカジノ クイーンカジノ 메리트 카지노 쿠폰 메리트 카지노 쿠폰 2368Star Casino Hotel | Thtopbet
BalasHapus